<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702</id><updated>2012-01-16T01:58:48.612-08:00</updated><title type='text'>Ask Your Heart...</title><subtitle type='html'>Kumpulan artikel, thought, tulisan-2 nggak jelas tapi penting, dsb dari seorang Nita Permata K</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-855588162606945507</id><published>2011-05-03T03:51:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T04:00:48.877-07:00</updated><title type='text'>Last Post? Or Maybe Not</title><content type='html'>Well guys,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw memutuskan nggak akan meneruskan blog ini. Lewat pertimbangan yang panjang. Sangat panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan. Dan bagi gw pribadi sih, semuanya kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang terjadi belakangan ini. Alurnya terlalu cepat, saat gw siap menulis sudah ada hal baru yang berkembang. Dan atmosfir kebebasan berpendapat sama sekali tidak imbang di Indonesia. Mudahnya akses internet kadang tidak disertai dengan pembinaan kecerdasan berinternet juga. Beberapa kelompok masyarakat yang baru saja mengenal internet lebih sering menggunakannya untuk trolling or whatever it is.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog ini adalah tempat gw menuangkan pikiran yang kritis. Dan di negeri ini para pemikir kritis lebih sering jadi bahan hujatan ketimbang jadi bahan inspirasi. Gw mungkin akan menulis lagi, disini, mungkin juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, if you really like my posts, mungkin kita bisa ketemu lagi di jagat internet, you know my writing style.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-855588162606945507?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/855588162606945507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=855588162606945507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/855588162606945507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/855588162606945507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2011/05/last-post-or-maybe-not.html' title='Last Post? Or Maybe Not'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-5293200301041635760</id><published>2008-05-31T20:44:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T20:48:10.053-07:00</updated><title type='text'>Harga BBM Bandingannya Jangan Singapura Dong!</title><content type='html'>Gw nulis ini setelah nonton berita. Perang antara kelompok mahasiswa dan polisi. Penyebabnya kenaikan harga BBM. Wek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lempar-lemparan batu. Bakar ban tutup jalan. Mahasiswa digebukin. Polisi masuk kampus. Demo dimana-mana. Bosen, anjrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw hidup di negeri apaan sih. Sayang aja nggak ada jalan buat keluar dari sini. Bukan berarti gw nggak mencintai negeri ini. Gw sampai mati seorang nasionalis ke tulang-tulang. Tapi gw nggak tega buat ngebiarin anak cucu gw ikutan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw nggak tega nanti anak gw harus stress menggila demi ngadepin UN. Gw nggak mau dia jadi korban pergaulan nggak bener di dalam negeri (dan orang selalu bilang kalo pergaulan di luar negeri itu nggak bagus) Gw nggak mau ngegadein rumah demi ngebayar biaya kuliah yang makin amit-amit. Gw nggak mau ngeliat dia lulus jadi pengangguran terdidik. Dan gw nggak mau nanti cucu gw mengulang kisah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata Juru Selamat harus turun, gw rasa sekarang saatnya. Apabila dia emang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih gw inget. 10 tahun yang lalu orang-orang menghadapi reformasi rezim Orde Baru. Ada gossip santer mengenai Satrio Piningit. Seorang penyelamat dalam kepercayaan Jawa, yang bakal keluar to save the day saat keadaan makin parah. But what we got here?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak ada tuh. There’s no such a thing like a hero, here. Dan seandainya Juru Selamat itu bener-bener ada, gw harap dia perempuan. Bukan kenapa-kenapa, sejauh ini belom ada ceritanya gw ngelihat cewek sebagai pelaku tawuran masal antara polisi, mahasiswa, politikus, satpol PP, dll. Biasanya laki-laki. Lebih gampang pakai otot daripada pakai otak. Dan karena banyak orang kelaparan, maka makin susah otak dipake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, gw nggak pengen ngebahas mengenai ketidaksetaraan gender disini. Gw mau ngomongin soal BLT. Bantuan Langsung Tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wapres tercinta kita Joseph Kyle (you know who lah) mengatakan bahwa dengan naiknya harga BBM, maka anggaran masyarakat miskin ‘paling-paling’ naik sekitar 50-60 ribu per bulan. Dan negara memberikan seratus ribu rupiah per bulan. Dan dia berpikir bahwa dengan begitu negara menjadi pahlawan… o em ji…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat dia emang segitu nggak banyak. Tapi buat orang-orang yang penghasilannya emang dibawah garis kemiskinan, mau bilang apa? Tarohlah seorang supir angkot, dia bisa bawa pulang 30 ribu rupiah perhari. Kalo dia kerja full tanpa hari istirahat, dia bisa dapat 30 ribu x 30 hari = sekitar 900 ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 900 ribu rupiah ini dia bisa beli apa? Harga makanan yang dipesan oleh salah satu Menteri Negara saat dijamu sama bokap gw aja nggak segitu. Dia mesen menu yang harganya satu juta rupiah satu set, itu juga nggak abis. Sayangnya kantor bokap gw bukan yang tajir. Sektor yang harusnya didukung total pemerintah tapi diinget juga boro-boro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi. Ke supir angkot dan 900 ribu. Dikasih BLT. Jadi genap satu juta per bulan. Aduh, satu juta di Indonesia haregene bisa buat apa siiiiih? BLT itu buat 3 bulan, tentunya abis buat sehari lah. Buat beli minyak tanah, beras, bayar utang... yang bener aja... sementara itu yang bagi-bagi BLT menganggap diri sebagai pahlawan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Males gw itung-itungan. BLT sejak awal dari tahun 2005 dulu menurut gw itu praktek tergila sepanjang sejarah manusia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara MENYOGOK rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat miskin disogok supaya nggak demo. Mereka dipermainkan dengan cara dikasih uang. Biar diem. Biar merasa masih beruntung. Nggak sadar kalo mereka lagi diumpan ke mulut buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Joseph Kyle emang hebat. Dia pikir dengan BLT rakyat terbantu. Emangnya dia pikir bahan makanan nggak pada naek semua apa? Dia sih enak, mana kerasa, lha dia pengusaha kaya raya gemah ripah loh jinawi. Sehari makan abis sepuluh juta barangkali dia masih bisa hidup. Sayangnya nggak semua orang Indonesia seberuntung dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pernyataan terhebat dari Bapak wapres Joseph Kyle yang lebih hebat lagi adalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyerukan warga penerima BLT untuk memerangi para pendemo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan… sadar gak dia kalo pemimpin yang nyusahin rakyatnya itu pantesnya diganjar pake neraka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal emang sih, Joseph Kyle ini suka asal njeplak. Dia pernah mencap anak Indonesia bego abis (kecuali anaknya, kan disekolahin di luar negeri), pernah menawarkan orang Arab buat ngawinin wanita Indonesia supaya anaknya jadi artis sinetron, pernah juga masuk ke kampus gw dan membuat satu kampus lumpuh total gara-gara Paspampres rese. Yang di dalem gak bisa keluar, yang diluar gak bisa masuk, ujian batal, praktikum batal, sedangkan dia nggak ngapa-ngapain juga. Kaco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe. Yang lucu lagi gw baca di Koran Kompas hari ini. Joseph Kyle dan Menteri Batere (Energy and Mineral Resources) Mr. Fullmoon You’s G And Toro (you know who juga lah silakan mikir dikit buat mecahin teka-teki nama) menyatakan bahwa harga BBM Indonesia itu termasuk paling murah se Asia Tenggara. Dan menyatakan bahwa di Singapura, harga bensin 15 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geblek, bandingan kok Singapura. Kita belom selevel sama mereka. Kalo bandingannya Ethiopia atau Nigeria baru pantes kali. Kita negara miskin bung, standarnya apa kok berani menyamakan diri dengan Singapura dalam sektor ekonomi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tulisan Bp. Tjipta Lesmana di rubrik Opini KOMPAS 27 Mei 2008 nih, termuat beberapa perbandingan harga BBM Indonesia dan seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura. Harga BBM-nya US $ 1.5 berarti sekitar 15 ribu kurang dikit. Hallo… pendapatan per kapita orang Singapura itu 25000 dollar Amerika setahun. Dua ratus lima puluh juta rupiah! Mana kerasa lah harga BBM 1,5 dolar ajah. Udah gitu di Singapura infrastruktur bagus, mass rapid transportation bagus, ketertiban lalu lintas luar biasa, disiplin masyarakatnya tinggi, dan kemana-mana nggak jauh… masa iya mau dijadiin bandingan, ngelindur nih pak wapres…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapatan perkapita rata-rata orang Indonesia setahun nggak ada sepersepuluh orang Singapura… kita Cuma berpendapatan US $ 1500 pertahun… itu juga udah dirata-rata loh, berarti yang duitnya gede ditambah dengan yang duitnya kecil terus dibagi jumlah penduduk usia aktif… aduuuuuu…. Huhuhuhu… mau dibandingin sama Singapura…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sih yang dulu milih pasangan nomor tiga supaya jadi presiden? Gw inget nggak milih waktu itu, dan gw bersyukur karena terhindar dari penyesalan mendalam. Jaman Soeharto masih LEBIH ENAK daripada jaman sekarang. Harga bensin masih lebih murah daripada harga sekaleng Coca Cola. Harga Chiki cuma 300 rupiah. Harga komik cuma 3300 rupiah. Harga permen 100 rupiah dapat 4. Ongkos angkot anak SD jarak dekat 100 rupiah. Dulu gw bisa hidup foya-foya dengan uang jajan 5000 rupiah seminggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku rakyatku semuanya…&lt;br /&gt;Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-5293200301041635760?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/5293200301041635760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=5293200301041635760' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/5293200301041635760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/5293200301041635760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2008/05/harga-bbm-bandingannya-jangan-singapura.html' title='Harga BBM Bandingannya Jangan Singapura Dong!'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-12299518556656004</id><published>2008-04-30T20:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-30T21:19:03.964-07:00</updated><title type='text'>UN Dan Tangis.</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Gw ngetik ini sambil mendengar berita mengenai pelaksanaan UN hari pertama.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Salah satu televisi swasta pengajak stress memberitakan bahwa UN hari pertama disambut dengan tangis oleh para siswa. Mereka kesulitan mengerjakan soal Matematika dan takut tidak bisa mencapai kuota nilai 5,25. Mereka mengaku nggak yakin dengan hasil kerja mereka dan takut nggak lulus. Di koran, ada komentar seorang remaja yang berkata 'Emangnya bapak-bapak pejabat di depdiknas anaknya nggak pada pusing UN ya? Kok tega sih?'&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dan gw pengen bisa ngomong balik ke si remaja itu 'Emangnya bapak-bapak pejabat itu bakal membiarkan anaknya sekolah di sini?! Pasti keluar negeri lah, atau gimana kek caranya pasti gampang lolos UN, bapaknya pejabat diknas ini.'  Hmm, sinis sih.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Wew… somehow, gw bisa ngerti. Masalah yang para remaja Indonesia tengah hadapi adalah masalah dengen jumlah berlipat. Di usia remaja mereka sudah mengalami stress yang gila-gilaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Apa sih yang bikin mereka bisa stress? Gw nyoba mikirin beberapa teori.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Satu, sejak awal kejiwaan mereka sudah tertekan dengan berbagai macam permasalahan yang simpang siur mengenai UN. Dari mulai naik kelas, mereka sudah dijejali dengan penggambaran bahwa UN itu susah. UN itu menakutkan. UN itu hidup atau mati. UN adalah pertaruhan nasib. UN adalah sulit ditembus. UN adalah setan. UN adalah… bla… bla… bla… pikirkan segala macam sumber ketakutan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Anak-anak tersugesti untuk takut dengan UN. Alhasil, saat hari H UN datang, mereka menghadapinya dengan tegang dan takut. Kalah mental. Analogi gampangnya gini. Seorang yang super berani bin nekat pun akan takut apabila dia diberitahu bahwa besok dia bakal dikeroyok orang sekampung. Dan dia punya dua pilihan, kabur dari kampung itu atau hadapi dengan resiko bakal kalah jumlah dan babak belur.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Untuk anak-anak peserta UN, kabur jelas gak mungkin. Ini persimpangan masa depan mereka. Satu-satunya cara, jelas menghadapi. Tapi sekali lagi. Mereka sudah kalah di mental. Ketidakpercayaan diri dan ketakutan terhadap mata pelajaran tertentu jadi alasan utamanya. Hmmm…. Matematika…&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Faktor Kedua, mereka terlalu lelah belajar dengan hanya fokus terhadap mata pelajaran yang dijadikan materi UN. Mereka jenuh. Jam pelajaran pun ditambah untuk mempelajari mata pelajaran itu. Enek.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Peduli mampus sama agama, peduli setan sama pelajaran moral, peduli amat sama etika dan tata krama. Sori, gak ada waktu buat mikirin gituan. Enakan clubbing, stress tau.