Thursday, November 22, 2007

Apa Kabar Penerus Bangsa?

Gw tulis ini sewaktu lagi nonton acara Snapshot di Metro. Lakonnya mengenai kebiasaan pelajar yang suka BOLOS.

Diperlihatkan di TV, para anak usia SMP dan SMU yang nongkrong di pinggir jalan, merokok, ngumpul-ngumpul, ketawa-ketiwi, coret-coret fasilitas publik, main kartu, main ayunan, dan berbuat hal yang lain pada jam sekolah. Mereka semua pake baju seragam, tapi entah pendidikan macam apa yang mereka terima.

Malah ada yang ngaku anak baik-baik, tapi bolos sambil ngerokok... yeah, definisi anak baik-baiknya jelas beda sama gw. Apa sih yang dicari dari nongkrong? Salah seorang siswi berponi miring dengan kuncir kuda mengaku bolos karena banyak urusan. Yang laen ngaku dipulangin, yang laen lagi ngakunya libur (tapi pake seragam).

Wew… gw sempet berhenti ngetik sebentar. Trus pikiran gw melayang menuju masa lalu gw yang cerah. Gw nggak pernah bohong, gw nggak pernah bolos. Jangankan bolos, kepikiran juga nggak. Dan rekor gw nggak masuk kuliah selama 4 tahun adalah 9 kali. Itu karena kehujanan, sakit, nggak tahu kalo jamnya ganti, dan nggak tahu jadwal ujiannya.

Hohoho, jangan salah, gw nggak pernah bolos bukan berarti gw anak nggak gaul yang temennya Cuma seekor dua ekor di kelas. Ada alasan tertentu kenapa gw menolak cabut.

Call me sick or what, intinya gw nggak mau jadi orang gagal, terutama gagal bertanggung jawab atas amanat yang dibebankan di pundak gw.

Gw susah buat mengerti jalan pikiran orang yang nyia-nyiain kesempatan, anugrah, dan tidak bersyukur kayak gitu. Gw punya BANYAK list nama orang yang mati-matian berharap punya sedikit kesempatan buat menghadiri kelas. Gw bakal dengan senang hati nyodorin listnya kalo aja semua pembolos itu mau keluar dari sekolah dan digantikan sama anak-anak yang mencret-mencret pengen sekolah tapi nggak punya duit.

Kenapa sih bisa kejadian kayak gini? Coba diusut atu-atu. Dari sudut pandang para pembolos itu dulu deh.

Berdasarkan apa yang gw lihat di snapshot, ada kenapa cabut? Bosen di sekolah. Gak suka sama pelajarannya. Suntuk. Banyak urusan. Kecanduan game online. Gw simpulkan penyebabnya adalah gak doyan sama sekolah. Aturan yang sama berlaku sama SMU unggulan. Gak peduli kesannya yang masuk situ pada pinter-pinter banget, yang dudul mah dudul aja.

Para pelajar menemukan dunia yang lebih mengasyikkan dibanding numplek di sekolah. Ngumpul sama teman-teman jelas asyik. Memperkuat tali silaturahmi, menebalkan rasa solidaritas dan persaudaraan, berbagi kanker paru-paru sama-sama lewat rokok, mencari teman untuk diajak berkubang di Lumpur dosa, rame-rame nyia-nyiain uang hasil keringat orang tua, yang barangkali sampe bela-belain korupsi biar anaknya bisa sekolah (oke, yang ini mungkin berlebihan, tapi gw Cuma pengen nambahin aja)

Yang salah siapa? Si pelajar tukang cabut karena dia bolos?

Apakah salah sekolah yang tidak memberikan suasana kondusif di kelas (yeah, harusnya papan tulis diganti monitor plasma layar jumbo, ada dispenser minuman soda, counter donat Jeko, kursi lapis jok busa bisa disetel dan kantin dilengkapi MekDi plus Starpuks).

Atau yang salah para pendidik dan pengajar yang pada killer, gila hormat (siapa sih yang nggak?), apakah karena style dan tampang para guru nggak kayak yang di sinetron-sinetron yang bedaknya dua senti bahkan para cowoknya berlipstik tebel ga kira-kira?

Atau yang salah si Bambang Sudibyo dan antek-anteknya di Depdiknas yang netapin UAN Cuma 3 pelajaran jadi para siswa nggak merasa perlu untuk mempelajari yang lain seperti ilmu agama, ilmu akhlak, sopan santun, atau bahkan memiliki rasa penghargaan pada para pahlawan bangsa?

Cih, boro-boro punya penghargaan untuk pahlawan. Ditanyain Pancasila aja mungkin pada nggak tahu. Nggak ada artinya buat mereka.

Ataukah salah para orang tua? Terbentuk dengan lingkungan kapitalis, orang tua sangat menyibukkan diri mencari uang sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan quality time bersama anak, sehingga anak-anak tidak terawasi dengan baik.

Lingkungan juga bisa masuk daftar yang bisa disalahkan. Tidak adanya pengawasan masyarakat, atau karena terjebak dalam pergaulan dengan teman yang sesat, bisa jadi factor pemicu juga.

