Tuesday, May 03, 2011

Last Post? Or Maybe Not

Well guys,

Gw memutuskan nggak akan meneruskan blog ini. Lewat pertimbangan yang panjang. Sangat panjang.

Ada beberapa alasan. Dan bagi gw pribadi sih, semuanya kuat.

Banyak hal yang terjadi belakangan ini. Alurnya terlalu cepat, saat gw siap menulis sudah ada hal baru yang berkembang. Dan atmosfir kebebasan berpendapat sama sekali tidak imbang di Indonesia. Mudahnya akses internet kadang tidak disertai dengan pembinaan kecerdasan berinternet juga. Beberapa kelompok masyarakat yang baru saja mengenal internet lebih sering menggunakannya untuk trolling or whatever it is.

Blog ini adalah tempat gw menuangkan pikiran yang kritis. Dan di negeri ini para pemikir kritis lebih sering jadi bahan hujatan ketimbang jadi bahan inspirasi. Gw mungkin akan menulis lagi, disini, mungkin juga tidak.

Well, if you really like my posts, mungkin kita bisa ketemu lagi di jagat internet, you know my writing style.

Saturday, May 31, 2008

Harga BBM Bandingannya Jangan Singapura Dong!

Gw nulis ini setelah nonton berita. Perang antara kelompok mahasiswa dan polisi. Penyebabnya kenaikan harga BBM. Wek.

Lempar-lemparan batu. Bakar ban tutup jalan. Mahasiswa digebukin. Polisi masuk kampus. Demo dimana-mana. Bosen, anjrit.

Gw hidup di negeri apaan sih. Sayang aja nggak ada jalan buat keluar dari sini. Bukan berarti gw nggak mencintai negeri ini. Gw sampai mati seorang nasionalis ke tulang-tulang. Tapi gw nggak tega buat ngebiarin anak cucu gw ikutan menderita.

Gw nggak tega nanti anak gw harus stress menggila demi ngadepin UN. Gw nggak mau dia jadi korban pergaulan nggak bener di dalam negeri (dan orang selalu bilang kalo pergaulan di luar negeri itu nggak bagus) Gw nggak mau ngegadein rumah demi ngebayar biaya kuliah yang makin amit-amit. Gw nggak mau ngeliat dia lulus jadi pengangguran terdidik. Dan gw nggak mau nanti cucu gw mengulang kisah yang sama.

Andaikata Juru Selamat harus turun, gw rasa sekarang saatnya. Apabila dia emang ada.

Masih gw inget. 10 tahun yang lalu orang-orang menghadapi reformasi rezim Orde Baru. Ada gossip santer mengenai Satrio Piningit. Seorang penyelamat dalam kepercayaan Jawa, yang bakal keluar to save the day saat keadaan makin parah. But what we got here?

Nggak ada tuh. There’s no such a thing like a hero, here. Dan seandainya Juru Selamat itu bener-bener ada, gw harap dia perempuan. Bukan kenapa-kenapa, sejauh ini belom ada ceritanya gw ngelihat cewek sebagai pelaku tawuran masal antara polisi, mahasiswa, politikus, satpol PP, dll. Biasanya laki-laki. Lebih gampang pakai otot daripada pakai otak. Dan karena banyak orang kelaparan, maka makin susah otak dipake.

Nah, gw nggak pengen ngebahas mengenai ketidaksetaraan gender disini. Gw mau ngomongin soal BLT. Bantuan Langsung Tewas.

Wapres tercinta kita Joseph Kyle (you know who lah) mengatakan bahwa dengan naiknya harga BBM, maka anggaran masyarakat miskin ‘paling-paling’ naik sekitar 50-60 ribu per bulan. Dan negara memberikan seratus ribu rupiah per bulan. Dan dia berpikir bahwa dengan begitu negara menjadi pahlawan… o em ji…

Buat dia emang segitu nggak banyak. Tapi buat orang-orang yang penghasilannya emang dibawah garis kemiskinan, mau bilang apa? Tarohlah seorang supir angkot, dia bisa bawa pulang 30 ribu rupiah perhari. Kalo dia kerja full tanpa hari istirahat, dia bisa dapat 30 ribu x 30 hari = sekitar 900 ribu rupiah.

Dari 900 ribu rupiah ini dia bisa beli apa? Harga makanan yang dipesan oleh salah satu Menteri Negara saat dijamu sama bokap gw aja nggak segitu. Dia mesen menu yang harganya satu juta rupiah satu set, itu juga nggak abis. Sayangnya kantor bokap gw bukan yang tajir. Sektor yang harusnya didukung total pemerintah tapi diinget juga boro-boro.

Balik lagi. Ke supir angkot dan 900 ribu. Dikasih BLT. Jadi genap satu juta per bulan. Aduh, satu juta di Indonesia haregene bisa buat apa siiiiih? BLT itu buat 3 bulan, tentunya abis buat sehari lah. Buat beli minyak tanah, beras, bayar utang... yang bener aja... sementara itu yang bagi-bagi BLT menganggap diri sebagai pahlawan...

Males gw itung-itungan. BLT sejak awal dari tahun 2005 dulu menurut gw itu praktek tergila sepanjang sejarah manusia di dunia.

Negara MENYOGOK rakyatnya sendiri.

Gila.

Rakyat miskin disogok supaya nggak demo. Mereka dipermainkan dengan cara dikasih uang. Biar diem. Biar merasa masih beruntung. Nggak sadar kalo mereka lagi diumpan ke mulut buaya.

Si Joseph Kyle emang hebat. Dia pikir dengan BLT rakyat terbantu. Emangnya dia pikir bahan makanan nggak pada naek semua apa? Dia sih enak, mana kerasa, lha dia pengusaha kaya raya gemah ripah loh jinawi. Sehari makan abis sepuluh juta barangkali dia masih bisa hidup. Sayangnya nggak semua orang Indonesia seberuntung dia.

Dan pernyataan terhebat dari Bapak wapres Joseph Kyle yang lebih hebat lagi adalah.

Dia menyerukan warga penerima BLT untuk memerangi para pendemo.

Ya Tuhan… sadar gak dia kalo pemimpin yang nyusahin rakyatnya itu pantesnya diganjar pake neraka?

Dari awal emang sih, Joseph Kyle ini suka asal njeplak. Dia pernah mencap anak Indonesia bego abis (kecuali anaknya, kan disekolahin di luar negeri), pernah menawarkan orang Arab buat ngawinin wanita Indonesia supaya anaknya jadi artis sinetron, pernah juga masuk ke kampus gw dan membuat satu kampus lumpuh total gara-gara Paspampres rese. Yang di dalem gak bisa keluar, yang diluar gak bisa masuk, ujian batal, praktikum batal, sedangkan dia nggak ngapa-ngapain juga. Kaco.

Hehehe. Yang lucu lagi gw baca di Koran Kompas hari ini. Joseph Kyle dan Menteri Batere (Energy and Mineral Resources) Mr. Fullmoon You’s G And Toro (you know who juga lah silakan mikir dikit buat mecahin teka-teki nama) menyatakan bahwa harga BBM Indonesia itu termasuk paling murah se Asia Tenggara. Dan menyatakan bahwa di Singapura, harga bensin 15 ribu.

Geblek, bandingan kok Singapura. Kita belom selevel sama mereka. Kalo bandingannya Ethiopia atau Nigeria baru pantes kali. Kita negara miskin bung, standarnya apa kok berani menyamakan diri dengan Singapura dalam sektor ekonomi?

Menurut tulisan Bp. Tjipta Lesmana di rubrik Opini KOMPAS 27 Mei 2008 nih, termuat beberapa perbandingan harga BBM Indonesia dan seluruh dunia.

Singapura. Harga BBM-nya US $ 1.5 berarti sekitar 15 ribu kurang dikit. Hallo… pendapatan per kapita orang Singapura itu 25000 dollar Amerika setahun. Dua ratus lima puluh juta rupiah! Mana kerasa lah harga BBM 1,5 dolar ajah. Udah gitu di Singapura infrastruktur bagus, mass rapid transportation bagus, ketertiban lalu lintas luar biasa, disiplin masyarakatnya tinggi, dan kemana-mana nggak jauh… masa iya mau dijadiin bandingan, ngelindur nih pak wapres…

Pendapatan perkapita rata-rata orang Indonesia setahun nggak ada sepersepuluh orang Singapura… kita Cuma berpendapatan US $ 1500 pertahun… itu juga udah dirata-rata loh, berarti yang duitnya gede ditambah dengan yang duitnya kecil terus dibagi jumlah penduduk usia aktif… aduuuuuu…. Huhuhuhu… mau dibandingin sama Singapura…

Siapa sih yang dulu milih pasangan nomor tiga supaya jadi presiden? Gw inget nggak milih waktu itu, dan gw bersyukur karena terhindar dari penyesalan mendalam. Jaman Soeharto masih LEBIH ENAK daripada jaman sekarang. Harga bensin masih lebih murah daripada harga sekaleng Coca Cola. Harga Chiki cuma 300 rupiah. Harga komik cuma 3300 rupiah. Harga permen 100 rupiah dapat 4. Ongkos angkot anak SD jarak dekat 100 rupiah. Dulu gw bisa hidup foya-foya dengan uang jajan 5000 rupiah seminggu

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku rakyatku semuanya…
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…

Wednesday, April 30, 2008

UN Dan Tangis.

Gw ngetik ini sambil mendengar berita mengenai pelaksanaan UN hari pertama.