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Buat anak yang otak kanannya lebih jalan, mereka MATI di kelas 3 SMU. Bakat nyanyi, bakat lukis, bakat menari, bakat musik, dan ribuan bakat lainnya kandas karena itu nggak bisa ngebantu mereka buat lulus UN. Boleh aja punya seribu piala tapi kalo gak lulus UN, tu piala gak ada harganya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Lelah belajar, otak jenuh. Apalagi jika terpaksa harus melakukan hal yang dibenci. Alhasil saat UN mereka berangkat dari rumah dengan hati berat. Segan. Takut. Dan ketidakyakinan dalam pengerjaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Faktor ketiga, yang bikin standar 5,25 beneran nggak tahu diri. Entah apa yang ada di pikiran si pencetus ide dan si pengambil keputusan. Semua orang tahu mutu pendidikan di Indonesia belum rata. Dan kualitas penunjang pendidikan masih agak menyedihkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Gw nggak tahu si pencetus ide dan para pengambil keputusan yang menetapkan standar 5,25 itu sekolah dimana. Mereka mungkin beruntung pas masih kecil masih banyak lapangan, mereka bisa bermain dan bebas dari stress sementara buat anak sekarang main di lapangan adalah kemewahan. Selain ga ada tempat, pulang sekolah ada les lagi. Mereka mungkin beruntung punya ortu care yang menyekolahkan mereka di tempat terbaik saat itu. Gedungnya baru dibangun, sistem pendidikannya masih beres.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Ada sekolah yang dari sananya emang elite, mahale, dan muridnya pinter-pinter. Standar 5,25 mungkin gampang buat mereka. Dan untuk sekolah yang seperti itu, jelas, mutu sebanding dengan harga. Mereka punya orang tua yang mau membayar mahal untuk kualitas guru yang lebih tinggi, metode pembelajaran yang modern dan sesuai untuk siswa, juga fasilitas dan gedung yang mendukung. Dan tentunya mereka mampu untuk membayar les mahal. Biaya les gw dulu cuma 1,5 juta, sekarang 10 juta lebih. Edan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Itu yang elite. Lah, apa kabar buat anak-anak yang gedung sekolahnya bocor, hampir ambruk, bayaran nunggak 5 bulan, buku nggak punya, dan sepulang sekolah masih harus membantu orang tua untuk mencari uang? Nyari beasiswa? Beuh, ngurus paspor buat jadi TKI aja masih lebih gampang daripada ngurus beasiswa (oke, nggak semua prosedur susah sih, tapi gw sendiri ngalamin repotnya ngurus beasiswa dan ujung-ujungnya gak jadi karena ternyata harus bikin surat keterangan miskin, gw emang gak kaya, tapi entah kenapa nggak ada orang yang mau percaya).&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tentunya nggak adil kalo kualitas pendidikan di seluruh Indonesia didasarkan pada sekolah elite yang jumlahnya cuma segelintir.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Faktor keempat. Sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang sangat... yeah, jauh dari memadai Gak usah jauh-jauh, waktu gw kuliah tingkat tiga, lab komputer di jurusan gw tiap ujan pasti banjir, dari 10 komputer yang ada disitu yang bisa nyambung ke internet Cuma tiga. Yang bisa dipake cuma… ah, sedihlah. Itu di institut teknologi loh. Entah kenapa rektoratnya cuma bisa nyegelin himpunan demi manjain para mahasiswa baru yang bayarnya 45 juta ke atas (dan begitu lulus jadi karyawan dengan gaji 1,5 juta perbulan)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Yeah, gw beruntung pas masih sekolah di tingkat SMU dan SLTP. Gw sekolah di tempat yang bagus, dalam artian belum bocor belum ambruk dan pada akhirnya sekolahnya direnovasi atas biaya alumni. Yeah, you read me well, ATAS BIAYA ALUMNI. Kalo nunggu dana dari pemerintah mah SAMPE KAPAN JUGA GAK AKAN TURUN. Jadi intinya, partisipasi masyarakat adalah penting.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Jangan tunggu sampe ambruk, ambil palu, ambil kayu, patungan rame-rame semua orang tua murid, dan BANGUN SENDIRI SEKOLAHMU. Jangan tunggu ketimpa genteng terus manggil wartawan tv. Dan jangan lupa, setelah dibangun mbok ya DIRAWAT.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Faktor kelima, metode pembelajaran yang sudah perlu diperbarui. Kurikulum selalu ganti tiap kali ganti menteri. Tapi kualitas nggak ganti. Guru-guru mengajar dengan metode yang sama selama bertahun-tahun. Betapa gw sangat iri dengan sistem pembelajaran di luar negeri. Moving class. Siswa BEBAS mengambil mata pelajaran apapun yang dia inginkan selain yang wajib. Dan metodenya adalah aktif eksperimental. Guru nggak cuma ngobrol sama papan tulis, ngasih pe-er ngasih ujian blas. Guru sebagai mentor, pembimbing. Siswa yang aktif bertanya dan menjawab di kelas, tugas yang diberikan bukan soal tertulis berlembar-lembar. Oh, betapa gw iri.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Di luar negeri yang namanya internet udah bahan makanan sehari-hari. Orang mungkin akan dianggap alien jika nggak tahu internet. Setiap anak punya komputer sendiri dan jika ada kesulitan dengan tugas tinggal tanya sama Google atau hubungi langsung gurunya lewat e-mail atau instant messenger.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Disini apa kabar… internet dipake cuma buat buka friendster -__- dan yang baca post gw yang berjudul ‘Apa Kabar Penerus Bangsa’ tentunya tahu mengenai pendapat gw tentang ini. Oke, gw akui anak remaja sekarang kualitas melek teknologinya udah lumayan. Lumayan nggak merata maksudnya. Yang ngerti internet dan make buat ngerjain tugas paling cuma sebagian kecil. Sisanya make buat friendster dan maen game online. Sedangkan yang dari awal emang nggak ngerti dan takut make internet, ya sudah. Doom.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Faktor keenam, faktor biologis. Anak-anak perempuan yang sedang menstruasi terbukti mengalami penurunan kemampuan dalam mengolah angka-angka, yang jelas tidak menguntungkan apabila seorang anak perempuan menstruasi saat menghadapi UAN matematika atau ekonomi.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Anak yang tegang nggak akan bisa berpikir. Semua hafalan yang ada di otak akan secara otomatis terhapus. Konsentrasi terhambat. Dan saat tegang biasanya anak tidak bisa makan. Dan tidak sarapan pada saat UN adalah FATAL karena menghilangkan kemampuan otak untuk berpikir serta menurunkan kualitas kinerja tubuh. Dan sekalipun bisa sarapan, jika menu makan tidak seimbang, nutrisi yang dibutuhkan otak tidak terpenuhi, alhasil kemampuan berpikir tidak optimal.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dan harga pangan sekarang ini tengah naik tinggi. Belom lagi yang sakit pada saat UN.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Hhhh… kalo gene sih biar sampe jadi desertasi ni tulisan gak akan selesai-selesai dong kalo mau diterusin…&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Intinya… gw sendiri mengalami brengseknya UN. Gw sendiri mengalami betenya dapet nilai ngepas di Ekonomi, 5,63 bo. Waktu itu standarnya masih 4,00. Nilai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris gw yang hampir sempurna ngedongkrak nilai gila-gilaan. Itu belom termasuk lelahnya UAS. Hehehe.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dan itu belom selesai, belom termasuk SPMB (yang tidak gw ikuti padahal udah bayar), menghadapi ujian saringan masuk PTN, pusing ngitung biaya masuk kuliah, dan lain sebagainya. Kalo gw ngeluh terus kapan mau selesai. Hehehe.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Gw melewati UN di kelas 3 SMU dengan selamat. Teman sebangku gw, Eko, dia nggak lulus karena nilai Ekonominya 3,93. Ya Tuhan… padahal nilai rapornya naik 12 poin! Gw tahu karena dia duduk di samping gw dengan tujuan pengen belajar dengan baik dan benar. He did it. Dia mengalami kemajuan pesat. Tapi karena UN itu dia terjegal. Dulu masih ada remedial buat UN, sekarang kan gak ada. Gak lulus UN ya ngulang setahun. Ngulang eneknya. Ngulang keselnya. Ngulang bayar sekolahnya. Dulu gw dengdam mampus sama menteri pendidikan waktu itu… siapa itu ya, namanya. Entahlah, tapi gw pengen bilang buat pak menteri, jadilah menteri yang baik, karena kekuatan sumpah berlumur dendam itu mengerikan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Hmm, apa ya yang bakal gw lakukan kalo gw jadi menteri pendidikan?&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Satu, gw bakal hapuskan UN. Standar kelulusan adalah tergantung prestasi siswa sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMU. Apabila diatas ‘garis kemiskinan’ yaaaa, luluslah dia. Jadi para siswa tidak dibiasakan jadi pelajar karbitan, yang digenjot cuma saat UN dekat dan tidak hanya dijejali beberapa jenis mata pelajaran aja. Mereka akan dinilai sepanjang tiga tahun penuh. So, penilaian jadi objektif karena berdasarkan pada kestabilan prestasi.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Dua, gw bakal mewajibkan penggunaan buku pelajaran yang bisa digunakan sampai dengan minimal 5 tahun. Jadi buku bisa diwariskan oleh siswa kepada adik atau saudaranya, tanpa perlu mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk beli buku baru. Selain hemat, juga melestarikan lingkungan. Revisi hanya bila ada terobosan fundamental.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tiga, gw bakal menitikberatkan pendidikan di sektor agama, moral dan etika, dan pendidikan berbasis otak kanan. Dua hal pertama sekarang ini kadarnya sudah semakin menipis kalo dilihat dari perilaku manusia Indonesia. Pendidikan antikorupsi dan kecintaan terhadap tanah air akan ditanamkan sejak TK. Lagu-lagu kebangsaan dan penguasaan kesenian daerah akan dijadikan salah satu materi ujian.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Empat, pendidikan akan sarat teknologi dan kompetensi. Guru diposisikan sebagai pembimbing. Murid yang harus aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Penguasaan internet sebagai alat bantu pembelajaran adalah wajib di tingkat SLTP ke atas. Materi yang diberikan pada siswa memiliki perbandingan 30% teori dan 70% sisanya adalah praktek. Terbukti bahwa apa yang dilihat, didengar, dan dipraktekkan lebih bisa diingat ketimbang mendengar dan mencatat tanpa pernah mencoba melakukan.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Lima, mengkaji ulang standar mutu pendidikan di Indonesia. Tidak menyamaratakan selama mutu pendidikan di pusat tidak sama dengan di daerah pedalaman. Memastikan pemerintah memfasilitasi sarana dan prasarana pendidikan hingga yang terkecil.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Enam, menghapuskan ujian saringan masuk ke PTN yang mengadakan ujian mandiri. Entah wewenang gw atau bukan kalo gw jadi menteri pendidikan, yang pasti gw bakal nyari cara menghapuskan USM. Terbukti hanya menguntungkan anak pejabat atau anak-anak yang bapaknya boker duit. USM hanya akan menghabisi kesempatan anak-anak yang pintar tapi kurang beruntung untuk bisa menikmati pendidikan tinggi yang bagus. Semua PTN akan memakai jalur yang sama. Satu. Sejenis SPMB.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Tujuh, memastikan biaya sekolah murah. Gw nggak terlalu setuju dengan sistem sekolah gratis, karena ada masyarakat yang nggak menganggapnya terlalu penting. Yang ada malah rasa tanggung jawab untuk pergi ke sekolah jadi berkurang karena orang bisa aja berpikir “Ah, sekolah gratis ini.” Dan menganggapnya kurang penting dibanding mencari uang. Sekalipun cuma lima ribu rupiah per bulan, setidaknya masyarakat bisa berpikir “Saya sudah membayar uang sekolah, jadi anak saya harus mendapatkan haknya untuk menikmati pendidikan, sayang uangnya kalo nggak.” Sekalipun bayar, itu bukan untuk nyari duit, tapi untuk memastikan adanya rasa tanggung jawab di masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Delapan, memasukkan kewirausahaan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Supaya anak-anak sejak dini tidak terbentuk menjadi ‘bermental karyawan’, dalam artian lulus sekolah cari kerja. Pendidikan Kewirausahaan dimaksudkan supaya nantinya mereka bisa memiliki ‘mental pengusaha’, dalam artian lulus sekolah BIKIN lapangan kerja. Dan sebaiknya dalam industri padat karya, bukan padat modal seperti yang banyak kejadian di negeri ini sekarang.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Sembilan, membebaskan siswa untuk memilih jalan hidup mereka. Dalam artian memberi kebebasan mereka untuk memilih pelajaran yang memang ingin mereka tekuni. Jika seorang anak memang memiliki bakat seni dan ingin berkarier disana, maka dia bisa masuk kelas-kelas yang sesuai tanpa harus menyiksa diri dengan ilmu yang ‘nggak terpakai saat berkarier’. Untuk apa seorang anak yang menekuni seni tarik suara mempelajari persamaan linear atau menghitung gaya sentripetal planet? Apabila seorang anak menyukai sains, maka silakan saja dia ikut kelas Mafia (matematika fisika kimia) dan nggak perlu ikut kelas Sosiologi. Gw sendiri, gw mempelajari hitungan indeks harga saham gabungan tapi ujung-ujungnya berkutat dengan photoshop… Oh, tentunya Bahasa Indonesia, Sejarah, dan pemahaman Wawasan Nusantara adalah wajib.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Masih banyak sih yang pengen gw tulis. Tapi biasanya makin banyak yang gw tulis banyak juga orang yang bakal berkata ‘Ah, lo cuma ngemeng doang.’ Atau bilang ‘Lo pikir lo yang paling pinter?’ atau mungkin gw bakal menerima kata-kata ‘Hebat lo, bisa bikin program kayak gini, emang siapa lo?’ Dan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia akademisi mungkin bakal mencibir begitu baca karena mereka ‘paling tahu semuanya soal pendidikan sedangkan gw siapa sih’. Hwell…&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Gw nulis ini karena gw tahu rasanya sebagai pelajar, tokoh ‘victim’ kalo ini sinetron. Dan gw nggak pengen nanti generasi di bawah gw terus tersiksa karena sistem pendidikan yang sekarang ini. Sebagai gambaran, setiap anak yang lahir sekarang ini membutuhkan dana sekitar Rp 1,5 Miliar hanya untuk pendidikan, dengan asumsi dia masuk ke sekolah terbaik sejak TK hingga perguruan tinggi lewat jalur khusus. Itu baru satu anak dan cuma buat biaya pendidikan loh. Makanya jangan main-main sama kelamin.