Gw ngetik ini sambil mendengar berita mengenai pelaksanaan UN hari pertama.
Salah satu televisi swasta pengajak stress memberitakan bahwa UN hari pertama disambut dengan tangis oleh para siswa. Mereka kesulitan mengerjakan soal Matematika dan takut tidak bisa mencapai kuota nilai 5,25. Mereka mengaku nggak yakin dengan hasil kerja mereka dan takut nggak lulus. Di koran, ada komentar seorang remaja yang berkata 'Emangnya bapak-bapak pejabat di depdiknas anaknya nggak pada pusing UN ya? Kok tega sih?'
Dan gw pengen bisa ngomong balik ke si remaja itu 'Emangnya bapak-bapak pejabat itu bakal membiarkan anaknya sekolah di sini?! Pasti keluar negeri lah, atau gimana kek caranya pasti gampang lolos UN, bapaknya pejabat diknas ini.' Hmm, sinis sih.
Wew… somehow, gw bisa ngerti. Masalah yang para remaja Indonesia tengah hadapi adalah masalah dengen jumlah berlipat. Di usia remaja mereka sudah mengalami stress yang gila-gilaan.
Apa sih yang bikin mereka bisa stress? Gw nyoba mikirin beberapa teori.
Satu, sejak awal kejiwaan mereka sudah tertekan dengan berbagai macam permasalahan yang simpang siur mengenai UN. Dari mulai naik kelas, mereka sudah dijejali dengan penggambaran bahwa UN itu susah. UN itu menakutkan. UN itu hidup atau mati. UN adalah pertaruhan nasib. UN adalah sulit ditembus. UN adalah setan. UN adalah… bla… bla… bla… pikirkan segala macam sumber ketakutan lainnya.
Anak-anak tersugesti untuk takut dengan UN. Alhasil, saat hari H UN datang, mereka menghadapinya dengan tegang dan takut. Kalah mental. Analogi gampangnya gini. Seorang yang super berani bin nekat pun akan takut apabila dia diberitahu bahwa besok dia bakal dikeroyok orang sekampung. Dan dia punya dua pilihan, kabur dari kampung itu atau hadapi dengan resiko bakal kalah jumlah dan babak belur.
Untuk anak-anak peserta UN, kabur jelas gak mungkin. Ini persimpangan masa depan mereka. Satu-satunya cara, jelas menghadapi. Tapi sekali lagi. Mereka sudah kalah di mental. Ketidakpercayaan diri dan ketakutan terhadap mata pelajaran tertentu jadi alasan utamanya. Hmmm…. Matematika…
Faktor Kedua, mereka terlalu lelah belajar dengan hanya fokus terhadap mata pelajaran yang dijadikan materi UN. Mereka jenuh. Jam pelajaran pun ditambah untuk mempelajari mata pelajaran itu. Enek.
Peduli mampus sama agama, peduli setan sama pelajaran moral, peduli amat sama etika dan tata krama. Sori, gak ada waktu buat mikirin gituan. Enakan clubbing, stress tau.
Buat anak yang otak kanannya lebih jalan, mereka MATI di kelas 3 SMU. Bakat nyanyi, bakat lukis, bakat menari, bakat musik, dan ribuan bakat lainnya kandas karena itu nggak bisa ngebantu mereka buat lulus UN. Boleh aja punya seribu piala tapi kalo gak lulus UN, tu piala gak ada harganya.
Lelah belajar, otak jenuh. Apalagi jika terpaksa harus melakukan hal yang dibenci. Alhasil saat UN mereka berangkat dari rumah dengan hati berat. Segan. Takut. Dan ketidakyakinan dalam pengerjaan.
Faktor ketiga, yang bikin standar 5,25 beneran nggak tahu diri. Entah apa yang ada di pikiran si pencetus ide dan si pengambil keputusan. Semua orang tahu mutu pendidikan di Indonesia belum rata. Dan kualitas penunjang pendidikan masih agak menyedihkan.
Gw nggak tahu si pencetus ide dan para pengambil keputusan yang menetapkan standar 5,25 itu sekolah dimana. Mereka mungkin beruntung pas masih kecil masih banyak lapangan, mereka bisa bermain dan bebas dari stress sementara buat anak sekarang main di lapangan adalah kemewahan. Selain ga ada tempat, pulang sekolah ada les lagi. Mereka mungkin beruntung punya ortu care yang menyekolahkan mereka di tempat terbaik saat itu. Gedungnya baru dibangun, sistem pendidikannya masih beres.