Salah satu televisi swasta pengajak stress memberitakan bahwa UN hari pertama disambut dengan tangis oleh para siswa. Mereka kesulitan mengerjakan soal Matematika dan takut tidak bisa mencapai kuota nilai 5,25. Mereka mengaku nggak yakin dengan hasil kerja mereka dan takut nggak lulus. Di koran, ada komentar seorang remaja yang berkata 'Emangnya bapak-bapak pejabat di depdiknas anaknya nggak pada pusing UN ya? Kok tega sih?'


Dan gw pengen bisa ngomong balik ke si remaja itu 'Emangnya bapak-bapak pejabat itu bakal membiarkan anaknya sekolah di sini?! Pasti keluar negeri lah, atau gimana kek caranya pasti gampang lolos UN, bapaknya pejabat diknas ini.' Hmm, sinis sih.


Wew… somehow, gw bisa ngerti. Masalah yang para remaja Indonesia tengah hadapi adalah masalah dengen jumlah berlipat. Di usia remaja mereka sudah mengalami stress yang gila-gilaan.


Apa sih yang bikin mereka bisa stress? Gw nyoba mikirin beberapa teori.


Satu, sejak awal kejiwaan mereka sudah tertekan dengan berbagai macam permasalahan yang simpang siur mengenai UN. Dari mulai naik kelas, mereka sudah dijejali dengan penggambaran bahwa UN itu susah. UN itu menakutkan. UN itu hidup atau mati. UN adalah pertaruhan nasib. UN adalah sulit ditembus. UN adalah setan. UN adalah… bla… bla… bla… pikirkan segala macam sumber ketakutan lainnya.


Anak-anak tersugesti untuk takut dengan UN. Alhasil, saat hari H UN datang, mereka menghadapinya dengan tegang dan takut. Kalah mental. Analogi gampangnya gini. Seorang yang super berani bin nekat pun akan takut apabila dia diberitahu bahwa besok dia bakal dikeroyok orang sekampung. Dan dia punya dua pilihan, kabur dari kampung itu atau hadapi dengan resiko bakal kalah jumlah dan babak belur.


Untuk anak-anak peserta UN, kabur jelas gak mungkin. Ini persimpangan masa depan mereka. Satu-satunya cara, jelas menghadapi. Tapi sekali lagi. Mereka sudah kalah di mental. Ketidakpercayaan diri dan ketakutan terhadap mata pelajaran tertentu jadi alasan utamanya. Hmmm…. Matematika…


Faktor Kedua, mereka terlalu lelah belajar dengan hanya fokus terhadap mata pelajaran yang dijadikan materi UN. Mereka jenuh. Jam pelajaran pun ditambah untuk mempelajari mata pelajaran itu. Enek.


Peduli mampus sama agama, peduli setan sama pelajaran moral, peduli amat sama etika dan tata krama. Sori, gak ada waktu buat mikirin gituan. Enakan clubbing, stress tau.


Buat anak yang otak kanannya lebih jalan, mereka MATI di kelas 3 SMU. Bakat nyanyi, bakat lukis, bakat menari, bakat musik, dan ribuan bakat lainnya kandas karena itu nggak bisa ngebantu mereka buat lulus UN. Boleh aja punya seribu piala tapi kalo gak lulus UN, tu piala gak ada harganya.


Lelah belajar, otak jenuh. Apalagi jika terpaksa harus melakukan hal yang dibenci. Alhasil saat UN mereka berangkat dari rumah dengan hati berat. Segan. Takut. Dan ketidakyakinan dalam pengerjaan.


Faktor ketiga, yang bikin standar 5,25 beneran nggak tahu diri. Entah apa yang ada di pikiran si pencetus ide dan si pengambil keputusan. Semua orang tahu mutu pendidikan di Indonesia belum rata. Dan kualitas penunjang pendidikan masih agak menyedihkan.


Gw nggak tahu si pencetus ide dan para pengambil keputusan yang menetapkan standar 5,25 itu sekolah dimana. Mereka mungkin beruntung pas masih kecil masih banyak lapangan, mereka bisa bermain dan bebas dari stress sementara buat anak sekarang main di lapangan adalah kemewahan. Selain ga ada tempat, pulang sekolah ada les lagi. Mereka mungkin beruntung punya ortu care yang menyekolahkan mereka di tempat terbaik saat itu. Gedungnya baru dibangun, sistem pendidikannya masih beres.


Ada sekolah yang dari sananya emang elite, mahale, dan muridnya pinter-pinter. Standar 5,25 mungkin gampang buat mereka. Dan untuk sekolah yang seperti itu, jelas, mutu sebanding dengan harga. Mereka punya orang tua yang mau membayar mahal untuk kualitas guru yang lebih tinggi, metode pembelajaran yang modern dan sesuai untuk siswa, juga fasilitas dan gedung yang mendukung. Dan tentunya mereka mampu untuk membayar les mahal. Biaya les gw dulu cuma 1,5 juta, sekarang 10 juta lebih. Edan.


Itu yang elite. Lah, apa kabar buat anak-anak yang gedung sekolahnya bocor, hampir ambruk, bayaran nunggak 5 bulan, buku nggak punya, dan sepulang sekolah masih harus membantu orang tua untuk mencari uang? Nyari beasiswa? Beuh, ngurus paspor buat jadi TKI aja masih lebih gampang daripada ngurus beasiswa (oke, nggak semua prosedur susah sih, tapi gw sendiri ngalamin repotnya ngurus beasiswa dan ujung-ujungnya gak jadi karena ternyata harus bikin surat keterangan miskin, gw emang gak kaya, tapi entah kenapa nggak ada orang yang mau percaya).


Tentunya nggak adil kalo kualitas pendidikan di seluruh Indonesia didasarkan pada sekolah elite yang jumlahnya cuma segelintir.


Faktor keempat. Sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang sangat... yeah, jauh dari memadai Gak usah jauh-jauh, waktu gw kuliah tingkat tiga, lab komputer di jurusan gw tiap ujan pasti banjir, dari 10 komputer yang ada disitu yang bisa nyambung ke internet Cuma tiga. Yang bisa dipake cuma… ah, sedihlah. Itu di institut teknologi loh. Entah kenapa rektoratnya cuma bisa nyegelin himpunan demi manjain para mahasiswa baru yang bayarnya 45 juta ke atas (dan begitu lulus jadi karyawan dengan gaji 1,5 juta perbulan)


Yeah, gw beruntung pas masih sekolah di tingkat SMU dan SLTP. Gw sekolah di tempat yang bagus, dalam artian belum bocor belum ambruk dan pada akhirnya sekolahnya direnovasi atas biaya alumni. Yeah, you read me well, ATAS BIAYA ALUMNI. Kalo nunggu dana dari pemerintah mah SAMPE KAPAN JUGA GAK AKAN TURUN. Jadi intinya, partisipasi masyarakat adalah penting.


Jangan tunggu sampe ambruk, ambil palu, ambil kayu, patungan rame-rame semua orang tua murid, dan BANGUN SENDIRI SEKOLAHMU. Jangan tunggu ketimpa genteng terus manggil wartawan tv. Dan jangan lupa, setelah dibangun mbok ya DIRAWAT.


Faktor kelima, metode pembelajaran yang sudah perlu diperbarui. Kurikulum selalu ganti tiap kali ganti menteri. Tapi kualitas nggak ganti. Guru-guru mengajar dengan metode yang sama selama bertahun-tahun. Betapa gw sangat iri dengan sistem pembelajaran di luar negeri. Moving class. Siswa BEBAS mengambil mata pelajaran apapun yang dia inginkan selain yang wajib. Dan metodenya adalah aktif eksperimental. Guru nggak cuma ngobrol sama papan tulis, ngasih pe-er ngasih ujian blas. Guru sebagai mentor, pembimbing. Siswa yang aktif bertanya dan menjawab di kelas, tugas yang diberikan bukan soal tertulis berlembar-lembar. Oh, betapa gw iri.


Di luar negeri yang namanya internet udah bahan makanan sehari-hari. Orang mungkin akan dianggap alien jika nggak tahu internet. Setiap anak punya komputer sendiri dan jika ada kesulitan dengan tugas tinggal tanya sama Google atau hubungi langsung gurunya lewat e-mail atau instant messenger.


Disini apa kabar… internet dipake cuma buat buka friendster -__- dan yang baca post gw yang berjudul ‘Apa Kabar Penerus Bangsa’ tentunya tahu mengenai pendapat gw tentang ini. Oke, gw akui anak remaja sekarang kualitas melek teknologinya udah lumayan. Lumayan nggak merata maksudnya. Yang ngerti internet dan make buat ngerjain tugas paling cuma sebagian kecil. Sisanya make buat friendster dan maen game online. Sedangkan yang dari awal emang nggak ngerti dan takut make internet, ya sudah. Doom.


Faktor keenam, faktor biologis. Anak-anak perempuan yang sedang menstruasi terbukti mengalami penurunan kemampuan dalam mengolah angka-angka, yang jelas tidak menguntungkan apabila seorang anak perempuan menstruasi saat menghadapi UAN matematika atau ekonomi.


Anak yang tegang nggak akan bisa berpikir. Semua hafalan yang ada di otak akan secara otomatis terhapus. Konsentrasi terhambat. Dan saat tegang biasanya anak tidak bisa makan. Dan tidak sarapan pada saat UN adalah FATAL karena menghilangkan kemampuan otak untuk berpikir serta menurunkan kualitas kinerja tubuh. Dan sekalipun bisa sarapan, jika menu makan tidak seimbang, nutrisi yang dibutuhkan otak tidak terpenuhi, alhasil kemampuan berpikir tidak optimal.