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Oke, gw ngerti kok kalo ngomong itu jauh lebih gampang daripada ngerjain. Tapi gw juga ngerti kalo nggak ada yang berusaha untuk &lt;i&gt;mikir&lt;/i&gt; dan speak up, maka selamanya keadaan nggak akan berubah.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;Hehehe, gw calon Menteri Pendidikan. Dan sedang dalam proses untuk menuju hal itu.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-12299518556656004?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/12299518556656004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=12299518556656004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/12299518556656004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/12299518556656004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2008/04/un-dan-tangis.html' title='UN Dan Tangis.'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-2388464879926324375</id><published>2007-11-22T20:01:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T20:19:35.911-08:00</updated><title type='text'>Apa Kabar Penerus Bangsa?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gw tulis ini sewaktu lagi nonton acara Snapshot di Metro. Lakonnya mengenai kebiasaan pelajar yang suka BOLOS. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Diperlihatkan di TV, para anak usia SMP dan SMU yang nongkrong di pinggir jalan, merokok, ngumpul-ngumpul, ketawa-ketiwi, coret-coret fasilitas publik, main kartu, main ayunan, dan berbuat hal yang lain pada jam sekolah. Mereka semua pake baju seragam, tapi entah pendidikan macam apa yang mereka terima. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Malah ada yang ngaku anak baik-baik, tapi bolos sambil ngerokok... yeah, definisi anak baik-baiknya jelas beda sama gw. Apa sih yang dicari dari nongkrong? Salah seorang siswi berponi miring dengan kuncir kuda mengaku bolos karena banyak urusan. Yang laen ngaku dipulangin, yang laen lagi ngakunya libur (tapi pake seragam).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wew… gw sempet berhenti ngetik sebentar. Trus pikiran gw melayang menuju masa lalu gw yang cerah. Gw nggak pernah bohong, gw nggak pernah bolos. Jangankan bolos, kepikiran juga nggak. Dan rekor gw nggak masuk kuliah selama 4 tahun adalah 9 kali. Itu karena kehujanan, sakit, nggak tahu kalo jamnya ganti, dan nggak tahu jadwal ujiannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hohoho, jangan salah, gw nggak pernah bolos bukan berarti gw anak nggak gaul yang temennya Cuma seekor dua ekor di kelas. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; alasan tertentu kenapa gw menolak cabut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Call me sick or what, intinya gw nggak mau jadi orang gagal, terutama gagal bertanggung jawab atas amanat yang dibebankan di pundak gw. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gw susah buat mengerti jalan pikiran orang yang nyia-nyiain kesempatan, anugrah, dan tidak bersyukur kayak gitu. Gw punya BANYAK list nama orang yang mati-matian berharap punya sedikit kesempatan buat menghadiri kelas. Gw bakal dengan senang hati nyodorin listnya kalo aja semua pembolos itu mau keluar dari sekolah dan digantikan sama anak-anak yang mencret-mencret pengen sekolah tapi nggak punya duit. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kenapa sih bisa kejadian kayak gini? Coba diusut atu-atu. Dari sudut pandang para pembolos itu dulu deh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan apa yang gw lihat di snapshot, ada kenapa cabut? Bosen di sekolah. Gak suka sama pelajarannya. Suntuk. Banyak urusan. Kecanduan game online. Gw simpulkan penyebabnya adalah gak doyan sama sekolah. Aturan yang sama berlaku sama SMU unggulan. Gak peduli kesannya yang masuk situ pada pinter-pinter banget, yang dudul mah dudul aja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pelajar menemukan dunia yang lebih mengasyikkan dibanding numplek di sekolah. Ngumpul sama teman-teman jelas asyik. Memperkuat tali silaturahmi, menebalkan rasa solidaritas dan persaudaraan, berbagi kanker paru-paru sama-sama lewat rokok, mencari teman untuk diajak berkubang di Lumpur dosa, rame-rame nyia-nyiain uang hasil keringat orang tua, yang barangkali sampe bela-belain korupsi biar anaknya bisa sekolah (oke, yang ini mungkin berlebihan, tapi gw Cuma pengen nambahin aja)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang salah siapa? Si pelajar tukang cabut karena dia bolos? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah salah sekolah yang tidak memberikan suasana kondusif di kelas (yeah, harusnya papan tulis diganti monitor plasma layar jumbo, ada dispenser minuman soda, counter donat Jeko, kursi lapis jok busa bisa disetel dan kantin dilengkapi MekDi plus Starpuks). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Atau yang salah para pendidik dan pengajar yang pada killer, gila hormat (siapa sih yang nggak?), apakah karena style dan tampang para guru nggak kayak yang di sinetron-sinetron yang bedaknya dua senti bahkan para cowoknya berlipstik tebel ga kira-kira? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Atau yang salah si Bambang Sudibyo dan antek-anteknya di Depdiknas yang netapin UAN Cuma 3 pelajaran jadi para siswa nggak merasa perlu untuk mempelajari yang lain seperti ilmu agama, ilmu akhlak, sopan santun, atau bahkan memiliki rasa penghargaan pada para pahlawan bangsa? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cih, boro-boro punya penghargaan untuk pahlawan. Ditanyain Pancasila aja mungkin pada nggak tahu. Nggak ada artinya buat mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ataukah salah para orang tua? Terbentuk dengan lingkungan kapitalis, orang tua sangat menyibukkan diri mencari uang sebanyak-banyaknya dengan mengorbankan quality time bersama anak, sehingga anak-anak tidak terawasi dengan baik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lingkungan juga bisa masuk daftar yang bisa disalahkan. Tidak adanya pengawasan masyarakat, atau karena terjebak dalam pergaulan dengan teman yang sesat, bisa jadi factor pemicu juga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wew, kalo fokus sama masalah mah, bisa dengan mudah merembet sana-sini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Fenomena bolos atau cabut ada di setiap lapisan usia. Pegawai negeri bolos belanja di supermarket, anggota DPR bolos rapat padahal udah disediain ruang yang sewanya 20 juta plus makanan mahal dan uang saku, anak mahasiswa bolos kuliah karena muak sama dosennya atau karena nggak bisa bangun pagi setelah malemnya dugem.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Salah seorang mantan gw ada yang DO dari kampus terkenal di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; karena keseringan cabut. Kelewat sering, ujian aja cabut. Padahal otaknya (harusnya) bagus. Dia dibesarkan di lingkungan sekolah mahal yang elit, orang tua yang penuh kasih sayang, dan berasal dari keluarga baik-baik. Kenapa dia bisa jadi kayak gitu? Yaaa… faktornya bisa dipilih dari beberapa paragraph di atas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada seseorang yang gw kenal, menghabiskan 7 tahun di kampus. Jawaban yang gw terima saat gw tanya kenapa bisa lama, dia menjalani 2-3 kali mengulang mata kuliah yang sama. Dan waktu gw tanya kenapa bisa ngulang, jawabnya adalah karena jarang masuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hal yang kurang lebih mirip selalu terjadi pada teman-teman gw yang mengulur waktu lulus dari kampus lebih dari satu semester. Kalo batas normal 4 tahun tepat waktu (gw 3 tahun 10 bulan), rata-rata yang lain memutuskan untuk lulus setelah minimal 5 tahun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Banyak alasan yang menurut gw bagus sekali. Antara lain menunda TA sampai semester terakhir supaya bisa fokus, menyempatkan diri mengambil mata kuliah lintas jurusan, mencari pengalaman dengan magang sambil kuliah, memperluas jaringan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sini terlebih dahulu, atau sekedar memperbaiki nilai dengan mengulang atau ambil SP.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tapi ada juga alasan yang gw agak susah buat mengerti. Antara lain nggak bisa bangun pagi, ketiduran, keasyikan main game, keasyikan ngakses internet, ada acara mendadak… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Salah satu temen gw, sering sekali melewatkan kuliah pagi, padahal kost-annya tinggal loncat dari kampus. Kenapa? Karena dia nggak bisa bangun dibawah jam 9. Hallo… padahal dia Muslim… Kalo menurut pandangan awam gw, seharusnya nggak ada orang Muslim yang nggak bisa bangun pagi, secara sholat Subuh expired begitu matahari muncul. Apa gunanya hp canggih kalo fitur alarmnya nggak tahu cara makenya. Atau at least minta dibangunin kek, gw setiap pagi selesai Subuh pasti ngirim sms buat ngebangunin co gw (dan kadang gak berhenti sampe dia balas dan bilang ‘Iya iya, gw udah selese ni sholatnya’ entah bener atau nggak, Tuhan akan berikan balasannya).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ahem… gw jadi bawa-bawa agama. Yeah, kalo mau dibuat sederhana, milikilah paham bahwa Bangun Pagi Banyak Rejeki. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Blewh… kok malah gw meracau soal bangun pagi… back to topic… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa yang tidak dimiliki oleh para pembolos? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasa tanggung jawab. Jelas. Baik pada diri sendiri, orang tua, teman-teman, masyarakat, saudara-saudara sebangsa setanah air, dan pada negara. Tanggung jawab akan masa depan diri sendiri otomatis minus setiap kali memutuskan cabut, pada akhirnya mencapai titik dimana rasa bersalah cabut hilang sama sekali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tanggung jawab berikutnya adalah kepada orang tua. Buat gw ini yang terbesar. Kedua orang tua gw setiap harinya banting tulang, bahkan bekerja pada saat seharusnya mereka beristirahat di rumah, pulang malam, terkadang hari libur masih ada yang harus dilakukan, itu semua biar gw bisa makan bisa sekolah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gw tahu rasanya berada pada titik bahwa gw nyaris nggak bisa nerusin sekolah karena nggak punya biaya. Gw tahu rasa lelah menjalani hidup mencari uang saat gw ikut bokap terjun langsung ngeliat dan bergabung dalam proses beliau bekerja. Satu hari aja gw udah KELELAHAN MAMPUS! Dan bokap gw melakukan itu selama bertahun-tahun. Demi. Gw. Bisa. Sekolah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sejarah gw sejak kecil sekolah di SD negeri (dengan SPP 5000 sebulan, dikelilingi anak-anak yang bahkan sering menunggak SPP), berikutnya di SMP negeri (unggulan nasional tapi pas jaman gw SPPnya masih 17 ribu), lalu melanjutkan ke SMU negeri (pendamping unggulan dengan SPP 77 ribu), terakhir ke kampus yang bayarnya Cuma 1.7 juta per semester. Termasuk murah karena gw masuk nggak pake jalur macem-macem. Itu jaman gw ya... terakhir gw nonton pembahasan finansial di O-Channel, satu orang anak yang lahir SEKARANG pada akhirnya akan membutuhkan biaya sekitar 1,5 MILYAR untuk bisa mendapatkan pendidikan terbaik sampai S1 (note, pake jalur khusus). Masih berani punya anak? Salah... masih berani ga pake kondom?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oke, gw tidak sedang berusaha dikasihani, gw yang sekarang dikaruniai banyak anugrah sehingga bisa menikmati hidup dengan nyaman dan tidak ada kekurangan, tapi intinya, selama masih bisa merasakan pendidikan, manfaatkanlah seoptimal mungkin. Bersyukurlah, karena nggak semua orang cukup beruntung bisa ikut mengenyam pendidikan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gampangnya gini deh, kalo udah bosen sekolah atau suntuk, daripada maksain diri ngelanjutin tapi gak dapet apa-apa mending hubungin gw, keluar dari sekolah, uangnya bisa dipake buat temen gw yang putus sekolah di kelas 1 SMU (dan sekarang bekerja sebagai pengamen buat ngehidupin ibunya). Sewaktu duduk ngobrol sama dia di emperan toko, sempet gw tanya, kenapa dia nggak ngelanjutin sekolah aja? Sambil ketawa sedih dia bilang “Nggak ada biaya, Teh…” Kalo mau ketemu sama anaknya silakan datengin perempatan jalan Sunda di Bandung depan bank Lippo, he’ll be there by morning. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Itu buat para pelajar yang mau bolos. Nah, gimana ceritanya buat para orang terhormat yang duduk di kursi DPR sekarang ini? Hehehehe…. Tahu sama tahu lah. Kalo nggak lagi bikin video unyil sama penyanyi dangdud, paling tidur atau studi banding (baca: shopping) keluar negeri. Siapa yang bisa dijadiin figur panutan yang masih hidup sekarang ini? Masa mesti panutan sama Jarwo Kwat atau Effendi Gazali dari Republik Mimpi? Heheh, setidaknya cukup menghibur sekalipun gak yakin bisa ‘mendidik’ rakyat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kebencian demi kebencian tiap hari wara-wiri di sekitar kita. Mulai dari tivi, Koran, radio, internet… semua menyajikan hal negatif. Bukan hal yang aneh melihat kerumunan pedagang kaki &lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;baku&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; hantam sama Satpol PP gara-gara digusur, masyarakat ricuh gara-gara nggak dapat jatah pembagian sembako atau apalah, korupsi anu ini itu… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Padahal, gw yakin orang-orang yang teriak korupsi bakalan diem kalo udah kebagian proyek atau hasil korupsinya. Emang ada ya hari gini manusia yang mau mikirin orang lain tanpa ada hasil sama sekali? Kalo diambil dari quote temen gw di facebook, dia bilang ‘Orang baek sama orang bego itu bedanya tipis’. Hwell… at least gw masih berada dalam lingkungan orang-orang berjiwa patriot (yang entah sampai kapan bisa bertahan di bawah tekanan kehidupan kapitalis). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nah, semua ancur-ancuran itu jadi lingkaran setan yang akan terus berulang, selama masih ada pelajar yang membolos, mereka akan tumbuh jadi orang yang tak punya tanggung jawab, lalu mereka akan menjadi generasi penerus yang lemah, berikutnya menjadi orang tua lemah dari anak-anak yang pastinya tidak jauh wataknya dari mereka, lalu anak-anak mereka bakal jadi para pembolos juga, dan Indonesia pun menghitung hari menuju yu yu bai bai…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gw pernah berpikir. Juru Selamat akan turun pada setiap bangsa yang mengalami jaman Jahiliyah. Mungkin nggak ya turun di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;? Secara baru-baru ini ada yang ngaku Nabi tapi tobat &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; . Dulu jarang ada puting beliung, sekarang tiap hari gw bosen liat berita bencana, ada yang kepikiran gak kalo sekarang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; lagi diazab?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dah ah, positif thinking aja lah. Sapa tahu ada dukun lagi iseng nyoba ilmu minta badai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(mana positifnya?Hehehe, pisss…. Say no to cabut, drugs, free sex, rokok dan sinetron)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-2388464879926324375?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/2388464879926324375/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=2388464879926324375' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/2388464879926324375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/2388464879926324375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2007/11/apa-kabar-penerus-bangsa.html' title='Apa Kabar Penerus Bangsa?'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-8113894822047039336</id><published>2007-11-10T22:30:00.000-08:00</published><updated>2007-11-10T22:34:39.221-08:00</updated><title type='text'>Anti Stress</title><content type='html'>Kenapa kali ini anti-stress?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, soalnya sebagai manusia yang bertempat tinggal di per(bi)adaban, gw sehari-harinya dihadapkan pada berbagai macam masalah pemicu stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaaa aja yang bisa bikin –bahkan manusia tanpa derita (harusnya)- kayak gw ikutan stress. Hehehe, pemicunya macem-macem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling berperan dalam mengobarkan api stress gw adalah media. Sehari-hari kerjaan gw emang ngetik di rumah, atau santai tanpa tekanan hidup (yeah, namanya pengangguran, yang penting duit masuk). Tentunya secara otomatis gw akan membaca Koran setiap pagi dan nonton berita dengan manisnya di depan tivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari gw baca Koran, gw selalu geleng-geleng kepala sambil mengernyitkan kening terus berpikir “orang tu ada-ada aja si…” dari mulai berita korupsi, macet Jakarta, banjir, tanah longsor, gunung berapi banci kamera (bikin sensasi ampe orang pada ribut, meletus kagak). Pas gw nonton tivi, setali tiga uang, ricuh pilkadal, demo sopir angkot, masalah busway, sampe aliran sesat… waw. Nggak ada alasan untuk nggak stress kalo sehari-hari dicekokin hal-hal negatif semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganti topik bentar ah. Gw sejak dulu dengan sadar berusaha membuat diri gw senantiasa berpikir positif, meski pada kenyataannya, berpikir positif itu memerlukan kekuatan yang luar biasa baik dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Karena seringkali tekad berpikir positif itu terkandaskan oleh lingkungan atau bahkan diri sendiri. Gampangnya gini, pada suatu pagi gw bangun tidur dengan riang gembira. Gw beribadah pagi, dan bertekad bahwa hari ini adalah hari yang indah, ditemani kicauan burung perkutut yang sangkarnya di samping jendela gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitu gw membuka Koran pagi, gw membaca berita “Harga minyak dunia naik”. Gw yang emang sehari-hari di rumah dan nggak banyak pake kendaraan bermotor pada awalnya nggak terlalu concern. Tapi setelah gw baca lebih lanjut, harga minyak naik akan berimbas pada naiknya harga bahan bakar, berarti naiknya ongkos distribusi, berarti naiknya ongkos produksi, berarti harga akan melesat tinggi, berarti makin besar pengeluaran yang  harus dianggarkan, penghasilan jelas nggak mungkin seujug-ujug naik, berarti…. Baru gw stress dan berpikir “mampus dong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru satu macam masalah. Begitu gw membalik halaman berikutnya, gw membaca “Kemacetan di Jakarta makin tak terkendali, kerugian akibat macet mencapai 43 triliun per tahun”. Wew. Akhirnya pikiran positif gw meluntur sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw tidak sering berurusan dengan kota Jakarta, tapi pernah juga gw kena jebak macet yang kalo dipikir-pikir sebenernya nggak perlu. Antrian kendaraan luar biasa, gw lihat sendiri mobil bagus yang terpaksa diparkir di tengah jalan di jalur mati karena mesinnya ngebul. Kasian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43 triliun… dari menghindari macet aja udah bisa buat membiayai pemilu. Gw sendiri nggak ada dendam pribadi sama busway. Toh busway itu TIDAK BERGUNA buat gw. Karena gw tinggal di pinggiran Jakarta yang NGGAK ADA BUS FEEDER busway. Dan gw berdecak kagum dengan keputusan Gubernur terpilih yang mengambil keputusan untuk membuka jalur busway UNTUK UMUM. Alhasil apa? Busway yang ditujukan untuk menjadi solusi kemacetan malah jadi penyebab utama macet, dan busway yang seharusnya anti macet malah jadi ikutan macet ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup… Serahkan Jakarta pada ahlinya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw nggak keberatan sama busway beraspal merah, tapi gw bingung sama jalur yang dicor. Kepentingannya apa sampe harus dicor? Biar nggak diserobot mobil pribadi? Kenapa nggak dibatesin pake paku aja kalo gitu? Pas gw tanya sama seseorang, dia dengan enteng (tapi sinis) berkata “Kan proyek Nit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek… satu kata bernilai tak terhingga. Proyek busway konon bernilai 500 juta dolar. Pake dolar loh. Nggak pernah gw dengar dikonversi ke rupiah *ngitung dulu* hmm…&lt;br /&gt;Kalo rupiahnya 9000, berarti… 9000 x 500 = 4500000… ditambah nolnya 6 lagi… berarti sekitar… 4500000000000 sebelas nol… coba kalo dikasih titik tiga-tiga… jadi 4.500.000.000.000… kalo di tulis dalam terbilang jadi… 4,5 triliun… gede ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede mana sama duitnya Adelin Lis yang divonis bebas padahal dia pahlawan PENDUKUNG GLOBAL WARMING? Dia korupsinya 700 TRILIUN aja gitu? Dan dia BEBAS dong… hebat… hebat… 700 triliun… artinya berapa tuh… 700.000 miliar, 700.000.000 juta. Nyogok mafia peradilan bangsa semilyar dua milyar mah nggak akan kerasa… wajar lah kalo dia bebas, maling ayam mah mana bisa kayak gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;700 triliun… kayaknya bisa abis 7 hari 7 malem buat gw daydreaming duit sebanyak itu buat apaan… bisa dipake berbuat kriminil tapi dimaafkan, dengan cara nabokin muka orang sampe bengep, tapi naboknya pake gepokan seratus ribuan terus duitnya dikasihin ke orang itu… hehehe, gw yakin yang ada si tertabok bakal berterima kasih, berikutnya menyilakan diri buat ditabokin lebih lanjut. Hehehe… ngawur deh gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah… setelah puas dengan tiga berita surat kabar itu, gw pun menyalakan saluran berita tivi. Gw seharian ini sampe kenyang ngeliat pemimpin aliran sesat diberitakan bertobat. Hihihi, yang rajin baca Koran liat berita dah tau lah ya siapa dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw lihat tivi dan sebelum bertobatnya dia berkoar-koar bahwa dia rasul terakhir, bahkan syahadat harus nyebut nama dia. Hweeeee…. Entah kerasukan entah akibat stress…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw jadi pengen tahu… gimana cara dia bisa mencuci otak manusia segitu banyak, dan massanya dia adalah orang-orang yang (kayaknya) pinter. Istilah kerennya intelektual muda ^^. Tapi yah, gak abis pikir aja. Dasar agama yang seperti apa yang mereka punya sebelomnya kok sampe mudah diajak pindah ke yang nggak bener? Kalo kata temen gw “Soalnya ikut yang itu enakan Nit, solatnya sekali aja, puasa nggak perlu, nabinya masih idup. Masuk sorganya gampangan” Kakek gw pas nonton liputannya sampe ngamuk sama tivi *gw pun ngakak*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw nggak perlu membahas ancur-ancurannya keadaan negeri ini, tanpa gw bahaspun semua udah pada tau, dan semakin gw bahas semakin nambah stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw sering kebawa emosi. Gw suka ngutukin keadilan yang tidak berjalan pada semestinya. Gw sering nyukurin orang kena longsor karena mereka nebangin pohon seenak jidat. Gw sering bersikap sinis sama orang kebanjiran yang memang bikin rumah di bantaran kali dan buang sampah seenaknya ke sungai. Gw berpikir, itu memang salah mereka, gw berpihak pada alam dan gw menganggap they’re worth it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But… itu menjadikan gw terlihat berada di pihak oportunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw sendiri berada pada keadaan yang riskan. Di satu sisi, banyak yang menuntut ‘Kaum muda harus lebih proaktif menata negeri dan kalian adalah pemimpin masa depan’. Tapi disisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa ‘Belum Tua Belum Boleh Bicara’ dan ‘Yang Muda Yang Nggak Dipercaya’. Terus terang gw sangat gerah dengan pernyataan ini, terutama karena gw sendiri sering kena ‘jegal’ sama kedua poin di atas. Hehehe. Kalo sekarang gak masalah buat gw. Yang nggak suka ya udah, itu udah bukan urusan gw lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw sebisa mungkin tidak memikirkan hal-hal negatif yang ada. Jakarta banjir, buat apa gw stress karena mikirin banjir? Gw sudah lakukan apa yang seharusnya gw lakukan. Tidak membangun rumah di bantaran kali, mengolah sendiri sampah (serius, di rumah gw sampah diolah sendiri di kebon belakang), tidak buang sampah sembarangan, tidak melakukan pembalakan hutan liar, tidak merusak daerah resapan air, yeah… dalam pandangan singkat gw bisa aja dibilang oportunis, nggak mau tahu penderitaan orang, atau nggak simpatik sama sodara sebangsa setanah air… Toh gw tidak berbuat konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But hello, harusnya pertanyaannya dibalik. Siapa sih para oportunis sesungguhnya? Siapa yang ngebabatin pohon, buang sampah ke sungai, bikin bangunan tanpa memperhatikan kaidah tata ruang kota, mematikan daerah resapan air, dsb lah… Mereka yang harus stress mikirin banjir, tapi kenyataannya… malah nggak kebawa stress kayaknya ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi gimana caranya supaya nggak stress? Yaa… jangan fokus sama stressnya lah. Memang ada hal-hal yang nggak bisa dihindari, seperti saat kejebak macet gila kalo mau ke kantor, tapi daripada fokus sama macetnya, kenapa nggak fokus memanfaatkan waktu yang tersita untuk hal-hal yang positif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, what to do supaya nggak stress? Atau tepatnya, gimana caranya mempertahankan pikiran positif supaya nggak terkikis dengan mudah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo lagi kena macet di mobil, sambil nunggu mobil jalan matikan mesinnya, terus denger kaset mengenai pengembangan diri. Atau dengerin mp3, terus nyanyi aja biar kenceng (terbukti ampuh melepas stress loh). Atau kalo lagi ada di angkutan umum, sambil ngepit kuat tas atau kantong, selalu sediakan bacaan yang bermanfaat untuk pengembangan diri. Misalnya buku-buku dari Personality Plus series atau ‘Sukses Berinvestasi ala Warren Buffett’ (ini yang lagi gw baca dan gw ringkas saat ini). Jadi waktu yang tersita di jalan bisa dimanfaatkan secara positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalo males banget baca takut pusing, bawa mainan apalah, mungkin bawa jarum rajut dan benang, lalu mulai merajut. Atau bawa game watch kampung yang mainannya Cuma tetris (kalo bawa Sony PSP atau Nintendo DS bisa-bisa kena rampok) buat iseng. Sediakan juga permen pedas rendah kalori buat diemut di jalan. Atau iseng ajak kenalan orang yang duduk sebangku di bis. Paling sial dikira tukang bius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru cara buat ngadepin stress akibat macet. Gimana dengan yang lain? Stress karena PSSI terancam dibekukan FIFA? Nah, kalo stress yang diakibatkan hal-hal yang ‘bukan urusan kita’ sesungguhnya lebih mudah diatasi. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simply karena bukan urusan kita. Gampangnya gini, Nurdin Halid dipenjara = FIFA marah = PSSI terancam dibekukan = persepakbolaan Indonesia apa kabar? Nah, sekarang tanya pada diri sendiri, kita bisa berbuat apa supaya si Nurdin Halid mau mundur dari jabatannya = sanksi FIFA tidak jadi dijatuhkan = APBD kembali bisa disalurkan untuk ngasih makan pemain asing di tiap kota. Kalo jawabannya ‘Gw tidak bisa berbuat apa-apa’ berarti gampang. Lupakan urusan itu karena bukan urusan kamu. Stress mikirin Nurdin Halid tanpa bisa melakukan apapun = menzalimi diri sendiri. Alih-alih jadi pahlawan malah nambah dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti gw menganjurkan jadi kaum oportunis yang berdiri pada pihak ‘Gw sih asik-asik aja selama lu kagak nyenggol gw’. Tapi at least kurangilah beban pada diri sendiri yang dari awal udah berat. Ga usah ditambah-tambah. Ga usah dibawa marah. Daripada fokus sama hal negatif, lebih baik fokus pada hal positif apa yang bisa kita lakukan pada diri sendiri dan pada orang terdekat kita. Fokus bukan pada problem tapi pada pemecahan masalahnya. Daripada fokus sama ‘gak punya duit’ lebih baik fokus pada ‘gimana supaya ide gw ini bisa menghasilkan duit’. It’ll be better though.