Ada sekolah yang dari sananya emang elite, mahale, dan muridnya pinter-pinter. Standar 5,25 mungkin gampang buat mereka. Dan untuk sekolah yang seperti itu, jelas, mutu sebanding dengan harga. Mereka punya orang tua yang mau membayar mahal untuk kualitas guru yang lebih tinggi, metode pembelajaran yang modern dan sesuai untuk siswa, juga fasilitas dan gedung yang mendukung. Dan tentunya mereka mampu untuk membayar les mahal. Biaya les gw dulu cuma 1,5 juta, sekarang 10 juta lebih. Edan.
Itu yang elite. Lah, apa kabar buat anak-anak yang gedung sekolahnya bocor, hampir ambruk, bayaran nunggak 5 bulan, buku nggak punya, dan sepulang sekolah masih harus membantu orang tua untuk mencari uang? Nyari beasiswa? Beuh, ngurus paspor buat jadi TKI aja masih lebih gampang daripada ngurus beasiswa (oke, nggak semua prosedur susah sih, tapi gw sendiri ngalamin repotnya ngurus beasiswa dan ujung-ujungnya gak jadi karena ternyata harus bikin surat keterangan miskin, gw emang gak kaya, tapi entah kenapa nggak ada orang yang mau percaya).
Tentunya nggak adil kalo kualitas pendidikan di seluruh Indonesia didasarkan pada sekolah elite yang jumlahnya cuma segelintir.
Faktor keempat. Sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang sangat... yeah, jauh dari memadai Gak usah jauh-jauh, waktu gw kuliah tingkat tiga, lab komputer di jurusan gw tiap ujan pasti banjir, dari 10 komputer yang ada disitu yang bisa nyambung ke internet Cuma tiga. Yang bisa dipake cuma… ah, sedihlah. Itu di institut teknologi loh. Entah kenapa rektoratnya cuma bisa nyegelin himpunan demi manjain para mahasiswa baru yang bayarnya 45 juta ke atas (dan begitu lulus jadi karyawan dengan gaji 1,5 juta perbulan)
Yeah, gw beruntung pas masih sekolah di tingkat SMU dan SLTP. Gw sekolah di tempat yang bagus, dalam artian belum bocor belum ambruk dan pada akhirnya sekolahnya direnovasi atas biaya alumni. Yeah, you read me well, ATAS BIAYA ALUMNI. Kalo nunggu dana dari pemerintah mah SAMPE KAPAN JUGA GAK AKAN TURUN. Jadi intinya, partisipasi masyarakat adalah penting.
Jangan tunggu sampe ambruk, ambil palu, ambil kayu, patungan rame-rame semua orang tua murid, dan BANGUN SENDIRI SEKOLAHMU. Jangan tunggu ketimpa genteng terus manggil wartawan tv. Dan jangan lupa, setelah dibangun mbok ya DIRAWAT.
Faktor kelima, metode pembelajaran yang sudah perlu diperbarui. Kurikulum selalu ganti tiap kali ganti menteri. Tapi kualitas nggak ganti. Guru-guru mengajar dengan metode yang sama selama bertahun-tahun. Betapa gw sangat iri dengan sistem pembelajaran di luar negeri. Moving class. Siswa BEBAS mengambil mata pelajaran apapun yang dia inginkan selain yang wajib. Dan metodenya adalah aktif eksperimental. Guru nggak cuma ngobrol sama papan tulis, ngasih pe-er ngasih ujian blas. Guru sebagai mentor, pembimbing. Siswa yang aktif bertanya dan menjawab di kelas, tugas yang diberikan bukan soal tertulis berlembar-lembar. Oh, betapa gw iri.
Di luar negeri yang namanya internet udah bahan makanan sehari-hari. Orang mungkin akan dianggap alien jika nggak tahu internet. Setiap anak punya komputer sendiri dan jika ada kesulitan dengan tugas tinggal tanya sama Google atau hubungi langsung gurunya lewat e-mail atau instant messenger.
Disini apa kabar… internet dipake cuma buat buka friendster -__- dan yang baca post gw yang berjudul ‘Apa Kabar Penerus Bangsa’ tentunya tahu mengenai pendapat gw tentang ini. Oke, gw akui anak remaja sekarang kualitas melek teknologinya udah lumayan. Lumayan nggak merata maksudnya. Yang ngerti internet dan make buat ngerjain tugas paling cuma sebagian kecil. Sisanya make buat friendster dan maen game online. Sedangkan yang dari awal emang nggak ngerti dan takut make internet, ya sudah. Doom.
Faktor keenam, faktor biologis. Anak-anak perempuan yang sedang menstruasi terbukti mengalami penurunan kemampuan dalam mengolah angka-angka, yang jelas tidak menguntungkan apabila seorang anak perempuan menstruasi saat menghadapi UAN matematika atau ekonomi.