Dan harga pangan sekarang ini tengah naik tinggi. Belom lagi yang sakit pada saat UN.


Hhhh… kalo gene sih biar sampe jadi desertasi ni tulisan gak akan selesai-selesai dong kalo mau diterusin…


Intinya… gw sendiri mengalami brengseknya UN. Gw sendiri mengalami betenya dapet nilai ngepas di Ekonomi, 5,63 bo. Waktu itu standarnya masih 4,00. Nilai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris gw yang hampir sempurna ngedongkrak nilai gila-gilaan. Itu belom termasuk lelahnya UAS. Hehehe.


Dan itu belom selesai, belom termasuk SPMB (yang tidak gw ikuti padahal udah bayar), menghadapi ujian saringan masuk PTN, pusing ngitung biaya masuk kuliah, dan lain sebagainya. Kalo gw ngeluh terus kapan mau selesai. Hehehe.


Gw melewati UN di kelas 3 SMU dengan selamat. Teman sebangku gw, Eko, dia nggak lulus karena nilai Ekonominya 3,93. Ya Tuhan… padahal nilai rapornya naik 12 poin! Gw tahu karena dia duduk di samping gw dengan tujuan pengen belajar dengan baik dan benar. He did it. Dia mengalami kemajuan pesat. Tapi karena UN itu dia terjegal. Dulu masih ada remedial buat UN, sekarang kan gak ada. Gak lulus UN ya ngulang setahun. Ngulang eneknya. Ngulang keselnya. Ngulang bayar sekolahnya. Dulu gw dengdam mampus sama menteri pendidikan waktu itu… siapa itu ya, namanya. Entahlah, tapi gw pengen bilang buat pak menteri, jadilah menteri yang baik, karena kekuatan sumpah berlumur dendam itu mengerikan.


Hmm, apa ya yang bakal gw lakukan kalo gw jadi menteri pendidikan?


Satu, gw bakal hapuskan UN. Standar kelulusan adalah tergantung prestasi siswa sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMU. Apabila diatas ‘garis kemiskinan’ yaaaa, luluslah dia. Jadi para siswa tidak dibiasakan jadi pelajar karbitan, yang digenjot cuma saat UN dekat dan tidak hanya dijejali beberapa jenis mata pelajaran aja. Mereka akan dinilai sepanjang tiga tahun penuh. So, penilaian jadi objektif karena berdasarkan pada kestabilan prestasi.


Dua, gw bakal mewajibkan penggunaan buku pelajaran yang bisa digunakan sampai dengan minimal 5 tahun. Jadi buku bisa diwariskan oleh siswa kepada adik atau saudaranya, tanpa perlu mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk beli buku baru. Selain hemat, juga melestarikan lingkungan. Revisi hanya bila ada terobosan fundamental.


Tiga, gw bakal menitikberatkan pendidikan di sektor agama, moral dan etika, dan pendidikan berbasis otak kanan. Dua hal pertama sekarang ini kadarnya sudah semakin menipis kalo dilihat dari perilaku manusia Indonesia. Pendidikan antikorupsi dan kecintaan terhadap tanah air akan ditanamkan sejak TK. Lagu-lagu kebangsaan dan penguasaan kesenian daerah akan dijadikan salah satu materi ujian.


Empat, pendidikan akan sarat teknologi dan kompetensi. Guru diposisikan sebagai pembimbing. Murid yang harus aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Penguasaan internet sebagai alat bantu pembelajaran adalah wajib di tingkat SLTP ke atas. Materi yang diberikan pada siswa memiliki perbandingan 30% teori dan 70% sisanya adalah praktek. Terbukti bahwa apa yang dilihat, didengar, dan dipraktekkan lebih bisa diingat ketimbang mendengar dan mencatat tanpa pernah mencoba melakukan.

Lima, mengkaji ulang standar mutu pendidikan di Indonesia. Tidak menyamaratakan selama mutu pendidikan di pusat tidak sama dengan di daerah pedalaman. Memastikan pemerintah memfasilitasi sarana dan prasarana pendidikan hingga yang terkecil.


Enam, menghapuskan ujian saringan masuk ke PTN yang mengadakan ujian mandiri. Entah wewenang gw atau bukan kalo gw jadi menteri pendidikan, yang pasti gw bakal nyari cara menghapuskan USM. Terbukti hanya menguntungkan anak pejabat atau anak-anak yang bapaknya boker duit. USM hanya akan menghabisi kesempatan anak-anak yang pintar tapi kurang beruntung untuk bisa menikmati pendidikan tinggi yang bagus. Semua PTN akan memakai jalur yang sama. Satu. Sejenis SPMB.


Tujuh, memastikan biaya sekolah murah. Gw nggak terlalu setuju dengan sistem sekolah gratis, karena ada masyarakat yang nggak menganggapnya terlalu penting. Yang ada malah rasa tanggung jawab untuk pergi ke sekolah jadi berkurang karena orang bisa aja berpikir “Ah, sekolah gratis ini.” Dan menganggapnya kurang penting dibanding mencari uang. Sekalipun cuma lima ribu rupiah per bulan, setidaknya masyarakat bisa berpikir “Saya sudah membayar uang sekolah, jadi anak saya harus mendapatkan haknya untuk menikmati pendidikan, sayang uangnya kalo nggak.” Sekalipun bayar, itu bukan untuk nyari duit, tapi untuk memastikan adanya rasa tanggung jawab di masyarakat.


Delapan, memasukkan kewirausahaan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Supaya anak-anak sejak dini tidak terbentuk menjadi ‘bermental karyawan’, dalam artian lulus sekolah cari kerja. Pendidikan Kewirausahaan dimaksudkan supaya nantinya mereka bisa memiliki ‘mental pengusaha’, dalam artian lulus sekolah BIKIN lapangan kerja. Dan sebaiknya dalam industri padat karya, bukan padat modal seperti yang banyak kejadian di negeri ini sekarang.


Sembilan, membebaskan siswa untuk memilih jalan hidup mereka. Dalam artian memberi kebebasan mereka untuk memilih pelajaran yang memang ingin mereka tekuni. Jika seorang anak memang memiliki bakat seni dan ingin berkarier disana, maka dia bisa masuk kelas-kelas yang sesuai tanpa harus menyiksa diri dengan ilmu yang ‘nggak terpakai saat berkarier’. Untuk apa seorang anak yang menekuni seni tarik suara mempelajari persamaan linear atau menghitung gaya sentripetal planet? Apabila seorang anak menyukai sains, maka silakan saja dia ikut kelas Mafia (matematika fisika kimia) dan nggak perlu ikut kelas Sosiologi. Gw sendiri, gw mempelajari hitungan indeks harga saham gabungan tapi ujung-ujungnya berkutat dengan photoshop… Oh, tentunya Bahasa Indonesia, Sejarah, dan pemahaman Wawasan Nusantara adalah wajib.


Masih banyak sih yang pengen gw tulis. Tapi biasanya makin banyak yang gw tulis banyak juga orang yang bakal berkata ‘Ah, lo cuma ngemeng doang.’ Atau bilang ‘Lo pikir lo yang paling pinter?’ atau mungkin gw bakal menerima kata-kata ‘Hebat lo, bisa bikin program kayak gini, emang siapa lo?’ Dan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia akademisi mungkin bakal mencibir begitu baca karena mereka ‘paling tahu semuanya soal pendidikan sedangkan gw siapa sih’. Hwell…


Gw nulis ini karena gw tahu rasanya sebagai pelajar, tokoh ‘victim’ kalo ini sinetron. Dan gw nggak pengen nanti generasi di bawah gw terus tersiksa karena sistem pendidikan yang sekarang ini. Sebagai gambaran, setiap anak yang lahir sekarang ini membutuhkan dana sekitar Rp 1,5 Miliar hanya untuk pendidikan, dengan asumsi dia masuk ke sekolah terbaik sejak TK hingga perguruan tinggi lewat jalur khusus. Itu baru satu anak dan cuma buat biaya pendidikan loh. Makanya jangan main-main sama kelamin.


Oke, gw ngerti kok kalo ngomong itu jauh lebih gampang daripada ngerjain. Tapi gw juga ngerti kalo nggak ada yang berusaha untuk mikir dan speak up, maka selamanya keadaan nggak akan berubah.


Hehehe, gw calon Menteri Pendidikan. Dan sedang dalam proses untuk menuju hal itu.

Thursday, November 22, 2007

Apa Kabar Penerus Bangsa?

Gw tulis ini sewaktu lagi nonton acara Snapshot di Metro. Lakonnya mengenai kebiasaan pelajar yang suka BOLOS.

Diperlihatkan di TV, para anak usia SMP dan SMU yang nongkrong di pinggir jalan, merokok, ngumpul-ngumpul, ketawa-ketiwi, coret-coret fasilitas publik, main kartu, main ayunan, dan berbuat hal yang lain pada jam sekolah. Mereka semua pake baju seragam, tapi entah pendidikan macam apa yang mereka terima.

Malah ada yang ngaku anak baik-baik, tapi bolos sambil ngerokok... yeah, definisi anak baik-baiknya jelas beda sama gw. Apa sih yang dicari dari nongkrong? Salah seorang siswi berponi miring dengan kuncir kuda mengaku bolos karena banyak urusan. Yang laen ngaku dipulangin, yang laen lagi ngakunya libur (tapi pake seragam).