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi sih, banyakin makanan sehat. Tingkat stress tinggi, polusi udara tinggi, kurangnya perhatian pada kesehatan, banyaknya radikal bebas, bisa jadi pemicu penyakit yang paling ditakuti sekarang ini. Cepat Mati Disease. Kalo keadaan yang kayak gitu masih ditambah dengan makanan kaya lemak tinggi kalori bonus kolesterol dalam porsi gede… hehehe… yah, gw yakin lah banyak yang udah pada ngerti perlunya hidup sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus adalagi… Imbangi asupan tontonan negatif a.k.a berita menyedihkan, sinetron gak betul (emang ada sinetron betul?), infotainment kejam, film barat yang isinya cuma bunuh-tembak-ngebut-cewek seksi dengan tontonan yang rada positif. Gw nonton Avatar tiap pagi, nonton Oprah Winfrey Show (very recommended), Rekomendasi (O-Channel, sorry, Jakarta only ^^) atau Absolute 20/20 (hey, Oprah Winfrey juga nonton ini!)&lt;br /&gt;Soalnya banyak informasi penting nggak penting tapi anti stress disitu. Lebih baik gw lihat perkembangan strategi marketing lewat You Tube di 20/20 daripada nonton kasusnya Ahmad Dhani sama Maia Estianty yang kagak jelas mau kemana arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru secuil aja sih, cara-cara buat ngilangin stress. Tapi kalo butuh referensi ato pertolongan lebih lanjut, gw SANGAT menyarankan untuk membaca buku The Secret dari Rhonda Byrne. Berkali-kali gw baca, dvd-nya gw cari dan gw tonton, empat kali dibahas di Oprah Winfrey Show (2 kali siaran ulang si ^^), dan sudah merubah hidup countless people in the world. Quick looknya coba buka http://www.thesecret.tv&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw nggak lagi promosi, gw tidak sedang mencoba menjual buku ataupun dvdnya, gw tidak mendukung ormas tertentu (apa coba)… tapi gw simply pengen kamu bisa ngerasain manfaatnya juga. Terutama dalam ngadepin dunia penuh stress sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kayaknya omongan ngelantur gw udah makin jauh Pondok Gede dari Ancol… (makin ga nyambung maksudnya). Sampe sini aja dulu. Inti dari keseluruhan adalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stress bisa dicegah. Dengan cara nggak usah mikirin secara berlebihan apa yang bukan urusan kita, dan dengan membiasakan diri hidup positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Viva Jakarta lancar, bebas polusi, nggak ada pengemis + gelandangan, harga-harga terjangkau, langitnya biru, gampang cari kerjaan, busway bekerja optimal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMINKAN RAME-RAME!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://nitacool.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-8113894822047039336?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/8113894822047039336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=8113894822047039336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/8113894822047039336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/8113894822047039336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2007/11/anti-stress.html' title='Anti Stress'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-6605796506062576053</id><published>2007-10-01T23:35:00.000-07:00</published><updated>2007-10-01T23:45:31.348-07:00</updated><title type='text'>Nothing Cheaper Than Free?</title><content type='html'>Yeah… kegiatan gw tiap pagi adalah baca koran, terus nonton Oprah kalo sempet, atau nonton Rekomendasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hwell… gw nggak sedang promosi acara tipi sih… Tapi baru-baru ini gw buka Koran dan mendapati iklan provider ponsel segede satu halaman penuh bertuliskan Rp 0,- dan mengklaim gak ada yang bisa lebih murah. Ditambah dengan iklannya di tipi yang menggambarkan suasana auction dengan cewek cantik megang papan bertuliskan 0, lalu si auctionernya berbuat ala orang yang diberi hidayah… wew…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wew… Yeah… gw sendiri udah rada-rada kwik sama perang tarif yang dilakukan sama para provider di Indo. Gile bener…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo dipikir-pikir, penyedia layanan ponsel pada kebakaran jenggot. Hmm… mulainya sih sekitar 3-4 tahun yang lalu kalo gak salah, waktu diluncurin kartu As. Gara-gara ada sms gratis ke sesama pemakai, terus para provider yang lain pada ngikutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adek gw sendiri adalah korban -_-… dia pakai kartu itu beberapa lama, begitu promosinya selesai dia langsung cabut dan buang kartunya. Setelah itu dia balik pakai nomor dari provider keluarga (yeah, satu keluarga gw semua pake sama, kecuali bokap yang pake 3 sekaligus) Dan berikutnya, ganti kartu lagi karena semua temen-temennya pake akhirnya dia ikut-ikutan pake juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa gw nggak bisa ngerti orang yang bolak-balik ganti nomor. Bikin pusing sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw termasuk orang yang konvensional… Gw tipikal orang yang suka bete kalo nelepon seseorang terus mendapati bahwa nomor yang gw hubungi udah nggak bisa diandalkan lagi. Phonebook temen-temen SMU gw udah gak ada yang beres… alias udah pada diganti… Dan parahnya… digantinya secara berkala, dimana ada yang ngasih promo aneh-aneh, disitu nomor berganti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak promosi… mulai dari hadiah jaguar, bonus pulsa, sms gratis, nada sambung pribadi (padahal bukan kita juga yang nikmatin tapi kudu bayar!) sampe ngejer setoran sms buat dapet gratis sms… waaaew…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin gw susah ngerti… munculnya ponsel CDMA… sekarang ini nampaknya setiap orang harus punya dua ponsel, GSM satu, CDMA satu. Dewh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sadar gak sih kalo itu tuh liability banget?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya apa-apa, silakan aja kalo mau punya. Tapi cara pikir konvensional gw bener-bener mempertanyakan, perlukah sampe segitunya mengeluarkan uang segitu banyak demi ngejer sesuatu yang begitu sedikit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo itungan kasar gw, satu ponsel CDMA murah harganya 500 ribuan, nomornya harganya bisa sampe seratus ribuan. Atau itunglah yang termurah harganya 199ribu udah lengkap sama nomor, gratis nelepon 1000 menit… Kita ambil pukul rata 500 ribu deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus yang dikejar apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu rupiah perjam? Gratis nelepon seribu menit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap orang punya 24 jam setiap harinya, emangnya berapa orang sih yang segitu kurang kerjaannya ngabisin waktu ngobrol berjam-jam di telepon?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sih… gw juga waktu masih ABG suka bikin nyokap bete karena pake telepon rumah sampe kuping panas (dalam arti sebenarnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahem… intinya sih… buat gw, apa yang didapat nggak worth dengan apa yang dikeluarkan. Analoginya, beli angkot buat nempuh jarak 200 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan seribu per jam, harus ada minimal dua orang yang menginvestasikan uang sebanyak minimal 500 ribu rupiah, menginvestasikan waktu selama minimal 1 jam sehari buat ngobrol, menghindari jalan-jalan keluar kota karena some CDMA gak bisa dipake di luar kota, lalu menginvestasikan sekian rupiah lagi untuk membeli pulsa demi bisa menikmati seribu rupiah perjam lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terkonyol, mereka merekomendasikan kepada temannya untuk beli CDMA juga. Dewh, jangan coba-coba nyuruh gw gitu deh. Nyuruh orang gak enak biar lu enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bikin gw bertahan di satu GSM? Banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, gw dah make nomor yang sama selama 7 tahun dan bakal terus bertambah. Nomornya mudah dihapal, setelah nomor 0817 cuma ada 6 nomor dibelakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, gw udah beken dengan nomor yang ini, gak ada orang yang bisa protes karena no hp gw nggak pernah ganti dan ponsel gw selalu nyala 24/7 (yeah, tunjukkan keunggulan produkmu hai SE!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, provider gw memanjakan pelanggannya dengan menurunkan tarif sampe murraaaaah banget, yang gw yakini sebagai pemicu munculnya tarif bicara Rp 0- yang gw sebut di atas. Biarpun ‘syarat dan ketentuan berlaku’-nya agak-agak susah buat dimengerti dan bikin niat pakai jadi surut juga… gw sangat menikmati pertarungan perang harga. Karena gw sendiri dapet keuntungan dari makin murahnya tarif layanan telpon. Gw tipikal orang yang kalo ngomong gak pake lama (oh man! Ngobrol lama di telepon itu buat gw buang-2 waktu) jadi gw lebih suka dengan penghitungan tarif per detik. Sooo…. Cheap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, gw bisa puas pacaran. Pasangan gw ganti nomor di bulan kedua kita pacaran, soalnya kita sms-an bisa ngabisin sampe 20 ribu sehari kalo pake provider GSM beda. Setelah kita nyamain provider, kita bisa jor-joran smsan gratis pake fasilitas isi ulang yang memungkinkan kita smsan 100x perhari gratis sebulan setiap isi ulang cepek ceng. Sangat menolong keuangan, soalnya pulsa jadi aman, kalo diitung-itung bebas biaya pacaran 20 ribu x 30 = 600ribu, kita cuma bayar seperenamnya. Belom lagi kalo mau sms ke sesama pengguna. Enak banget kalo gw mau sms orang rumah (kecuali adek gw) karena semua pengguna provider yang sama. Dan yang terenak adalah layanan ini sudah ada sejak sangat lama dan (semoga) berlangsung seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, banyak undian. Biarpun gw nggak sering menang (paling menang pulsa beberapa puluh ribu) Tapi lumayan daripada nggak dapet apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw jadi inget. Salah satu kenalan gw bilang dia mengundurkan diri dari tempat dia kerja (dia kerja di salah satu perusahaan provider yang lagi kena demam nurunin harga). Waktu ditanya kenapa dia mau-maunya resign, dia bilang “Tarifnya makin lama makin murah, gw liat ini ridiculous banget, jangan-jangan nanti mereka gak ada duit buat bayar gaji gw!” dan gw pun tertawa ngedengernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewh… entah bener apa nggak yang dia omongin, tapi gw juga jadi mikir, si provider itu sendiri dapet keuntungan apa dengan banting harga sampe gila-gilaan bahkan sampe gratis? Darimana mereka dapet uangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sih, dari pemasukan pembelian pulsa, pembelian nomor baru, dari pemasangan iklan, dari layanan NSP atau dari akses layanan data. Tapi tetep aja. Is it worth it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebakaran jenggot karena perusahaan saingan melakukan terobosan aneh-aneh apapun itu, gw bisa ngerti sih. Tapi kalo semua udah nerapin nol rupiah alias nelpon gratis kemana-mana lantas mau diapain? Habiskah persaingan sampai situ? Nanti setelah free talk, free sms, abis itu apalagi? Free layanan data, free pulsa, dan berikutnya ponselnya juga free tiap beli nomor (oke, ini gak mungkin… secara Indonesia adalah pangsa pasar ponsel yang gede karena disini ponsel = prestise).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya sih, gw rada bingung aja, ini kayak lawakan hambar. Di Jepang, cara pembayaran pulsa bukan dengan cara isi ulang pulsa, tapi tiap beli nomor, selalu ditanyain rekening bank. Dan setiap kali seseorang menggunakan ponsel untuk bicara, rekeningnya secara otomatis didebet. Sedangkan untuk mengirim pesan, mereka terbiasa menggunakan fasilitas e-mail yang ada di tiap ponsel, bukan sms. Mereka gak kenal tarif sms murah. Jangan-jangan e-mail di ponsel mereka emang udah gratis dari sananya. How convenient!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahem… intinya sih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi yang mau dikejar? Di Indonesia memang setiap harinya orang beli ponsel dan otomatis pembelian nomor baru terus dilakukan.&lt;br /&gt;Buat yang masih baru sih emang udah wayahnya kudu direbutin, tapi buat tipikal konsumen kayak gw? Karena gw tipikal yang malas ganti-2 no. Gw bukan penghapal yang baik (karena percuma diapalin juga ganti lagi), dan gw menganggap ide ganti-2 no ponsel apalagi nambah pake CDMA adalah hal yang nggak cocok dengan gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buat tipikal orang kayak gw, perang harga adalah tontonan menarik. Menarik untuk diketawain sih. Abisnya…berlomba-lomba murahin segalanya. Sedangkan orang Indonesia makin lama toh makin miskin. Sekalipun punya ponsel, cepat atau lambat bakalan dijual karena butuh duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahem, itu ngelantur…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya… gw antara antusias dan pesimis untuk mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Obral sana sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yak… dipilih dipilih dipilih…kartunya bu… pak… beli kartu dapet jaguar, beli telpon rumah dapet rumah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-6605796506062576053?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/6605796506062576053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=6605796506062576053' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/6605796506062576053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/6605796506062576053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2007/10/nothing-cheaper-than-free.html' title='Nothing Cheaper Than Free?'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-6208526143353198873</id><published>2007-09-27T03:00:00.000-07:00</published><updated>2007-09-27T03:04:04.022-07:00</updated><title type='text'>The Box</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Hem...  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;What to say today?  