Anak yang tegang nggak akan bisa berpikir. Semua hafalan yang ada di otak akan secara otomatis terhapus. Konsentrasi terhambat. Dan saat tegang biasanya anak tidak bisa makan. Dan tidak sarapan pada saat UN adalah FATAL karena menghilangkan kemampuan otak untuk berpikir serta menurunkan kualitas kinerja tubuh. Dan sekalipun bisa sarapan, jika menu makan tidak seimbang, nutrisi yang dibutuhkan otak tidak terpenuhi, alhasil kemampuan berpikir tidak optimal.
Dan harga pangan sekarang ini tengah naik tinggi. Belom lagi yang sakit pada saat UN.
Hhhh… kalo gene sih biar sampe jadi desertasi ni tulisan gak akan selesai-selesai dong kalo mau diterusin…
Intinya… gw sendiri mengalami brengseknya UN. Gw sendiri mengalami betenya dapet nilai ngepas di Ekonomi, 5,63 bo. Waktu itu standarnya masih 4,00. Nilai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris gw yang hampir sempurna ngedongkrak nilai gila-gilaan. Itu belom termasuk lelahnya UAS. Hehehe.
Dan itu belom selesai, belom termasuk SPMB (yang tidak gw ikuti padahal udah bayar), menghadapi ujian saringan masuk PTN, pusing ngitung biaya masuk kuliah, dan lain sebagainya. Kalo gw ngeluh terus kapan mau selesai. Hehehe.
Gw melewati UN di kelas 3 SMU dengan selamat. Teman sebangku gw, Eko, dia nggak lulus karena nilai Ekonominya 3,93. Ya Tuhan… padahal nilai rapornya naik 12 poin! Gw tahu karena dia duduk di samping gw dengan tujuan pengen belajar dengan baik dan benar. He did it. Dia mengalami kemajuan pesat. Tapi karena UN itu dia terjegal. Dulu masih ada remedial buat UN, sekarang kan gak ada. Gak lulus UN ya ngulang setahun. Ngulang eneknya. Ngulang keselnya. Ngulang bayar sekolahnya. Dulu gw dengdam mampus sama menteri pendidikan waktu itu… siapa itu ya, namanya. Entahlah, tapi gw pengen bilang buat pak menteri, jadilah menteri yang baik, karena kekuatan sumpah berlumur dendam itu mengerikan.
Hmm, apa ya yang bakal gw lakukan kalo gw jadi menteri pendidikan?
Satu, gw bakal hapuskan UN. Standar kelulusan adalah tergantung prestasi siswa sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMU. Apabila diatas ‘garis kemiskinan’ yaaaa, luluslah dia. Jadi para siswa tidak dibiasakan jadi pelajar karbitan, yang digenjot cuma saat UN dekat dan tidak hanya dijejali beberapa jenis mata pelajaran aja. Mereka akan dinilai sepanjang tiga tahun penuh. So, penilaian jadi objektif karena berdasarkan pada kestabilan prestasi.
Dua, gw bakal mewajibkan penggunaan buku pelajaran yang bisa digunakan sampai dengan minimal 5 tahun. Jadi buku bisa diwariskan oleh siswa kepada adik atau saudaranya, tanpa perlu mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk beli buku baru. Selain hemat, juga melestarikan lingkungan. Revisi hanya bila ada terobosan fundamental.
Tiga, gw bakal menitikberatkan pendidikan di sektor agama, moral dan etika, dan pendidikan berbasis otak kanan. Dua hal pertama sekarang ini kadarnya sudah semakin menipis kalo dilihat dari perilaku manusia Indonesia. Pendidikan antikorupsi dan kecintaan terhadap tanah air akan ditanamkan sejak TK. Lagu-lagu kebangsaan dan penguasaan kesenian daerah akan dijadikan salah satu materi ujian.
Empat, pendidikan akan sarat teknologi dan kompetensi. Guru diposisikan sebagai pembimbing. Murid yang harus aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Penguasaan internet sebagai alat bantu pembelajaran adalah wajib di tingkat SLTP ke atas. Materi yang diberikan pada siswa memiliki perbandingan 30% teori dan 70% sisanya adalah praktek. Terbukti bahwa apa yang dilihat, didengar, dan dipraktekkan lebih bisa diingat ketimbang mendengar dan mencatat tanpa pernah mencoba melakukan.