Wew… gw sempet berhenti ngetik sebentar. Trus pikiran gw melayang menuju masa lalu gw yang cerah. Gw nggak pernah bohong, gw nggak pernah bolos. Jangankan bolos, kepikiran juga nggak. Dan rekor gw nggak masuk kuliah selama 4 tahun adalah 9 kali. Itu karena kehujanan, sakit, nggak tahu kalo jamnya ganti, dan nggak tahu jadwal ujiannya.

Hohoho, jangan salah, gw nggak pernah bolos bukan berarti gw anak nggak gaul yang temennya Cuma seekor dua ekor di kelas. Ada alasan tertentu kenapa gw menolak cabut.

Call me sick or what, intinya gw nggak mau jadi orang gagal, terutama gagal bertanggung jawab atas amanat yang dibebankan di pundak gw.

Gw susah buat mengerti jalan pikiran orang yang nyia-nyiain kesempatan, anugrah, dan tidak bersyukur kayak gitu. Gw punya BANYAK list nama orang yang mati-matian berharap punya sedikit kesempatan buat menghadiri kelas. Gw bakal dengan senang hati nyodorin listnya kalo aja semua pembolos itu mau keluar dari sekolah dan digantikan sama anak-anak yang mencret-mencret pengen sekolah tapi nggak punya duit.

Kenapa sih bisa kejadian kayak gini? Coba diusut atu-atu. Dari sudut pandang para pembolos itu dulu deh.

Berdasarkan apa yang gw lihat di snapshot, ada kenapa cabut? Bosen di sekolah. Gak suka sama pelajarannya. Suntuk. Banyak urusan. Kecanduan game online. Gw simpulkan penyebabnya adalah gak doyan sama sekolah. Aturan yang sama berlaku sama SMU unggulan. Gak peduli kesannya yang masuk situ pada pinter-pinter banget, yang dudul mah dudul aja.

Para pelajar menemukan dunia yang lebih mengasyikkan dibanding numplek di sekolah. Ngumpul sama teman-teman jelas asyik. Memperkuat tali silaturahmi, menebalkan rasa solidaritas dan persaudaraan, berbagi kanker paru-paru sama-sama lewat rokok, mencari teman untuk diajak berkubang di Lumpur dosa, rame-rame nyia-nyiain uang hasil keringat orang tua, yang barangkali sampe bela-belain korupsi biar anaknya bisa sekolah (oke, yang ini mungkin berlebihan, tapi gw Cuma pengen nambahin aja)

Yang salah siapa? Si pelajar tukang cabut karena dia bolos?

Apakah salah sekolah yang tidak memberikan suasana kondusif di kelas (yeah, harusnya papan tulis diganti monitor plasma layar jumbo, ada dispenser minuman soda, counter donat Jeko, kursi lapis jok busa bisa disetel dan kantin dilengkapi MekDi plus Starpuks).

Atau yang salah para pendidik dan pengajar yang pada killer, gila hormat (siapa sih yang nggak?), apakah karena style dan tampang para guru nggak kayak yang di sinetron-sinetron yang bedaknya dua senti bahkan para cowoknya berlipstik tebel ga kira-kira?

Atau yang salah si Bambang Sudibyo dan antek-anteknya di Depdiknas yang netapin UAN Cuma 3 pelajaran jadi para siswa nggak merasa perlu untuk mempelajari yang lain seperti ilmu agama, ilmu akhlak, sopan santun, atau bahkan memiliki rasa penghargaan pada para pahlawan bangsa?

Cih, boro-boro punya penghargaan untuk pahlawan. Ditanyain Pancasila aja mungkin pada nggak tahu. Nggak ada artinya buat mereka.

Ataukah salah para orang tua? Terbentuk dengan lingkungan kapitalis, orang tua sangat menyibukkan diri mencari uang sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan quality time bersama anak, sehingga anak-anak tidak terawasi dengan baik.

Lingkungan juga bisa masuk daftar yang bisa disalahkan. Tidak adanya pengawasan masyarakat, atau karena terjebak dalam pergaulan dengan teman yang sesat, bisa jadi factor pemicu juga.

Wew, kalo fokus sama masalah mah, bisa dengan mudah merembet sana-sini.

Fenomena bolos atau cabut ada di setiap lapisan usia. Pegawai negeri bolos belanja di supermarket, anggota DPR bolos rapat padahal udah disediain ruang yang sewanya 20 juta plus makanan mahal dan uang saku, anak mahasiswa bolos kuliah karena muak sama dosennya atau karena nggak bisa bangun pagi setelah malemnya dugem.

Salah seorang mantan gw ada yang DO dari kampus terkenal di Bandung karena keseringan cabut. Kelewat sering, ujian aja cabut. Padahal otaknya (harusnya) bagus. Dia dibesarkan di lingkungan sekolah mahal yang elit, orang tua yang penuh kasih sayang, dan berasal dari keluarga baik-baik. Kenapa dia bisa jadi kayak gitu? Yaaa… faktornya bisa dipilih dari beberapa paragraph di atas.

Ada seseorang yang gw kenal, menghabiskan 7 tahun di kampus. Jawaban yang gw terima saat gw tanya kenapa bisa lama, dia menjalani 2-3 kali mengulang mata kuliah yang sama. Dan waktu gw tanya kenapa bisa ngulang, jawabnya adalah karena jarang masuk.

Hal yang kurang lebih mirip selalu terjadi pada teman-teman gw yang mengulur waktu lulus dari kampus lebih dari satu semester. Kalo batas normal 4 tahun tepat waktu (gw 3 tahun 10 bulan), rata-rata yang lain memutuskan untuk lulus setelah minimal 5 tahun.

Banyak alasan yang menurut gw bagus sekali. Antara lain menunda TA sampai semester terakhir supaya bisa fokus, menyempatkan diri mengambil mata kuliah lintas jurusan, mencari pengalaman dengan magang sambil kuliah, memperluas jaringan sana sini terlebih dahulu, atau sekedar memperbaiki nilai dengan mengulang atau ambil SP.

Tapi ada juga alasan yang gw agak susah buat mengerti. Antara lain nggak bisa bangun pagi, ketiduran, keasyikan main game, keasyikan ngakses internet, ada acara mendadak…

Salah satu temen gw, sering sekali melewatkan kuliah pagi, padahal kost-annya tinggal loncat dari kampus. Kenapa? Karena dia nggak bisa bangun dibawah jam 9. Hallo… padahal dia Muslim… Kalo menurut pandangan awam gw, seharusnya nggak ada orang Muslim yang nggak bisa bangun pagi, secara sholat Subuh expired begitu matahari muncul. Apa gunanya hp canggih kalo fitur alarmnya nggak tahu cara makenya. Atau at least minta dibangunin kek, gw setiap pagi selesai Subuh pasti ngirim sms buat ngebangunin co gw (dan kadang gak berhenti sampe dia balas dan bilang ‘Iya iya, gw udah selese ni sholatnya’ entah bener atau nggak, Tuhan akan berikan balasannya).

Ahem… gw jadi bawa-bawa agama. Yeah, kalo mau dibuat sederhana, milikilah paham bahwa Bangun Pagi Banyak Rejeki.

Blewh… kok malah gw meracau soal bangun pagi… back to topic…

Apa yang tidak dimiliki oleh para pembolos?

Rasa tanggung jawab. Jelas. Baik pada diri sendiri, orang tua, teman-teman, masyarakat, saudara-saudara sebangsa setanah air, dan pada negara. Tanggung jawab akan masa depan diri sendiri otomatis minus setiap kali memutuskan cabut, pada akhirnya mencapai titik dimana rasa bersalah cabut hilang sama sekali.

Tanggung jawab berikutnya adalah kepada orang tua. Buat gw ini yang terbesar. Kedua orang tua gw setiap harinya banting tulang, bahkan bekerja pada saat seharusnya mereka beristirahat di rumah, pulang malam, terkadang hari libur masih ada yang harus dilakukan, itu semua biar gw bisa makan bisa sekolah.

Gw tahu rasanya berada pada titik bahwa gw nyaris nggak bisa nerusin sekolah karena nggak punya biaya. Gw tahu rasa lelah menjalani hidup mencari uang saat gw ikut bokap terjun langsung ngeliat dan bergabung dalam proses beliau bekerja. Satu hari aja gw udah KELELAHAN MAMPUS! Dan bokap gw melakukan itu selama bertahun-tahun. Demi. Gw. Bisa. Sekolah.

Sejarah gw sejak kecil sekolah di SD negeri (dengan SPP 5000 sebulan, dikelilingi anak-anak yang bahkan sering menunggak SPP), berikutnya di SMP negeri (unggulan nasional tapi pas jaman gw SPPnya masih 17 ribu), lalu melanjutkan ke SMU negeri (pendamping unggulan dengan SPP 77 ribu), terakhir ke kampus yang bayarnya Cuma 1.7 juta per semester. Termasuk murah karena gw masuk nggak pake jalur macem-macem. Itu jaman gw ya... terakhir gw nonton pembahasan finansial di O-Channel, satu orang anak yang lahir SEKARANG pada akhirnya akan membutuhkan biaya sekitar 1,5 MILYAR untuk bisa mendapatkan pendidikan terbaik sampai S1 (note, pake jalur khusus). Masih berani punya anak? Salah... masih berani ga pake kondom?

Oke, gw tidak sedang berusaha dikasihani, gw yang sekarang dikaruniai banyak anugrah sehingga bisa menikmati hidup dengan nyaman dan tidak ada kekurangan, tapi intinya, selama masih bisa merasakan pendidikan, manfaatkanlah seoptimal mungkin. Bersyukurlah, karena nggak semua orang cukup beruntung bisa ikut mengenyam pendidikan.