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Hari ini gw kebeneran berada di rumah babeh, dan gw menonton tipi O-Channel. Itu tuh, saluran yang isinya mengenai lifestyle yang Jakarta banget ^^. Dan gw menonton suatu acara dengan presenter yang bernama Kemal. Buat orang Jakarta udah tahu lah ya dia bawain acara apa. The Box.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Apa yang bikin gw tertarik untuk ngebahas The Box ini?  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Karena selalu ada sesuatu yang jujur di dalam The Box.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Buat yang gak tahu, The Box itu adalah sebuah kotak berkamera yang biasanya ditaro di mal-mal terkemuka, pada episode yang terakir gw tonton, The Box sekarang ini berada di Senayan City lantai 5... Nah, dalam The Box ini orang-orang bisa bebas berekspresi, mulai dari nyanyi, bersandiwara, joget, bergaya aneh, atau apapun. Semua tanpa jaim, tanpa malu-malu, dan tanpa takut orang bilang apa karena emang disitu tempatnya kalo mau berbuat gila. Makanya The Box adalah sarana bagi orang berbuat jujur.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Hihihi, seumur-umur sampe ni tulisan gw upload, suer gw belom pernah masuk Senayan City, bukan kenapa-kenapa, nggak ada yang kenal disana (gak nyambung...)  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Halah, jadi yang mau gw bahas disini adalah...  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Apa ya? E... ini... tadi gw lihat ada satu scene di The Box, yang dimainkan oleh empat orang gadis muda (yang gw yakin hidup bahagia ^^, mainnya aja di Senayan City) judulnya Jomblo.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Keempat gadis bahagia itu mendefinisikan jomblo dalam artian mereka. Dari perkataan mereka gw mendapat beberapa hal menarik mengenai Jomblo, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Jomblo bukan  berarti ga laku&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Jomblo adalah  kesempatan mempersiapkan diri menyambut pacar baru&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Jomblo memiliki  banyak keuntungan antara lain&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Bisa jalan   sama siapa aja nggak masalah&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Nggak ada yang   ngatur-ngatur&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Bebas deket   sama lawan jenis sesuka hati&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Nggak ada yang   bikin nangis&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Yang menarik perhatian gw adalah poin terakhir. Karena poin itu dengan serta merta langsung diiyakan oleh seluruh gadis di dalam The Box.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Gw jadi mikir.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Apa iya ya? Jomblo = gak ada yang bikin nangis.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Hmm… gw yang dulu mungkin akan setuju dengan pendapat yang diatas. Kenapa? Karena gw tahu rasanya. Gw tahu nggak enaknya. Segalanya lah yang namanya kehidupan pacaran udah pernah gw rasain. Dari mulai jatuh bangun ngejer, berbunga-bunga pas jadian, dan nangis nggak karu-karuan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Hihihi… nampaknya semua gadis dengan kehidupan normal pernah ngerasain apa yang gw rasain sekarang. Garis bawahi kata &lt;u&gt;normal&lt;/u&gt; yah. Soalnya ada juga gadis-gadis yang nggak ngerasain nangis karena pacar, nah, gadis yang kayak gitu menurut gw nggak menjalani kehidupan normal.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Faktor penyebab berlangsungnya kehidupan tidak normal bagi para gadis:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dia kelewat  beruntung, ketemu laki-laki yang tajir baik ganteng soleh pinter  bermobil perhatian dan bisa ngertiin maunya dia tanpa harus ditanya.  Mana ada cewek yang bakal nangis kalo dapet yang beginian.&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dia dapet cowok  yang kelewat nurut, disuruh bawain bunga nurut, nganter jemput  nurut, beliin berlian nurut, masuk jurang nurut.   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dia dapet cowok  ahli nujum yang dapat memprediksi segala apa yang akan terjadi di  masa depan sehingga dia bisa menebak apa keinginan ceweknya dan  mengantisipasi apa yang akan terjadi berikutnya.   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dia cewek yang  bener-bener bebal banget. Gak mau percaya pas ngeliat cowoknya  selingkuh, gak mau denger laporan temen-temennya yang mergokin si  cowok lagi mesra-mesraan sama kucing tetangga, dsb.   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dia totally  blind and deaf. Ini berarti si cowok sangat beruntung, bisa  selingkuh sesukanya tanpa takut ketahuan.   &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Ahem… ini bukan poin gw juga sih… lagian gw percaya bukan Cuma pihak cewek yang bisa banjir air mata kalo udah urusan cinta-cintaan. Pihak cowok juga bisa sekalipun 90% persentasi yang nangis itu cewek dan 95% penyebab nangis adalah cowok.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Argh… bukan itu intinya…  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Yang mau gw bahas adalah…  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kalo emang saling mencintai kenapa harus ada air mata?  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan itu berlaku buat diri gw sendiri sih. Tapi gw yang sekarang ini udah tahu apa jawabannya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Selama ego masih dipake, maka air mata sedih akan terus mengalir. Karena sudah pasti bakalan ada pihak yang tertekan dan merasa sedih. Contohnya gw sendiri deh. Pada jaman dahulu kala, di taman depan kampus gw diadakan Taman Cinta Conello (oh, tenang, gw tidak sedang berpromosi es krim). Gw udah nunggu-nunggu banget tu acara diadain, dan gw dengan semangat pengen ngajakin co gw kesana.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Tetapi… niat suci seorang cewek kadang nggak sejalan dengan ego cowok.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Co gw nggak mau masuk ke Taman Cinta Conello karena satu hal…  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Masuknya bayar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhh….. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Oke… itu udah lewat. Mungkin karena co gw juga udah tua (25 tahun waktu itu, 26 tahun sekarang, mwahahahaha!) jadi cara pikirnya udah beda. Barangkali menurut dia acara Taman Cinta-cintaan itu Cuma buat abegeh atau dewasa muda kayak gw (21). Tapi gw tahu penyebab utamanya adalah dia nggak setuju si Conello narik bayaran karena taman yang dipake itu taman milik publik dan sebagai mahasiswa yang bersarang di kampus depan taman, menurut dia Conello nggak berhak menarik bayaran dari ‘pemilik’ taman.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Aduh… ngelantur lagi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Emm… yang mau gw omongin adalah, jika benar-benar mencintai pasangan, maka kenapa harus bikin pasangan nangis? Kalo cinta beneran ada, maka tangis pasangan seharusnya adalah tangis kita juga. Kalo beneran sayang, masa iya sih tega bikin nangis pasangan? Kecuali kalo bikin nangisnya jadi tangis bahagia sih ya silakan aja lakukan sesering mungkin.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Tangis sedih dalam hubungan cinta biasa timbul akibat luapan perasaan yang tertekan. Perasaan kecewa, marah, merasa tidak dihargai, merasa tidak dimengerti, merasa tidak diperhatikan, merasa tidak diberi haknya, merasa ditekan, merasa dikhianati, merasa apapunlah… masing-masing bisa nambahin sendiri daftarnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dan gw bisa bilang, itu semua bisa terjadi karena kurangnya komunikasi dan sikap yang dewasa dalam memecahkan masalah. Selama kata ÁKU’ masih terpakai, maka sampai kapanpun akan ada pihak lain yang yang dikecewakan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Makanya profesi arbitrary selalu rame ^^  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kuncinya mutlak terletak pada komunikasi. Dan pada saat menjalankan proses komunikasi tersebut, JANGAN PAKAI EGO. Coba lihat dari sudut pandang pasangan. Coba rasain apa yang ada di hati kalo kamu jadi dia. Jangan-jangan kamu nanti malah malu sendiri kalo udah tahu perasaan dia. Dan tentunya pasanganmu HARUS melakukan hal yang sama juga atau proses komunikasi nggak akan berjalan sukses alias useless.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Dan langkah berikutnya adalah commit buat memperbaiki diri. Jangan ulangi lagi kesalahan yang serupa di masa depan. Bikin perjanjian sama pasangan, kalo ada diantara kalian yang ngulangin kesalahan, berarti dia yang nggak commit sama hubungan kalian. Pasangan adalah orang yang kalian pilih untuk berbagi, untuk dilimpahi kasih sayang dan cinta. Masa iya tega dibikin nangis? ^^  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kalo standar gw sih, orang yang udah bikin gw nangis lebih dari 3 kali nggak pantas dijadikan pasangan. Alhamdulillah pasangan gw yang sekarang orangnya dah sesuai banget sama maunya gw (biarpun kadang bikin gemes juga sih, contohnya pas momen Taman Cinta di atas). Dia belum pernah bikin gw nangis dengan sengaja, dan gw nggak melihat perlunya dia bikin nangis gw ^^  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Udah ah. Gak ada lagi yang mesti gw ceritain disini. Intinya udah dapet kan? Siapapun yang menangis, baik dari pihak cewek maupun pihak cowok, masing-masing harus introspeksi diri.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;Yuk ah…. Makin lama makin jauh bahasan sama judul…  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-6208526143353198873?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/6208526143353198873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=6208526143353198873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/6208526143353198873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/6208526143353198873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2007/09/box.html' title='The Box'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-7377410964669512723</id><published>2007-04-22T21:56:00.000-07:00</published><updated>2007-04-22T21:58:07.721-07:00</updated><title type='text'>Kok Masih Baca Yang Kayak Gituan?</title><content type='html'>Hayah… apa yang ada di dalam pikiran kalo baca judul di atas?   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw kali ini mau ngebahas tentang salah satu habit gw. Yang menurut gw itu fine-fine aja, tapi bagi sebagian orang dianggap rada ‘beda’. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Mengenai salah satu bacaan yang sangat gw sukai sejak gw smp sampe sekarang sebagai ibu dari… halah… maksudnya dari gw masih abg sampe sekarang kuliah tingkat akhir, gw masih baca itu. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, bacaan gw sampe hari ini salah satunya adalah majalah GADIS. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Lu kok masih baca begituan sih, Nit?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Ih, masa udah gede bacanya GADIS?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Gak salah Nit, lo sukanya bacaan anak-anak abg gitu?” &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, contoh kalimat yang selalu mampir ke gw setiap kali gw muncul di suatu tempat sambil membawa satu eksemplar majalah Gadis terbitan terbaru. I’m not going to do any promotion things here, lagian gw toh nggak dibayar buat ngiklan. Tapi gw Cuma agak geregetan aja. Makanya gw jadiin bahan tulisan. Yeah, yang rajin baca blog ini udah ngerti lah, gw tipikal orang kurang kerjaan yang senengnya ngebahas hal-hal gak penting. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw Cuma pengen nanya aja. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Emangnya salah ya kalo di umur gw yang (masih) 21 (saat ini diketik…) majalah yang gw baca ‘masih’ majalah Gadis? Apakah karena gw sudah dianggap terlalu ‘tua’? Malu sama umur, gitu? Secara gw sekarang tingkat akhir semester akhir di kampus dan Gadis itu notabene bacaannya abg smp-sma? &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw suka baca itu karena emang isi dan info yang dimuat di dalamnya sesuai dengan apa yang gw mau. Gw cocok dengan tu bacaan, baik isi maupun harganya. Pertimbangannya toh bukan apa-apa, tapi karena gw menyukai tu majalah, titik. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Emang harusnya cewek seumuran gw itu mesti baca apa? Cosmopolitan? Terbit sebulan sekali, tebel banget, harganya mahal dan isinya seks melulu? Atau gw harus baca Femina? Isinya mengenai karier, problematika wanita bekerja, resep masakan, pola baju, dan tips-tips menghadapi suami rese? Ataukah gw harus menjadi pembaca Nova? Isinya gosip selebritis, fashion standar, resep masakan gak puguh, tips-tips dapur, tips mendidik anak, dan berita-berita kriminal nggak jelas? &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Not my style. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sorry, gw bukan tipikal orang yang bersedia mengorbankan kenyamanan diri demi mendengar ‘apa kata dunia’. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Suer, gw capek banget ngedenger komentar orang mempertanyakan kenapa gw masih aja bawa-bawa (dan membaca) majalah Gadis. What do you want from me, actually? Duitnya toh duit gw, yang baca juga gw, yang perlu itu gw, so what’s your problem? &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Coba, gw selalu ngelakuin ini di depan orang yang ngeledekin gw ; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw taro aja tu majalah Gadis tepat di depan idungnya. Dan hal berikutnya yang pasti dia lakukan adalah mengambil tu majalah dan membaca isinya. Heh, ngelawak dia. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Silakan aja lo ngeledekin gw segimana rupa, ujung-ujungnya lo juga baca majalah gw &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;? Gratis pulak. Toh yang beli gw. Lo tinggal ngeledekin dan nikmatin. Bener-bener lucu. Omongan sama kelakuan nggak balans sama sekali. Apa ya istilahnya ; ‘nggak kongkrit’ mungkin cocok dijadiin kata penunjuk yang tepat. If you mean to spit on me, then never let your words turns into my weapon against you. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;One day, gw bawa satu eksemplar majalah Gadis terbitan terbaru ke sebuah ruangan yang sering dikunjungi oleh orang-orang ‘dewasa’. Gw sebut dewasa karena disitu gw paling muda. Secara gw masih 20 tahun. Tu majalah gw geletakin aja di meja. Dan bisa ditebak, apa yang terjadi berikutnya? &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Semuanya pada bergiliran baca. Dari cewek berusia 21-an, sampe cowok berusia 27 pada baca semua. Well, padahal tadinya semua pada mencibir dengan kata-kata ‘kok bacanya begituan’? &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Ahahaha, nggak usah jauh-jauh. Co gw juga gitu kok. Kemaren pas gw minta temenin beli Gadis, gw sama dia duduk di bawah pohon di bilangan tengah kampus ITB, setelah gw selesai baca, dia gw tawarin, mau baca apa nggak. Jawabannya adalah ; nggak sekarang, nggak disini, ntar aja. Tapi berikutnya gw buka halaman zodiak, terus gw sodorin tu majalah ke depan dia. Toh pada akhirnya tu majalah sama dia diambil dan dibaca juga… &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Oke… oke… dah mulai susah dicari maunya gw ngomong apa ya?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Intinya ; gak usah ngajarin gw buat memilih apa yang ingin gw baca. Karena gw nggak sama dengan para manusia ‘biasa’ di luaran. Okay, gw nggak menolak saran, tapi kalo nggak cocok sama gw sendiri kenapa gw harus denger? Gw suka baca GADIS, kenapa gw harus memaksakan diri baca Nova? Informasi di dalamnya nggak gw butuhkan dan pola pikir gw berbeda dengan apa yang menjadi main style disitu. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Hal ini berlaku untuk semua pilihan gw. Bukan kenapa-kenapa, seandainya gw harus berubah, maka gw mau keputusan itu berasal dari diri gw sendiri. Karena dengan begitu maka perubahan yang terjadi akan bertahan lebih lama dan bisa berkembang ke arah yang lebih baik. Karena gw-nya ikhlas ngerjain! Dan tentunya gw mau menekankan bahwa arah perubahan itu harus ke arah yang lebih baik dan lebih bermanfaat tentunya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Mungkin suatu saat ada waktunya gw akan beralih membaca majalah yang lebih dewasa sesuai dengan usia gw, tapi apabila waktunya tiba, maka gw akan dengan senang hati memilih sendiri bacaannya apa. Karena gw yang tahu, apa yang gw butuhkan. Gw yang menentukan kapan mau ganti bacaan dan bacaan macam apa yang mau gw pilih. Gw yang pegang kendali, bukan ‘apa kata dunia’ yang ngatur gw.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sayangnya, di dunia ini gw jarang sekali melihat orang yang dengan sadar mau merubah diri ke arah yang lebih baik. Yang selalu gw lihat adalah setiap orang selalu ingin merubah orang lain. Supaya apa? Supaya sesuai dengan maunya dia! Jelas! Dan dengan alasan apa? Karena ingin diterima apa adanya…. Bleh! &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kelaut ajalah kow… &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;At least, baca GADIS masih jauh lebih baik daripada nggak baca apa-apa… (berusaha menyindir tingkat minat baca di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sangat rendah)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dah ah… &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-7377410964669512723?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/7377410964669512723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=7377410964669512723' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/7377410964669512723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/7377410964669512723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2007/04/kok-masih-baca-yang-kayak-gituan.html' title='Kok Masih Baca Yang Kayak Gituan?'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-116961973541339791</id><published>2007-01-23T22:19:00.000-08:00</published><updated>2007-01-23T22:22:15.696-08:00</updated><title type='text'>Why (Should) I Hate Nirina Zubir?</title><content type='html'>Hm, bahasan kali ini kayaknya beda sama yang sebelumnya. Kenapa gw milih judul di atas buat jadi topik? Curhatan pribadi gw aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw (harus) benci sama Nirina. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh manusia di sekitar gw mempertanyakan. Apa gw punya dendam pribadi sama Nirina? Kenal kagak sodara kagak. Dan ini yang bikin gw sangat bersemangat buat ngebahas. Kenal sama Nirina nggak, sodaraan sama dia juga nggak, kenapa gw (harus) benci sama dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana kalo pertanyaannya dibalik? Statement-nya sama, kenal nggak sodara nggak, kenapa (harus) menyukai (dan mati-matian membela) Nirina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi semua orang yang mempertanyakan kenapa gw benci Nirina, gw bakal nanya balik, apa alasannya sampe lo merasa perlu tahu alasan gw? Dan buat orang yang menganggap kalo gw salah karena benci tanpa sebab, maka gw bakal ngasih pertanyaan balik, lo pikir dengan membela Nirina, Lantas jadi ksatria, gitu? Terus kalo lo ketemu sama Nirina asli berikutnya Nirina bakal menghadiahi kamu ciuman tanda ucapan terima kasih? Gak deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke… oke… inti bahasannya belom masuk. Tepatnya, alasan kenapa gw sepertinya gemes bener sama makhluk berjudul Nirina ini. Gimana kalo kita menengok ke beberapa post gw sebelum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini gw selalu nulis tentang masalah relationship, atau hal-hal yang berhubungan dengan isu genderis dan gerakan feminis. Buat yang punya waktu lebih, tolong baca lagi tulisan gw di bawah yang judulnya ‘Manifestasi Keegoisan Laki-Laki… dst’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada point ke empat belas, tertulis:&lt;br /&gt;- We absolutely do not care about the Backstreet Boys, *NSYNC, Westlife, or what any other guy looks like for that matter&lt;br /&gt;Dan kami para cewek juga nggak peduli mati sama Karenina, Nirina, Luna Maya, Revalina, Rianti Rhiannon, Paris Hilton, Pamela Anderson atau apapun makhluk berwujud LUAR cantik lainnya. Karenina itu Cuma lulusan SMU, kami nggak ngerasa dia pantas dibandingin sama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, poin di atas adalah poin yang paling krusial dalam melatar belakangi kenapa gw milih topik ini dibahas. Atau tepatnya… menuliskan curhatan gw sendiri. Anyway, bukankan ini salah satu fungsi dari blog? ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dulu) setiap gw bikin tulisan, gw punya orang yang bisa dibilang editor. Temen baik gw. Tapi sayangnya dia COWOK. Tadinya gw pikir dia orangnya netral dan bisa diajak berpikir di luar sudut pandang orang pertama. Tapi ternyata gw agak meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu gw ngajak dia buat ngebahas poin no 14 di atas, sebagai tanggapan atas statement yang ditulis tebal, gw berkata “Kalo dilihat dari sudut pandang cewek, kita juga nggak peduli mati sama Nirina, Karenina, Paris Hilton, dsb…dst….”. Gw bilang gitu bukan dengan maksud apa-apa, pengen diskusi aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa reaksi yang dikeluarkan oleh teman baik gw itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, gua kan nggak pernah ngejelekin Tom Felton, gua kan nggak pernah ngomong jelek tentang Steven Strait, kok loe gitu sih sama Nirina?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TING TONG….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga gw sadar kalo dia nggak punya otak yang memadai untuk diajak ngomong objektif. Okay…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, alasan sebenernya apa Nit? Apa hubungannya sama si Nirina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hwell, si temen baik gw itu menyukai Nirina, dan saat gw pake nama Nirina sebagai CONTOH kasus, dia MERASA PERLU buat mati-matian MEMBELA Nirina, pake ngotot, ngebentak, yeah, bersikukuh. Barangkali dia pikir dapet pahala dengan ngebela si Nirina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gw yang tadinya cuma pengen make Nirina sebagai contoh nama, akhirnya memutuskan untuk memasukkan nama Nirina dalam list orang yang (harus) gw benci. Meski dalam kondisi yang rada ngambang, karena gw nggak punya dendam pribadi sama Nirina, gw nggak kenal Nirina, dan gw bukan sodara Nirina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya hal yang nyambungin gw sama Nirina itu cuma keadaan bahwa si Nirina itu mantan pacar dari kakak temen kecil gw. Yeah, gw nggak usah sebutin siapa orangnya, yang pasti dia seleb, kalo gw ngomong ntar gw dibilang sombong, dan nggak enak sama Merari karena udah bawa-bawa nama kakaknya. Lagian toh si kakak udah putus ini sama Nirina (good choice, Bang!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke… oke… jadi lo mau ngomong apa sih Nit? Gw cuma mau ngomong…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngefans sama artis boleh, mau jadi groupies juga silahkan, mau muja-muja seleb sampe jadi sesembahan kedua setelah Tuhan, ya urusan lo. Tapi please lah, coba bedain, buat apa lo mati-matian buat orang yang nggak kenal lo sama sekali sampe nggak bisa mikir mana yang objektif dan mana yang subjektif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh hasilnya sama, si seleb nggak bakal ngeliat lo sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar sarana yang bikin dia terkenal, tolok ukur buat adu beken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak perlu Nirina sebagai contoh, yang lain sama aja lah. Tipikal supporter sepak bola. Berantem demi klub yang dia jagoin, padahal kalah menang sama aja, si idola nggak akan ngehargain mereka karena toh dari awal si supporter penting hanya sebagai basis gengsi, buat show off jumlah bekingan, dan pasar buat jualan merchandise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, gw sudah terlihat sebagai orang yang gusar banget dari omongan sinis gw di atas. Actually gw nggak benci-benci amat sama artis, yang gw benci itu kalo dia terkenal karena modal tampang, sedikit kemampuan acting, dan hobi gonta-ganti warna rambut (heck, referring to someone I despise), dan TANPA kemampuan otak yang memadai. Atau…. Sekalipun otaknya memadai, tapi ilmu yang dia miliki nggak jadi ilmu yang bermanfaat, alias tidak terpakai. Sayangnya, itu jadi salah satu syarat masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw lebih menghargai orang-orang yang disukai karena totalitas yang dia lakukan untuk bidang yang dia tekuni, dan dia hayati dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nit, kayaknya lo sebenernya bete banget sama temen lo yang memuja Nirina itu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh… oke…. Oke… gw ngaku… sebenernya tulisan ini tuh sebenernya kata-kata yang pengen gw omongin di depan muka temen gw itu, tapi berhubung dia orang yang minta untuk diterima apa adanya (read my previous post to understand this) maka gw menahan diri untuk nggak ngomong secara langsung ke orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw pengen ngomong, buat si temen gw khususnya, apakah buat dia ngebelain Nirina segitu rupa terus pada akhirnya dia ngerasa udah meluruskan hal yang benar? Dan ngebela Nirina dengan cara ngejelekin balik Tom Felton ato Steven Strait, dengan pertimbangan kalo gw (kayaknya) suka sama mereka seperti dia suka sama Nirina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw bukan tipe idol atau groupies atau apalah itu… sori, buat gw, orang yang cuma punya tampang sama sekali nggak worth buat diidolakan. Kalo lo mau nanya siapa orang yang gw idolakan, pertama itu Rasullullah SAW, kedua Napoleon Bonaparte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana kalo gw sekarang bilang kalo Nirina tu (silakan pikirkan kata-kata makian yang nggak-2) atau apalah yang lain-lainnya, apa dia mau bilang hal yang sama kepada idola gw diatas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please deh, selama berbulan-bulan gw mikirin ini, dan pada akhirnya gw memutuskan untuk bener-bener membenci Nirina. Buat apa? Buat menjadikan anggapan temen gw itu jadi kenyataan. Gw selalu mengabulkan apa yang diinginkan orang dari diri gw. Dia pikir gw benci Nirina, so be it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke… oke…. Buat kalian yang baca, kayaknya udah muak bener ya? But I’m not under obligation to utter any apologize here… after all this is my blog. Kalo lo nanya, sebenernya tujuan gw nulis bahasan kali ini apa, maka gw mau bilang kalo gw mau nyepet si temen (baik) gw itu. Gw pengen ngasih tahu aja kalo dia itu udah berbuat TOLOL dengan membela seseorang yang dia nggak kenal dan sodara juga bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, apa gw harus dibilang udah berbuat tolol juga dengan meng-accuse nama Nirina?