Wew, kalo fokus sama masalah mah, bisa dengan mudah merembet sana-sini.

Fenomena bolos atau cabut ada di setiap lapisan usia. Pegawai negeri bolos belanja di supermarket, anggota DPR bolos rapat padahal udah disediain ruang yang sewanya 20 juta plus makanan mahal dan uang saku, anak mahasiswa bolos kuliah karena muak sama dosennya atau karena nggak bisa bangun pagi setelah malemnya dugem.

Salah seorang mantan gw ada yang DO dari kampus terkenal di Bandung karena keseringan cabut. Kelewat sering, ujian aja cabut. Padahal otaknya (harusnya) bagus. Dia dibesarkan di lingkungan sekolah mahal yang elit, orang tua yang penuh kasih sayang, dan berasal dari keluarga baik-baik. Kenapa dia bisa jadi kayak gitu? Yaaa… faktornya bisa dipilih dari beberapa paragraph di atas.

Ada seseorang yang gw kenal, menghabiskan 7 tahun di kampus. Jawaban yang gw terima saat gw tanya kenapa bisa lama, dia menjalani 2-3 kali mengulang mata kuliah yang sama. Dan waktu gw tanya kenapa bisa ngulang, jawabnya adalah karena jarang masuk.

Hal yang kurang lebih mirip selalu terjadi pada teman-teman gw yang mengulur waktu lulus dari kampus lebih dari satu semester. Kalo batas normal 4 tahun tepat waktu (gw 3 tahun 10 bulan), rata-rata yang lain memutuskan untuk lulus setelah minimal 5 tahun.

Banyak alasan yang menurut gw bagus sekali. Antara lain menunda TA sampai semester terakhir supaya bisa fokus, menyempatkan diri mengambil mata kuliah lintas jurusan, mencari pengalaman dengan magang sambil kuliah, memperluas jaringan sana sini terlebih dahulu, atau sekedar memperbaiki nilai dengan mengulang atau ambil SP.

Tapi ada juga alasan yang gw agak susah buat mengerti. Antara lain nggak bisa bangun pagi, ketiduran, keasyikan main game, keasyikan ngakses internet, ada acara mendadak…

Salah satu temen gw, sering sekali melewatkan kuliah pagi, padahal kost-annya tinggal loncat dari kampus. Kenapa? Karena dia nggak bisa bangun dibawah jam 9. Hallo… padahal dia Muslim… Kalo menurut pandangan awam gw, seharusnya nggak ada orang Muslim yang nggak bisa bangun pagi, secara sholat Subuh expired begitu matahari muncul. Apa gunanya hp canggih kalo fitur alarmnya nggak tahu cara makenya. Atau at least minta dibangunin kek, gw setiap pagi selesai Subuh pasti ngirim sms buat ngebangunin co gw (dan kadang gak berhenti sampe dia balas dan bilang ‘Iya iya, gw udah selese ni sholatnya’ entah bener atau nggak, Tuhan akan berikan balasannya).

Ahem… gw jadi bawa-bawa agama. Yeah, kalo mau dibuat sederhana, milikilah paham bahwa Bangun Pagi Banyak Rejeki.

Blewh… kok malah gw meracau soal bangun pagi… back to topic…

Apa yang tidak dimiliki oleh para pembolos?

Rasa tanggung jawab. Jelas. Baik pada diri sendiri, orang tua, teman-teman, masyarakat, saudara-saudara sebangsa setanah air, dan pada negara. Tanggung jawab akan masa depan diri sendiri otomatis minus setiap kali memutuskan cabut, pada akhirnya mencapai titik dimana rasa bersalah cabut hilang sama sekali.

Tanggung jawab berikutnya adalah kepada orang tua. Buat gw ini yang terbesar. Kedua orang tua gw setiap harinya banting tulang, bahkan bekerja pada saat seharusnya mereka beristirahat di rumah, pulang malam, terkadang hari libur masih ada yang harus dilakukan, itu semua biar gw bisa makan bisa sekolah.

Gw tahu rasanya berada pada titik bahwa gw nyaris nggak bisa nerusin sekolah karena nggak punya biaya. Gw tahu rasa lelah menjalani hidup mencari uang saat gw ikut bokap terjun langsung ngeliat dan bergabung dalam proses beliau bekerja. Satu hari aja gw udah KELELAHAN MAMPUS! Dan bokap gw melakukan itu selama bertahun-tahun. Demi. Gw. Bisa. Sekolah.

Sejarah gw sejak kecil sekolah di SD negeri (dengan SPP 5000 sebulan, dikelilingi anak-anak yang bahkan sering menunggak SPP), berikutnya di SMP negeri (unggulan nasional tapi pas jaman gw SPPnya masih 17 ribu), lalu melanjutkan ke SMU negeri (pendamping unggulan dengan SPP 77 ribu), terakhir ke kampus yang bayarnya Cuma 1.7 juta per semester. Termasuk murah karena gw masuk nggak pake jalur macem-macem. Itu jaman gw ya... terakhir gw nonton pembahasan finansial di O-Channel, satu orang anak yang lahir SEKARANG pada akhirnya akan membutuhkan biaya sekitar 1,5 MILYAR untuk bisa mendapatkan pendidikan terbaik sampai S1 (note, pake jalur khusus). Masih berani punya anak? Salah... masih berani ga pake kondom?