Gampangnya gini deh, kalo udah bosen sekolah atau suntuk, daripada maksain diri ngelanjutin tapi gak dapet apa-apa mending hubungin gw, keluar dari sekolah, uangnya bisa dipake buat temen gw yang putus sekolah di kelas 1 SMU (dan sekarang bekerja sebagai pengamen buat ngehidupin ibunya). Sewaktu duduk ngobrol sama dia di emperan toko, sempet gw tanya, kenapa dia nggak ngelanjutin sekolah aja? Sambil ketawa sedih dia bilang “Nggak ada biaya, Teh…” Kalo mau ketemu sama anaknya silakan datengin perempatan jalan Sunda di Bandung depan bank Lippo, he’ll be there by morning.

Itu buat para pelajar yang mau bolos. Nah, gimana ceritanya buat para orang terhormat yang duduk di kursi DPR sekarang ini? Hehehehe…. Tahu sama tahu lah. Kalo nggak lagi bikin video unyil sama penyanyi dangdud, paling tidur atau studi banding (baca: shopping) keluar negeri. Siapa yang bisa dijadiin figur panutan yang masih hidup sekarang ini? Masa mesti panutan sama Jarwo Kwat atau Effendi Gazali dari Republik Mimpi? Heheh, setidaknya cukup menghibur sekalipun gak yakin bisa ‘mendidik’ rakyat.

Kebencian demi kebencian tiap hari wara-wiri di sekitar kita. Mulai dari tivi, Koran, radio, internet… semua menyajikan hal negatif. Bukan hal yang aneh melihat kerumunan pedagang kaki lima baku hantam sama Satpol PP gara-gara digusur, masyarakat ricuh gara-gara nggak dapat jatah pembagian sembako atau apalah, korupsi anu ini itu…

Padahal, gw yakin orang-orang yang teriak korupsi bakalan diem kalo udah kebagian proyek atau hasil korupsinya. Emang ada ya hari gini manusia yang mau mikirin orang lain tanpa ada hasil sama sekali? Kalo diambil dari quote temen gw di facebook, dia bilang ‘Orang baek sama orang bego itu bedanya tipis’. Hwell… at least gw masih berada dalam lingkungan orang-orang berjiwa patriot (yang entah sampai kapan bisa bertahan di bawah tekanan kehidupan kapitalis).

Nah, semua ancur-ancuran itu jadi lingkaran setan yang akan terus berulang, selama masih ada pelajar yang membolos, mereka akan tumbuh jadi orang yang tak punya tanggung jawab, lalu mereka akan menjadi generasi penerus yang lemah, berikutnya menjadi orang tua lemah dari anak-anak yang pastinya tidak jauh wataknya dari mereka, lalu anak-anak mereka bakal jadi para pembolos juga, dan Indonesia pun menghitung hari menuju yu yu bai bai…

Gw pernah berpikir. Juru Selamat akan turun pada setiap bangsa yang mengalami jaman Jahiliyah. Mungkin nggak ya turun di Indonesia? Secara baru-baru ini ada yang ngaku Nabi tapi tobat J . Dulu jarang ada puting beliung, sekarang tiap hari gw bosen liat berita bencana, ada yang kepikiran gak kalo sekarang Indonesia lagi diazab?

Dah ah, positif thinking aja lah. Sapa tahu ada dukun lagi iseng nyoba ilmu minta badai.

(mana positifnya?Hehehe, pisss…. Say no to cabut, drugs, free sex, rokok dan sinetron)

Saturday, November 10, 2007

Anti Stress

Kenapa kali ini anti-stress?

Yeah, soalnya sebagai manusia yang bertempat tinggal di per(bi)adaban, gw sehari-harinya dihadapkan pada berbagai macam masalah pemicu stress.

Adaaa aja yang bisa bikin –bahkan manusia tanpa derita (harusnya)- kayak gw ikutan stress. Hehehe, pemicunya macem-macem.

Yang paling berperan dalam mengobarkan api stress gw adalah media. Sehari-hari kerjaan gw emang ngetik di rumah, atau santai tanpa tekanan hidup (yeah, namanya pengangguran, yang penting duit masuk). Tentunya secara otomatis gw akan membaca Koran setiap pagi dan nonton berita dengan manisnya di depan tivi.

Setiap hari gw baca Koran, gw selalu geleng-geleng kepala sambil mengernyitkan kening terus berpikir “orang tu ada-ada aja si…” dari mulai berita korupsi, macet Jakarta, banjir, tanah longsor, gunung berapi banci kamera (bikin sensasi ampe orang pada ribut, meletus kagak). Pas gw nonton tivi, setali tiga uang, ricuh pilkadal, demo sopir angkot, masalah busway, sampe aliran sesat… waw. Nggak ada alasan untuk nggak stress kalo sehari-hari dicekokin hal-hal negatif semacam itu.

Ganti topik bentar ah. Gw sejak dulu dengan sadar berusaha membuat diri gw senantiasa berpikir positif, meski pada kenyataannya, berpikir positif itu memerlukan kekuatan yang luar biasa baik dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar kita.

Kenapa? Karena seringkali tekad berpikir positif itu terkandaskan oleh lingkungan atau bahkan diri sendiri. Gampangnya gini, pada suatu pagi gw bangun tidur dengan riang gembira. Gw beribadah pagi, dan bertekad bahwa hari ini adalah hari yang indah, ditemani kicauan burung perkutut yang sangkarnya di samping jendela gw.

Tapi begitu gw membuka Koran pagi, gw membaca berita “Harga minyak dunia naik”. Gw yang emang sehari-hari di rumah dan nggak banyak pake kendaraan bermotor pada awalnya nggak terlalu concern. Tapi setelah gw baca lebih lanjut, harga minyak naik akan berimbas pada naiknya harga bahan bakar, berarti naiknya ongkos distribusi, berarti naiknya ongkos produksi, berarti harga akan melesat tinggi, berarti makin besar pengeluaran yang harus dianggarkan, penghasilan jelas nggak mungkin seujug-ujug naik, berarti…. Baru gw stress dan berpikir “mampus dong?”

Itu baru satu macam masalah. Begitu gw membalik halaman berikutnya, gw membaca “Kemacetan di Jakarta makin tak terkendali, kerugian akibat macet mencapai 43 triliun per tahun”. Wew. Akhirnya pikiran positif gw meluntur sedikit demi sedikit.

Gw tidak sering berurusan dengan kota Jakarta, tapi pernah juga gw kena jebak macet yang kalo dipikir-pikir sebenernya nggak perlu. Antrian kendaraan luar biasa, gw lihat sendiri mobil bagus yang terpaksa diparkir di tengah jalan di jalur mati karena mesinnya ngebul. Kasian.

43 triliun… dari menghindari macet aja udah bisa buat membiayai pemilu. Gw sendiri nggak ada dendam pribadi sama busway. Toh busway itu TIDAK BERGUNA buat gw. Karena gw tinggal di pinggiran Jakarta yang NGGAK ADA BUS FEEDER busway. Dan gw berdecak kagum dengan keputusan Gubernur terpilih yang mengambil keputusan untuk membuka jalur busway UNTUK UMUM. Alhasil apa? Busway yang ditujukan untuk menjadi solusi kemacetan malah jadi penyebab utama macet, dan busway yang seharusnya anti macet malah jadi ikutan macet ^^

Hidup… Serahkan Jakarta pada ahlinya…

Gw nggak keberatan sama busway beraspal merah, tapi gw bingung sama jalur yang dicor. Kepentingannya apa sampe harus dicor? Biar nggak diserobot mobil pribadi? Kenapa nggak dibatesin pake paku aja kalo gitu? Pas gw tanya sama seseorang, dia dengan enteng (tapi sinis) berkata “Kan proyek Nit.”

Proyek… satu kata bernilai tak terhingga. Proyek busway konon bernilai 500 juta dolar. Pake dolar loh. Nggak pernah gw dengar dikonversi ke rupiah *ngitung dulu* hmm…
Kalo rupiahnya 9000, berarti… 9000 x 500 = 4500000… ditambah nolnya 6 lagi… berarti sekitar… 4500000000000 sebelas nol… coba kalo dikasih titik tiga-tiga… jadi 4.500.000.000.000… kalo di tulis dalam terbilang jadi… 4,5 triliun… gede ya?

Gede mana sama duitnya Adelin Lis yang divonis bebas padahal dia pahlawan PENDUKUNG GLOBAL WARMING? Dia korupsinya 700 TRILIUN aja gitu? Dan dia BEBAS dong… hebat… hebat… 700 triliun… artinya berapa tuh… 700.000 miliar, 700.000.000 juta. Nyogok mafia peradilan bangsa semilyar dua milyar mah nggak akan kerasa… wajar lah kalo dia bebas, maling ayam mah mana bisa kayak gitu.

700 triliun… kayaknya bisa abis 7 hari 7 malem buat gw daydreaming duit sebanyak itu buat apaan… bisa dipake berbuat kriminil tapi dimaafkan, dengan cara nabokin muka orang sampe bengep, tapi naboknya pake gepokan seratus ribuan terus duitnya dikasihin ke orang itu… hehehe, gw yakin yang ada si tertabok bakal berterima kasih, berikutnya menyilakan diri buat ditabokin lebih lanjut. Hehehe… ngawur deh gw.