Lima, mengkaji ulang standar mutu pendidikan di Indonesia. Tidak menyamaratakan selama mutu pendidikan di pusat tidak sama dengan di daerah pedalaman. Memastikan pemerintah memfasilitasi sarana dan prasarana pendidikan hingga yang terkecil.
Enam, menghapuskan ujian saringan masuk ke PTN yang mengadakan ujian mandiri. Entah wewenang gw atau bukan kalo gw jadi menteri pendidikan, yang pasti gw bakal nyari cara menghapuskan USM. Terbukti hanya menguntungkan anak pejabat atau anak-anak yang bapaknya boker duit. USM hanya akan menghabisi kesempatan anak-anak yang pintar tapi kurang beruntung untuk bisa menikmati pendidikan tinggi yang bagus. Semua PTN akan memakai jalur yang sama. Satu. Sejenis SPMB.
Tujuh, memastikan biaya sekolah murah. Gw nggak terlalu setuju dengan sistem sekolah gratis, karena ada masyarakat yang nggak menganggapnya terlalu penting. Yang ada malah rasa tanggung jawab untuk pergi ke sekolah jadi berkurang karena orang bisa aja berpikir “Ah, sekolah gratis ini.” Dan menganggapnya kurang penting dibanding mencari uang. Sekalipun cuma lima ribu rupiah per bulan, setidaknya masyarakat bisa berpikir “Saya sudah membayar uang sekolah, jadi anak saya harus mendapatkan haknya untuk menikmati pendidikan, sayang uangnya kalo nggak.” Sekalipun bayar, itu bukan untuk nyari duit, tapi untuk memastikan adanya rasa tanggung jawab di masyarakat.
Delapan, memasukkan kewirausahaan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Supaya anak-anak sejak dini tidak terbentuk menjadi ‘bermental karyawan’, dalam artian lulus sekolah cari kerja. Pendidikan Kewirausahaan dimaksudkan supaya nantinya mereka bisa memiliki ‘mental pengusaha’, dalam artian lulus sekolah BIKIN lapangan kerja. Dan sebaiknya dalam industri padat karya, bukan padat modal seperti yang banyak kejadian di negeri ini sekarang.
Sembilan, membebaskan siswa untuk memilih jalan hidup mereka. Dalam artian memberi kebebasan mereka untuk memilih pelajaran yang memang ingin mereka tekuni. Jika seorang anak memang memiliki bakat seni dan ingin berkarier disana, maka dia bisa masuk kelas-kelas yang sesuai tanpa harus menyiksa diri dengan ilmu yang ‘nggak terpakai saat berkarier’. Untuk apa seorang anak yang menekuni seni tarik suara mempelajari persamaan linear atau menghitung gaya sentripetal planet? Apabila seorang anak menyukai sains, maka silakan saja dia ikut kelas Mafia (matematika fisika kimia) dan nggak perlu ikut kelas Sosiologi. Gw sendiri, gw mempelajari hitungan indeks harga saham gabungan tapi ujung-ujungnya berkutat dengan photoshop… Oh, tentunya Bahasa Indonesia, Sejarah, dan pemahaman Wawasan Nusantara adalah wajib.
Masih banyak sih yang pengen gw tulis. Tapi biasanya makin banyak yang gw tulis banyak juga orang yang bakal berkata ‘Ah, lo cuma ngemeng doang.’ Atau bilang ‘Lo pikir lo yang paling pinter?’ atau mungkin gw bakal menerima kata-kata ‘Hebat lo, bisa bikin program kayak gini, emang siapa lo?’ Dan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia akademisi mungkin bakal mencibir begitu baca karena mereka ‘paling tahu semuanya soal pendidikan sedangkan gw siapa sih’. Hwell…
Gw nulis ini karena gw tahu rasanya sebagai pelajar, tokoh ‘victim’ kalo ini sinetron. Dan gw nggak pengen nanti generasi di bawah gw terus tersiksa karena sistem pendidikan yang sekarang ini. Sebagai gambaran, setiap anak yang lahir sekarang ini membutuhkan dana sekitar Rp 1,5 Miliar hanya untuk pendidikan, dengan asumsi dia masuk ke sekolah terbaik sejak TK hingga perguruan tinggi lewat jalur khusus. Itu baru satu anak dan cuma buat biaya pendidikan loh. Makanya jangan main-main sama kelamin.
Oke, gw ngerti kok kalo ngomong itu jauh lebih gampang daripada ngerjain. Tapi gw juga ngerti kalo nggak ada yang berusaha untuk mikir dan speak up, maka selamanya keadaan nggak akan berubah.
Hehehe, gw calon Menteri Pendidikan. Dan sedang dalam proses untuk menuju hal itu.