Oke, gw tidak sedang berusaha dikasihani, gw yang sekarang dikaruniai banyak anugrah sehingga bisa menikmati hidup dengan nyaman dan tidak ada kekurangan, tapi intinya, selama masih bisa merasakan pendidikan, manfaatkanlah seoptimal mungkin. Bersyukurlah, karena nggak semua orang cukup beruntung bisa ikut mengenyam pendidikan.

Gampangnya gini deh, kalo udah bosen sekolah atau suntuk, daripada maksain diri ngelanjutin tapi gak dapet apa-apa mending hubungin gw, keluar dari sekolah, uangnya bisa dipake buat temen gw yang putus sekolah di kelas 1 SMU (dan sekarang bekerja sebagai pengamen buat ngehidupin ibunya). Sewaktu duduk ngobrol sama dia di emperan toko, sempet gw tanya, kenapa dia nggak ngelanjutin sekolah aja? Sambil ketawa sedih dia bilang “Nggak ada biaya, Teh…” Kalo mau ketemu sama anaknya silakan datengin perempatan jalan Sunda di Bandung depan bank Lippo, he’ll be there by morning.

Itu buat para pelajar yang mau bolos. Nah, gimana ceritanya buat para orang terhormat yang duduk di kursi DPR sekarang ini? Hehehehe…. Tahu sama tahu lah. Kalo nggak lagi bikin video unyil sama penyanyi dangdud, paling tidur atau studi banding (baca: shopping) keluar negeri. Siapa yang bisa dijadiin figur panutan yang masih hidup sekarang ini? Masa mesti panutan sama Jarwo Kwat atau Effendi Gazali dari Republik Mimpi? Heheh, setidaknya cukup menghibur sekalipun gak yakin bisa ‘mendidik’ rakyat.

Kebencian demi kebencian tiap hari wara-wiri di sekitar kita. Mulai dari tivi, Koran, radio, internet… semua menyajikan hal negatif. Bukan hal yang aneh melihat kerumunan pedagang kaki lima baku hantam sama Satpol PP gara-gara digusur, masyarakat ricuh gara-gara nggak dapat jatah pembagian sembako atau apalah, korupsi anu ini itu…

Padahal, gw yakin orang-orang yang teriak korupsi bakalan diem kalo udah kebagian proyek atau hasil korupsinya. Emang ada ya hari gini manusia yang mau mikirin orang lain tanpa ada hasil sama sekali? Kalo diambil dari quote temen gw di facebook, dia bilang ‘Orang baek sama orang bego itu bedanya tipis’. Hwell… at least gw masih berada dalam lingkungan orang-orang berjiwa patriot (yang entah sampai kapan bisa bertahan di bawah tekanan kehidupan kapitalis).

Nah, semua ancur-ancuran itu jadi lingkaran setan yang akan terus berulang, selama masih ada pelajar yang membolos, mereka akan tumbuh jadi orang yang tak punya tanggung jawab, lalu mereka akan menjadi generasi penerus yang lemah, berikutnya menjadi orang tua lemah dari anak-anak yang pastinya tidak jauh wataknya dari mereka, lalu anak-anak mereka bakal jadi para pembolos juga, dan Indonesia pun menghitung hari menuju yu yu bai bai…

Gw pernah berpikir. Juru Selamat akan turun pada setiap bangsa yang mengalami jaman Jahiliyah. Mungkin nggak ya turun di Indonesia? Secara baru-baru ini ada yang ngaku Nabi tapi tobat J . Dulu jarang ada puting beliung, sekarang tiap hari gw bosen liat berita bencana, ada yang kepikiran gak kalo sekarang Indonesia lagi diazab?

Dah ah, positif thinking aja lah. Sapa tahu ada dukun lagi iseng nyoba ilmu minta badai.

(mana positifnya?Hehehe, pisss…. Say no to cabut, drugs, free sex, rokok dan sinetron)

4 Comments:

Blogger eRiek said...

ceritanya menarik. gua termasuk salah satu di dalam cerita itu. bolos kuliah. bukan termasuk tukang bolos. menurut gua ada sesuatu hal yang penting dilakukan di luar sana saat bersamaan. tapi, bukan berarti kuliah itu tidak penting. tetap penting dan tanggungjawab pribadi kepada orangtua yang telah membiayai segalanya buat kita hingga lulus dan wisuda.

terima kasih ceritanya dan salam kenal sebelumnya :-)

9:22 PM  
Blogger Hendy Irawan said...

koq ga ada yang coment ya...padahal bagus loo

1:29 PM  
Blogger rhodex said...

wuii...tuliannya keren..simple....sederhana...dan mengena....calon penulis masa yg bagus depan nich.....salam kenal.

http://rhodex.multiply.com

5:41 PM  
Blogger rhodex said...

bagus tenan..tulisannya...simple....bahasa sederhana dan mengena...salam kenal ya. thanks

http://rhodex.multiply.com

5:44 PM  

Post a Comment

<< Home