Nah… setelah puas dengan tiga berita surat kabar itu, gw pun menyalakan saluran berita tivi. Gw seharian ini sampe kenyang ngeliat pemimpin aliran sesat diberitakan bertobat. Hihihi, yang rajin baca Koran liat berita dah tau lah ya siapa dia.

Gw lihat tivi dan sebelum bertobatnya dia berkoar-koar bahwa dia rasul terakhir, bahkan syahadat harus nyebut nama dia. Hweeeee…. Entah kerasukan entah akibat stress…

Gw jadi pengen tahu… gimana cara dia bisa mencuci otak manusia segitu banyak, dan massanya dia adalah orang-orang yang (kayaknya) pinter. Istilah kerennya intelektual muda ^^. Tapi yah, gak abis pikir aja. Dasar agama yang seperti apa yang mereka punya sebelomnya kok sampe mudah diajak pindah ke yang nggak bener? Kalo kata temen gw “Soalnya ikut yang itu enakan Nit, solatnya sekali aja, puasa nggak perlu, nabinya masih idup. Masuk sorganya gampangan” Kakek gw pas nonton liputannya sampe ngamuk sama tivi *gw pun ngakak*

Nah sudah.

Gw nggak perlu membahas ancur-ancurannya keadaan negeri ini, tanpa gw bahaspun semua udah pada tau, dan semakin gw bahas semakin nambah stress.

Gw sering kebawa emosi. Gw suka ngutukin keadilan yang tidak berjalan pada semestinya. Gw sering nyukurin orang kena longsor karena mereka nebangin pohon seenak jidat. Gw sering bersikap sinis sama orang kebanjiran yang memang bikin rumah di bantaran kali dan buang sampah seenaknya ke sungai. Gw berpikir, itu memang salah mereka, gw berpihak pada alam dan gw menganggap they’re worth it.

But… itu menjadikan gw terlihat berada di pihak oportunis.

Gw sendiri berada pada keadaan yang riskan. Di satu sisi, banyak yang menuntut ‘Kaum muda harus lebih proaktif menata negeri dan kalian adalah pemimpin masa depan’. Tapi disisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa ‘Belum Tua Belum Boleh Bicara’ dan ‘Yang Muda Yang Nggak Dipercaya’. Terus terang gw sangat gerah dengan pernyataan ini, terutama karena gw sendiri sering kena ‘jegal’ sama kedua poin di atas. Hehehe. Kalo sekarang gak masalah buat gw. Yang nggak suka ya udah, itu udah bukan urusan gw lagi.

Gw sebisa mungkin tidak memikirkan hal-hal negatif yang ada. Jakarta banjir, buat apa gw stress karena mikirin banjir? Gw sudah lakukan apa yang seharusnya gw lakukan. Tidak membangun rumah di bantaran kali, mengolah sendiri sampah (serius, di rumah gw sampah diolah sendiri di kebon belakang), tidak buang sampah sembarangan, tidak melakukan pembalakan hutan liar, tidak merusak daerah resapan air, yeah… dalam pandangan singkat gw bisa aja dibilang oportunis, nggak mau tahu penderitaan orang, atau nggak simpatik sama sodara sebangsa setanah air… Toh gw tidak berbuat konyol.

But hello, harusnya pertanyaannya dibalik. Siapa sih para oportunis sesungguhnya? Siapa yang ngebabatin pohon, buang sampah ke sungai, bikin bangunan tanpa memperhatikan kaidah tata ruang kota, mematikan daerah resapan air, dsb lah… Mereka yang harus stress mikirin banjir, tapi kenyataannya… malah nggak kebawa stress kayaknya ^^

Sekali lagi gimana caranya supaya nggak stress? Yaa… jangan fokus sama stressnya lah. Memang ada hal-hal yang nggak bisa dihindari, seperti saat kejebak macet gila kalo mau ke kantor, tapi daripada fokus sama macetnya, kenapa nggak fokus memanfaatkan waktu yang tersita untuk hal-hal yang positif?

So, what to do supaya nggak stress? Atau tepatnya, gimana caranya mempertahankan pikiran positif supaya nggak terkikis dengan mudah?

Kalo lagi kena macet di mobil, sambil nunggu mobil jalan matikan mesinnya, terus denger kaset mengenai pengembangan diri. Atau dengerin mp3, terus nyanyi aja biar kenceng (terbukti ampuh melepas stress loh). Atau kalo lagi ada di angkutan umum, sambil ngepit kuat tas atau kantong, selalu sediakan bacaan yang bermanfaat untuk pengembangan diri. Misalnya buku-buku dari Personality Plus series atau ‘Sukses Berinvestasi ala Warren Buffett’ (ini yang lagi gw baca dan gw ringkas saat ini). Jadi waktu yang tersita di jalan bisa dimanfaatkan secara positif.

Atau kalo males banget baca takut pusing, bawa mainan apalah, mungkin bawa jarum rajut dan benang, lalu mulai merajut. Atau bawa game watch kampung yang mainannya Cuma tetris (kalo bawa Sony PSP atau Nintendo DS bisa-bisa kena rampok) buat iseng. Sediakan juga permen pedas rendah kalori buat diemut di jalan. Atau iseng ajak kenalan orang yang duduk sebangku di bis. Paling sial dikira tukang bius.

Itu baru cara buat ngadepin stress akibat macet. Gimana dengan yang lain? Stress karena PSSI terancam dibekukan FIFA? Nah, kalo stress yang diakibatkan hal-hal yang ‘bukan urusan kita’ sesungguhnya lebih mudah diatasi. Kenapa?

Simply karena bukan urusan kita. Gampangnya gini, Nurdin Halid dipenjara = FIFA marah = PSSI terancam dibekukan = persepakbolaan Indonesia apa kabar? Nah, sekarang tanya pada diri sendiri, kita bisa berbuat apa supaya si Nurdin Halid mau mundur dari jabatannya = sanksi FIFA tidak jadi dijatuhkan = APBD kembali bisa disalurkan untuk ngasih makan pemain asing di tiap kota. Kalo jawabannya ‘Gw tidak bisa berbuat apa-apa’ berarti gampang. Lupakan urusan itu karena bukan urusan kamu. Stress mikirin Nurdin Halid tanpa bisa melakukan apapun = menzalimi diri sendiri. Alih-alih jadi pahlawan malah nambah dosa.

Bukan berarti gw menganjurkan jadi kaum oportunis yang berdiri pada pihak ‘Gw sih asik-asik aja selama lu kagak nyenggol gw’. Tapi at least kurangilah beban pada diri sendiri yang dari awal udah berat. Ga usah ditambah-tambah. Ga usah dibawa marah. Daripada fokus sama hal negatif, lebih baik fokus pada hal positif apa yang bisa kita lakukan pada diri sendiri dan pada orang terdekat kita. Fokus bukan pada problem tapi pada pemecahan masalahnya. Daripada fokus sama ‘gak punya duit’ lebih baik fokus pada ‘gimana supaya ide gw ini bisa menghasilkan duit’. It’ll be better though.

Satu lagi sih, banyakin makanan sehat. Tingkat stress tinggi, polusi udara tinggi, kurangnya perhatian pada kesehatan, banyaknya radikal bebas, bisa jadi pemicu penyakit yang paling ditakuti sekarang ini. Cepat Mati Disease. Kalo keadaan yang kayak gitu masih ditambah dengan makanan kaya lemak tinggi kalori bonus kolesterol dalam porsi gede… hehehe… yah, gw yakin lah banyak yang udah pada ngerti perlunya hidup sehat.

Trus adalagi… Imbangi asupan tontonan negatif a.k.a berita menyedihkan, sinetron gak betul (emang ada sinetron betul?), infotainment kejam, film barat yang isinya cuma bunuh-tembak-ngebut-cewek seksi dengan tontonan yang rada positif. Gw nonton Avatar tiap pagi, nonton Oprah Winfrey Show (very recommended), Rekomendasi (O-Channel, sorry, Jakarta only ^^) atau Absolute 20/20 (hey, Oprah Winfrey juga nonton ini!)
Soalnya banyak informasi penting nggak penting tapi anti stress disitu. Lebih baik gw lihat perkembangan strategi marketing lewat You Tube di 20/20 daripada nonton kasusnya Ahmad Dhani sama Maia Estianty yang kagak jelas mau kemana arahnya.

Itu baru secuil aja sih, cara-cara buat ngilangin stress. Tapi kalo butuh referensi ato pertolongan lebih lanjut, gw SANGAT menyarankan untuk membaca buku The Secret dari Rhonda Byrne. Berkali-kali gw baca, dvd-nya gw cari dan gw tonton, empat kali dibahas di Oprah Winfrey Show (2 kali siaran ulang si ^^), dan sudah merubah hidup countless people in the world. Quick looknya coba buka http://www.thesecret.tv

Gw nggak lagi promosi, gw tidak sedang mencoba menjual buku ataupun dvdnya, gw tidak mendukung ormas tertentu (apa coba)… tapi gw simply pengen kamu bisa ngerasain manfaatnya juga. Terutama dalam ngadepin dunia penuh stress sekarang ini.

Nah, kayaknya omongan ngelantur gw udah makin jauh Pondok Gede dari Ancol… (makin ga nyambung maksudnya). Sampe sini aja dulu. Inti dari keseluruhan adalah…

Stress bisa dicegah. Dengan cara nggak usah mikirin secara berlebihan apa yang bukan urusan kita, dan dengan membiasakan diri hidup positif.

Viva Jakarta lancar, bebas polusi, nggak ada pengemis + gelandangan, harga-harga terjangkau, langitnya biru, gampang cari kerjaan, busway bekerja optimal!

AMINKAN RAME-RAME!

http://nitacool.blogspot.com

Monday, October 01, 2007

Nothing Cheaper Than Free?

Yeah… kegiatan gw tiap pagi adalah baca koran, terus nonton Oprah kalo sempet, atau nonton Rekomendasi.

Hwell… gw nggak sedang promosi acara tipi sih… Tapi baru-baru ini gw buka Koran dan mendapati iklan provider ponsel segede satu halaman penuh bertuliskan Rp 0,- dan mengklaim gak ada yang bisa lebih murah. Ditambah dengan iklannya di tipi yang menggambarkan suasana auction dengan cewek cantik megang papan bertuliskan 0, lalu si auctionernya berbuat ala orang yang diberi hidayah… wew…

Wew… Yeah… gw sendiri udah rada-rada kwik sama perang tarif yang dilakukan sama para provider di Indo. Gile bener…

Kalo dipikir-pikir, penyedia layanan ponsel pada kebakaran jenggot. Hmm… mulainya sih sekitar 3-4 tahun yang lalu kalo gak salah, waktu diluncurin kartu As. Gara-gara ada sms gratis ke sesama pemakai, terus para provider yang lain pada ngikutin.

Adek gw sendiri adalah korban -_-… dia pakai kartu itu beberapa lama, begitu promosinya selesai dia langsung cabut dan buang kartunya. Setelah itu dia balik pakai nomor dari provider keluarga (yeah, satu keluarga gw semua pake sama, kecuali bokap yang pake 3 sekaligus) Dan berikutnya, ganti kartu lagi karena semua temen-temennya pake akhirnya dia ikut-ikutan pake juga.

Entah kenapa gw nggak bisa ngerti orang yang bolak-balik ganti nomor. Bikin pusing sih.

Gw termasuk orang yang konvensional… Gw tipikal orang yang suka bete kalo nelepon seseorang terus mendapati bahwa nomor yang gw hubungi udah nggak bisa diandalkan lagi. Phonebook temen-temen SMU gw udah gak ada yang beres… alias udah pada diganti… Dan parahnya… digantinya secara berkala, dimana ada yang ngasih promo aneh-aneh, disitu nomor berganti…

Banyak promosi… mulai dari hadiah jaguar, bonus pulsa, sms gratis, nada sambung pribadi (padahal bukan kita juga yang nikmatin tapi kudu bayar!) sampe ngejer setoran sms buat dapet gratis sms… waaaew…

Yang bikin gw susah ngerti… munculnya ponsel CDMA… sekarang ini nampaknya setiap orang harus punya dua ponsel, GSM satu, CDMA satu. Dewh…

Pada sadar gak sih kalo itu tuh liability banget?

Bukannya apa-apa, silakan aja kalo mau punya. Tapi cara pikir konvensional gw bener-bener mempertanyakan, perlukah sampe segitunya mengeluarkan uang segitu banyak demi ngejer sesuatu yang begitu sedikit?

Kalo itungan kasar gw, satu ponsel CDMA murah harganya 500 ribuan, nomornya harganya bisa sampe seratus ribuan. Atau itunglah yang termurah harganya 199ribu udah lengkap sama nomor, gratis nelepon 1000 menit… Kita ambil pukul rata 500 ribu deh.

Terus yang dikejar apa?

Seribu rupiah perjam? Gratis nelepon seribu menit?

Tiap orang punya 24 jam setiap harinya, emangnya berapa orang sih yang segitu kurang kerjaannya ngabisin waktu ngobrol berjam-jam di telepon?

Ada sih… gw juga waktu masih ABG suka bikin nyokap bete karena pake telepon rumah sampe kuping panas (dalam arti sebenarnya)

Ahem… intinya sih… buat gw, apa yang didapat nggak worth dengan apa yang dikeluarkan. Analoginya, beli angkot buat nempuh jarak 200 m.

Untuk mendapatkan seribu per jam, harus ada minimal dua orang yang menginvestasikan uang sebanyak minimal 500 ribu rupiah, menginvestasikan waktu selama minimal 1 jam sehari buat ngobrol, menghindari jalan-jalan keluar kota karena some CDMA gak bisa dipake di luar kota, lalu menginvestasikan sekian rupiah lagi untuk membeli pulsa demi bisa menikmati seribu rupiah perjam lebih lama.

Dan yang terkonyol, mereka merekomendasikan kepada temannya untuk beli CDMA juga. Dewh, jangan coba-coba nyuruh gw gitu deh. Nyuruh orang gak enak biar lu enak.

Apa yang bikin gw bertahan di satu GSM? Banyak.

Pertama, gw dah make nomor yang sama selama 7 tahun dan bakal terus bertambah. Nomornya mudah dihapal, setelah nomor 0817 cuma ada 6 nomor dibelakangnya.

Kedua, gw udah beken dengan nomor yang ini, gak ada orang yang bisa protes karena no hp gw nggak pernah ganti dan ponsel gw selalu nyala 24/7 (yeah, tunjukkan keunggulan produkmu hai SE!)

Ketiga, provider gw memanjakan pelanggannya dengan menurunkan tarif sampe murraaaaah banget, yang gw yakini sebagai pemicu munculnya tarif bicara Rp 0- yang gw sebut di atas. Biarpun ‘syarat dan ketentuan berlaku’-nya agak-agak susah buat dimengerti dan bikin niat pakai jadi surut juga… gw sangat menikmati pertarungan perang harga. Karena gw sendiri dapet keuntungan dari makin murahnya tarif layanan telpon. Gw tipikal orang yang kalo ngomong gak pake lama (oh man! Ngobrol lama di telepon itu buat gw buang-2 waktu) jadi gw lebih suka dengan penghitungan tarif per detik. Sooo…. Cheap!

Keempat, gw bisa puas pacaran. Pasangan gw ganti nomor di bulan kedua kita pacaran, soalnya kita sms-an bisa ngabisin sampe 20 ribu sehari kalo pake provider GSM beda. Setelah kita nyamain provider, kita bisa jor-joran smsan gratis pake fasilitas isi ulang yang memungkinkan kita smsan 100x perhari gratis sebulan setiap isi ulang cepek ceng. Sangat menolong keuangan, soalnya pulsa jadi aman, kalo diitung-itung bebas biaya pacaran 20 ribu x 30 = 600ribu, kita cuma bayar seperenamnya. Belom lagi kalo mau sms ke sesama pengguna. Enak banget kalo gw mau sms orang rumah (kecuali adek gw) karena semua pengguna provider yang sama. Dan yang terenak adalah layanan ini sudah ada sejak sangat lama dan (semoga) berlangsung seterusnya.

Kelima, banyak undian. Biarpun gw nggak sering menang (paling menang pulsa beberapa puluh ribu) Tapi lumayan daripada nggak dapet apa-apa.

Gw jadi inget. Salah satu kenalan gw bilang dia mengundurkan diri dari tempat dia kerja (dia kerja di salah satu perusahaan provider yang lagi kena demam nurunin harga). Waktu ditanya kenapa dia mau-maunya resign, dia bilang “Tarifnya makin lama makin murah, gw liat ini ridiculous banget, jangan-jangan nanti mereka gak ada duit buat bayar gaji gw!” dan gw pun tertawa ngedengernya.

Dewh… entah bener apa nggak yang dia omongin, tapi gw juga jadi mikir, si provider itu sendiri dapet keuntungan apa dengan banting harga sampe gila-gilaan bahkan sampe gratis? Darimana mereka dapet uangnya?

Banyak sih, dari pemasukan pembelian pulsa, pembelian nomor baru, dari pemasangan iklan, dari layanan NSP atau dari akses layanan data. Tapi tetep aja. Is it worth it?

Kebakaran jenggot karena perusahaan saingan melakukan terobosan aneh-aneh apapun itu, gw bisa ngerti sih. Tapi kalo semua udah nerapin nol rupiah alias nelpon gratis kemana-mana lantas mau diapain? Habiskah persaingan sampai situ? Nanti setelah free talk, free sms, abis itu apalagi? Free layanan data, free pulsa, dan berikutnya ponselnya juga free tiap beli nomor (oke, ini gak mungkin… secara Indonesia adalah pangsa pasar ponsel yang gede karena disini ponsel = prestise).

Intinya sih, gw rada bingung aja, ini kayak lawakan hambar. Di Jepang, cara pembayaran pulsa bukan dengan cara isi ulang pulsa, tapi tiap beli nomor, selalu ditanyain rekening bank. Dan setiap kali seseorang menggunakan ponsel untuk bicara, rekeningnya secara otomatis didebet. Sedangkan untuk mengirim pesan, mereka terbiasa menggunakan fasilitas e-mail yang ada di tiap ponsel, bukan sms. Mereka gak kenal tarif sms murah. Jangan-jangan e-mail di ponsel mereka emang udah gratis dari sananya. How convenient!

Ahem… intinya sih…

Apalagi yang mau dikejar? Di Indonesia memang setiap harinya orang beli ponsel dan otomatis pembelian nomor baru terus dilakukan.
Buat yang masih baru sih emang udah wayahnya kudu direbutin, tapi buat tipikal konsumen kayak gw? Karena gw tipikal yang malas ganti-2 no. Gw bukan penghapal yang baik (karena percuma diapalin juga ganti lagi), dan gw menganggap ide ganti-2 no ponsel apalagi nambah pake CDMA adalah hal yang nggak cocok dengan gw.

Nah, buat tipikal orang kayak gw, perang harga adalah tontonan menarik. Menarik untuk diketawain sih. Abisnya…berlomba-lomba murahin segalanya. Sedangkan orang Indonesia makin lama toh makin miskin. Sekalipun punya ponsel, cepat atau lambat bakalan dijual karena butuh duit.

Ahem, itu ngelantur…

Intinya… gw antara antusias dan pesimis untuk mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Obral sana sini.

Yak… dipilih dipilih dipilih…kartunya bu… pak… beli kartu dapet jaguar, beli telpon rumah dapet rumah!

Thursday, September 27, 2007

The Box

Hem...


What to say today?


Hari ini gw kebeneran berada di rumah babeh, dan gw menonton tipi O-Channel. Itu tuh, saluran yang isinya mengenai lifestyle yang Jakarta banget ^^. Dan gw menonton suatu acara dengan presenter yang bernama Kemal. Buat orang Jakarta udah tahu lah ya dia bawain acara apa. The Box.


Apa yang bikin gw tertarik untuk ngebahas The Box ini?


Karena selalu ada sesuatu yang jujur di dalam The Box.


Buat yang gak tahu, The Box itu adalah sebuah kotak berkamera yang biasanya ditaro di mal-mal terkemuka, pada episode yang terakir gw tonton, The Box sekarang ini berada di Senayan City lantai 5... Nah, dalam The Box ini orang-orang bisa bebas berekspresi, mulai dari nyanyi, bersandiwara, joget, bergaya aneh, atau apapun. Semua tanpa jaim, tanpa malu-malu, dan tanpa takut orang bilang apa karena emang disitu tempatnya kalo mau berbuat gila. Makanya The Box adalah sarana bagi orang berbuat jujur.


Hihihi, seumur-umur sampe ni tulisan gw upload, suer gw belom pernah masuk Senayan City, bukan kenapa-kenapa, nggak ada yang kenal disana (gak nyambung...)


Halah, jadi yang mau gw bahas disini adalah...


Apa ya? E... ini... tadi gw lihat ada satu scene di The Box, yang dimainkan oleh empat orang gadis muda (yang gw yakin hidup bahagia ^^, mainnya aja di Senayan City) judulnya Jomblo.


Keempat gadis bahagia itu mendefinisikan jomblo dalam artian mereka. Dari perkataan mereka gw mendapat beberapa hal menarik mengenai Jomblo, yaitu:


  • Jomblo bukan berarti ga laku

  • Jomblo adalah kesempatan mempersiapkan diri menyambut pacar baru

  • Jomblo memiliki banyak keuntungan antara lain

    • Bisa jalan sama siapa aja nggak masalah

    • Nggak ada yang ngatur-ngatur

    • Bebas deket sama lawan jenis sesuka hati

    • Nggak ada yang bikin nangis


Yang menarik perhatian gw adalah poin terakhir. Karena poin itu dengan serta merta langsung diiyakan oleh seluruh gadis di dalam The Box.


Gw jadi mikir.


Apa iya ya? Jomblo = gak ada yang bikin nangis.


Hmm… gw yang dulu mungkin akan setuju dengan pendapat yang diatas. Kenapa? Karena gw tahu rasanya. Gw tahu nggak enaknya. Segalanya lah yang namanya kehidupan pacaran udah pernah gw rasain. Dari mulai jatuh bangun ngejer, berbunga-bunga pas jadian, dan nangis nggak karu-karuan.


Hihihi… nampaknya semua gadis dengan kehidupan normal pernah ngerasain apa yang gw rasain sekarang. Garis bawahi kata normal yah. Soalnya ada juga gadis-gadis yang nggak ngerasain nangis karena pacar, nah, gadis yang kayak gitu menurut gw nggak menjalani kehidupan normal.


Faktor penyebab berlangsungnya kehidupan tidak normal bagi para gadis:

  • Dia kelewat beruntung, ketemu laki-laki yang tajir baik ganteng soleh pinter bermobil perhatian dan bisa ngertiin maunya dia tanpa harus ditanya. Mana ada cewek yang bakal nangis kalo dapet yang beginian.

  • Dia dapet cowok yang kelewat nurut, disuruh bawain bunga nurut, nganter jemput nurut, beliin berlian nurut, masuk jurang nurut.

  • Dia dapet cowok ahli nujum yang dapat memprediksi segala apa yang akan terjadi di masa depan sehingga dia bisa menebak apa keinginan ceweknya dan mengantisipasi apa yang akan terjadi berikutnya.

  • Dia cewek yang bener-bener bebal banget. Gak mau percaya pas ngeliat cowoknya selingkuh, gak mau denger laporan temen-temennya yang mergokin si cowok lagi mesra-mesraan sama kucing tetangga, dsb.

  • Dia totally blind and deaf. Ini berarti si cowok sangat beruntung, bisa selingkuh sesukanya tanpa takut ketahuan.


Ahem… ini bukan poin gw juga sih… lagian gw percaya bukan Cuma pihak cewek yang bisa banjir air mata kalo udah urusan cinta-cintaan. Pihak cowok juga bisa sekalipun 90% persentasi yang nangis itu cewek dan 95% penyebab nangis adalah cowok.


Argh… bukan itu intinya…


Yang mau gw bahas adalah…


Kalo emang saling mencintai kenapa harus ada air mata?


Pertanyaan itu berlaku buat diri gw sendiri sih. Tapi gw yang sekarang ini udah tahu apa jawabannya.


Selama ego masih dipake, maka air mata sedih akan terus mengalir. Karena sudah pasti bakalan ada pihak yang tertekan dan merasa sedih. Contohnya gw sendiri deh. Pada jaman dahulu kala, di taman depan kampus gw diadakan Taman Cinta Conello (oh, tenang, gw tidak sedang berpromosi es krim). Gw udah nunggu-nunggu banget tu acara diadain, dan gw dengan semangat pengen ngajakin co gw kesana.


Tetapi… niat suci seorang cewek kadang nggak sejalan dengan ego cowok.


Co gw nggak mau masuk ke Taman Cinta Conello karena satu hal…


Masuknya bayar.


Aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhh…..


Oke… itu udah lewat. Mungkin karena co gw juga udah tua (25 tahun waktu itu, 26 tahun sekarang, mwahahahaha!) jadi cara pikirnya udah beda. Barangkali menurut dia acara Taman Cinta-cintaan itu Cuma buat abegeh atau dewasa muda kayak gw (21). Tapi gw tahu penyebab utamanya adalah dia nggak setuju si Conello narik bayaran karena taman yang dipake itu taman milik publik dan sebagai mahasiswa yang bersarang di kampus depan taman, menurut dia Conello nggak berhak menarik bayaran dari ‘pemilik’ taman.


Aduh… ngelantur lagi.


Emm… yang mau gw omongin adalah, jika benar-benar mencintai pasangan, maka kenapa harus bikin pasangan nangis? Kalo cinta beneran ada, maka tangis pasangan seharusnya adalah tangis kita juga. Kalo beneran sayang, masa iya sih tega bikin nangis pasangan? Kecuali kalo bikin nangisnya jadi tangis bahagia sih ya silakan aja lakukan sesering mungkin.


Tangis sedih dalam hubungan cinta biasa timbul akibat luapan perasaan yang tertekan. Perasaan kecewa, marah, merasa tidak dihargai, merasa tidak dimengerti, merasa tidak diperhatikan, merasa tidak diberi haknya, merasa ditekan, merasa dikhianati, merasa apapunlah… masing-masing bisa nambahin sendiri daftarnya.


Dan gw bisa bilang, itu semua bisa terjadi karena kurangnya komunikasi dan sikap yang dewasa dalam memecahkan masalah. Selama kata ÁKU’ masih terpakai, maka sampai kapanpun akan ada pihak lain yang yang dikecewakan.


Makanya profesi arbitrary selalu rame ^^


Kuncinya mutlak terletak pada komunikasi. Dan pada saat menjalankan proses komunikasi tersebut, JANGAN PAKAI EGO. Coba lihat dari sudut pandang pasangan. Coba rasain apa yang ada di hati kalo kamu jadi dia. Jangan-jangan kamu nanti malah malu sendiri kalo udah tahu perasaan dia. Dan tentunya pasanganmu HARUS melakukan hal yang sama juga atau proses komunikasi nggak akan berjalan sukses alias useless.


Dan langkah berikutnya adalah commit buat memperbaiki diri. Jangan ulangi lagi kesalahan yang serupa di masa depan. Bikin perjanjian sama pasangan, kalo ada diantara kalian yang ngulangin kesalahan, berarti dia yang nggak commit sama hubungan kalian. Pasangan adalah orang yang kalian pilih untuk berbagi, untuk dilimpahi kasih sayang dan cinta. Masa iya tega dibikin nangis? ^^


Kalo standar gw sih, orang yang udah bikin gw nangis lebih dari 3 kali nggak pantas dijadikan pasangan. Alhamdulillah pasangan gw yang sekarang orangnya dah sesuai banget sama maunya gw (biarpun kadang bikin gemes juga sih, contohnya pas momen Taman Cinta di atas). Dia belum pernah bikin gw nangis dengan sengaja, dan gw nggak melihat perlunya dia bikin nangis gw ^^


Udah ah. Gak ada lagi yang mesti gw ceritain disini. Intinya udah dapet kan? Siapapun yang menangis, baik dari pihak cewek maupun pihak cowok, masing-masing harus introspeksi diri.

Yuk ah…. Makin lama makin jauh bahasan sama judul…