&lt;br /&gt;Sorry to tell you about this, gw mentolerir hal ini selama tidak diucapkan di depan orangnya langsung. Setiap presiden di bumi Indonesia, pasti pernah mengalami dibakar fotonya, dihujat, dihina, disuruh turun, dan lain sebagainya. Setiap manusia, pasti pernah ngerasain yang namanya dipergunjingkan, digosipin, dirasani, atau apalah istilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw pribadi nggak keberatan di-insult sama orang lain, selama nggak berlangsung di depan idung gw sendiri. Soalnya kalo kejadian di depan muka gw sendiri, pastinya tu orang bakal langsung kehilangan nyawa pada detik berikutnya. Fair ajalah. Gw juga nggak pernah nge-insult orang langsung di depan mukanya sendiri kok. Lewat blog menurut gw adalah cara nggak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo suatu saat Nirina yang asli nyasar dan baca tulisan ini, gw nggak akan ngamuk kalo berikutnya dia bikin tulisan tandingan yang isinya ngejelekin gw, mainannya fair aja. Tapi gw nggak ngejamin kalo gw nggak akan nulis balasan yang intensitas prick-nya berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heck… makin lama gw nulis kok makin ngelantur ya? Jarang-jarang gw nulis pake emosi kayak gini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, gw juga nggak nutup kemungkinan kalo bakal ada orang yang muak abis baca tulisan gw yang ini, dan berniat (pengennya sih baik) membela Nirina dengan cara menginsult gw. Dan seperti apa yang udah gw bilang sebelumnya, itu toh hak azasi, gw sih oke-oke aja, selama nggak dilakukan di depan orang yang bersangkutan. Dan tentunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, pengaruh stress saat liburan kayaknya ^^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udahan ah…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-116961973541339791?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/116961973541339791/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=116961973541339791' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/116961973541339791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/116961973541339791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2007/01/why-should-i-hate-nirina-zubir.html' title='Why (Should) I Hate Nirina Zubir?'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-116460679803273716</id><published>2006-11-26T21:51:00.000-08:00</published><updated>2006-11-26T21:53:18.543-08:00</updated><title type='text'>A Lady Escort, Me?</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu, gw menulis sebuah post dalam topik perkenalan diri di sebuah forum internal yang hanya bisa diakses dari dalam kampus ITB.   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Post sebelum gw menuliskan bahwa dia menerima jasa membuat kaos dan pin (kalo gak salah). Dan dengan maksud mengikuti &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; berpromosinya dia, gw menuliskan “Menerima jasa desain, ilustrasi, kue-kue coklat, foto, …….. dan &lt;b style=""&gt;menemani jalan-jalan&lt;/b&gt; asal ditraktir dan pulangnya dianter.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Nah, beberapa hari kemudian, gw menerima private message dari salah seorang anggota forum yang sama. Disitu dia mencantumkan quote dari kata-kata gw tersebut, dan di bawahnya dia menambahkan kata-katanya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Wah, hati-hati, ntar dikira menyediakan jasa layanan escort loh” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw pun tersenyum. Escort. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Apa sih yang dimaksud escort disini? Kenapa berkesan agak ‘miring’ dari kalimat si pengirim pesan di atas? Escort… ada beberapa kalimat yang bisa dipakai untuk memberi penjelasan sedikit tentang penggunaan kata escort di luar negeri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Security, please escort this man to the outside” – Robert Thorn, &lt;i style=""&gt;Omen 666.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Now Sora, could you please escort me to the throne room?” – Minnie Mouse, &lt;i style=""&gt;Kingdom Hearts II&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Contoh pertama oleh Robert Thorn, menyiratkan ‘pengusiran’ secara halus. Tapi terjemahan bebasnya adalah “Satpam, tolong antarkan bapak ini sampai pintu keluar” Sedangkan pada contoh kedua, terjemahannya artinya kira-kira begini “Sekarang Sora, bisakah kamu mengawalku ke ruang singgasana?” Minnie Mouse menginginkan Sora untuk mengawal dia ke sebuah ruangan, karena tempat itu penuh musuh.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Jadi, sebenernya apa yang salah dalam kata ‘escort’ menurut orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gara-gara si Moammar Emka menulis Jakarta Undercover yang fenomenal, salah satu bab-nya membahas tentang keberadaan ‘Lady Escort’. Sejak saat itu arti kata ‘escort’ di Indonesia mengalami pergeseran makna. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Makna ‘Lady Escort’ bergeser ke arah negatif, padahal kalo dibaca di buku Jakarta Undercover, si Lady Escort itu bukan… apa ya istilah halusnya… bukan wanita yang bisa dipakai. Kerjaan Lady Escort itu cuma menemani tamu ngobrol, mereka cuma duduk aja di dekat si tamu dan kliennya, meramaikan suasana, sesekali ikut menemani minum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Udah, gitu doang. Lady Escort berbeda dengan profesi lain yang dibahas oleh si Moammar Emka, tapi cap negatif memang sudah menempel pada mereka karena tempat kerja mereka yang notabene udah dianggap jelek dari sananya, jam kerja mereka yang dianggap nggak pantas buat cewek, -menurut orang konservatif disini-, atau karena mereka bekerja dengan resiko tinggi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Okay… sejauh ini gw seperti membela profesi Lady Escort habis-habisan… apa alasannya? Balik lagi ke paragraf awal pada tulisan ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw bersedia menemani jalan-jalan asal ditraktir dan dianter pulang. Sepintas emang statement ini dinilai sebagai candaan. Karena mengisyaratkan gw sama dengan penyedia layanan escort (dalam pandangan orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;). Sekarang gw balik aja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Diajak jalan-jalan, ditraktir, dianter pulang. Emang lo nggak mau kayak gitu? Bullshit abis kalo jawabnya nggak. SEMUA orang pasti mau kayak gitu. Nggak peduli cewek apa cowok, nggak peduli berapa usianya, nggak peduli anak pejabat apa pramuria beneran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Itu sifat dasar manusia. Siapa yang mau menolak kenyamanan seperti itu? Makanya gw ketawa pas ada yang bilang gw supaya hati-hati takut dikira menawarkan jasa escort. Soalnya gw yakin dia juga pasti mau kalo diajak jalan-jalan, ditraktir, dan dianter pulang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kalo yang namanya ‘escort’ diartikan secara sempit seperti itu, berarti semua cewek di dunia pernah menjadi penyedia jasa escort bagi pasangan mereka. Coba, yang namanya orang pacaran pasti pernah jalan-jalan ke mall, yang cowok pasti suka ngebayarin atau ngebeliin ceweknya apapun, dan pulangnya pasti si cewek dianter. Apa itu berarti si cewek adalah Lady Escort untuk pacarnya? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan dalam kondisi gw yang kayak gini, bisa lah gw dibilang lady escort kelas teri. Bukan kenapa-kenapa, gw emang menjalani hidup yang kayak gitu. Tapi sama siapa dan atas tujuan apa, tentu aja ini membedakan gw secara drastis dengan lady escort sesungguhnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Setiap manusia yang hidup dalam peradaban, pasti pernah terlibat dalam percakapan ini: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Temen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: Nit, temenin gw nyari baju di BSM yuk! Sekalian makan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Nita&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Duh, gw lagi nggak punya duit nih, lagian ntar gw baliknya gimana?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Temen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: Tenang, gw traktir deh, kebeneran gw lagi bawa mobil hari ini, ntar gw anter aja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Nita&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Yyyyyuuuuuukkkkk…. Marreeeeeee!!!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Masa yang kayak gini dibilang menyediakan layanan escort? *ngakak*&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Manusia itu makhluk sosial. Terutama kaum gw, cewek. Mana lengkap kalo jalan-jalan shopping cuma sendirian? Gw pribadi termasuk tipe yang –daripada nggak ada temen jalan mending nggak usah pergi sekalian-. Tapi itu dulu sih. Sebelum gw nerapin prinsip berdikari dalam kehidupan gw yang sekarang. But, well… kalo ada yang bersedia nemenin, gw bakalan sangat senang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Nah, karena keberadaan orang-orang yang –malas sendirian- itulah, makanya keberadaan lady escort kelas teri kayak gw jadi diperlukan XD. Toh sabda Nabi mengatakan, apabila kamu diberi tawaran yang baik (buat gw, selama tidak merugikan), maka jangan ditolak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan untuk ukuran makhluk pas-pasan kayak gw, tentunya setiap tawaran baik adalah tabu untuk ditolak. I have to make my own living. Dan kalo boleh jujur, baju yang gw pake waktu lebaran kemaren gw dapat karena gw menemani satu keluarga jalan-jalan keliling &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; seharian. Escorting, I did it. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Apakah gw bener-bener jadi lady escort dengan melakukan itu? Dan lagi, apakah kelakuan gw itu jelek? Apakah gw bisa dibilang sebagai cewek matre? Apakah gw bisa dibilang sebagai leecher? Toh gw nggak menawarkan apa-apa lagi selain telinga untuk mendengarkan keluh kesah mereka dan keberadaan diri gw untuk nemenin jalan-jalan. Gw nggak minta dibeliin ini itu, tapi kalo ditraktir &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; apa boleh buat?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Lagian, gw yakin, semua orang di dunia akan dengan senang hati melakukan hal yang sama. Nggak ada yang bisa menolak sesuatu yang bersifat gratis. Apalagi demi tujuan mulia, yaitu menemani seseorang yang butuh bantuan (misalnya ngasih saran buat belanja baju). Win-win solution, isn’t it? Si teman puas karena kita sudah menjadi teman yang baik (ada saat dibutuhkan dan tidak mengeluh meskipun harus menemani dia jalan jauh kesana kemari), kita juga puas karena kebutuhan kita juga terpenuhi (perut kenyang, syukur-2 dibeliin oleh-oleh) dan nggak perlu bingung soal pulang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sekali lagi… gw cuma pengen bilang… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Jangan memandang dan mengartikan kata ‘escort’ dengan sempit. Karena hal itu cuma bakal jadi bahan ketawaan bagi orang-orang kurang kerjaan kayak gw yang kerjanya merhatiin orang tok. Begitu pula dengan kata-kata lain yang sudah mengalami pergeseran makna di bahasa Indonesia menurut Ejaan Yang Diserempetkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Hwell, ada yang mau gw temenin jalan-jalan? Dengan dua persyaratan diatas tentunya :D&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-116460679803273716?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/116460679803273716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=116460679803273716' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/116460679803273716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/116460679803273716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2006/11/lady-escort-me_26.html' title='A Lady Escort, Me?'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-116288955376202765</id><published>2006-11-07T00:50:00.000-08:00</published><updated>2006-11-07T00:52:34.026-08:00</updated><title type='text'>Terima Gue Apa Adanya…</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Familiar dengan kata-kata yang dipakai dalam judul di atas? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Semua orang, termasuk anda yang lagi baca tulisan ini, pasti pernah mengucapkan kata-kata ini. Ngaku aja lah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw milih untuk ngebahas ini karena gw udah muak abis sama apa yang tertulis dalam bulletin board di Friendster, tiap kali gw ngisi, pasti selalu ada pertanyaan : Tipe pacar yang kamu inginkan itu yang seperti apa sih? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, para cewek (yang ngerasa kecakepan) akan menjawab : Yang ganteng, tinggi, putih, kaya, pinter, six pack…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan para cowok (yang ngerasa kecakepan juga) akan menjawab : Yang cantik, seksi, rambut panjang, putih, manis …&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Lalu ada juga orang-orang (yang merasa biasa-biasa saja) menuliskan : kriterianya nggak susah kok… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Buat yang ngerasa jelek biasanya menghindari mengisi buletin dengan topik beginian (no offense, murni bercanda)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan terakhir, nggak cowok maupun cewek dari ketiga kriteria yang pertama disebutkan diatas, mereka PASTI akan menuliskan :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Yang mau nerima gue apa adanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Mau contoh lain? Gw bela-belain nyoba masuk ke tempat-tempat bernaungnya para jomblo kasian dan kesepian di Astaga.com a.k.a love match, alasan gw di situ cuma buat liat-liat aja, gw nggak pernah membuang-buang waktu buat hunting cowok disitu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw selalu nyempetin ngeliat profile para jomblo disitu. Dan gw menemukan bahwa 95% manusia yang ada di Astaga love match menginginkan pasangan yang &lt;b style=""&gt;mau menerima mereka apa adanya.&lt;/b&gt; Yang 5% sisanya mungkin orang-orang kurang kerjaan yang cuma mau ngumpulin fans atau buat iseng-iseng. Soalnya yang tipikal om-om gatel juga ada di situ. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Heheh, gw jadi bisa narik suatu kesimpulan yang nggak perlu dibuktikan lebih lanjut. Kenapa mereka bisa jadi jomblo abadi? Padahal kriteria pasangan mereka nggak rese-rese amat? Cuma satu, mereka hanya butuh pasangan yang mau nerima mereka apa adanya. Itu doang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Justru itu yang jadi masalah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Coba, mereka pada sadar nggak sih, kalo seseorang yang mengeluarkan kalimat “Saya menginginkan pasangan yang mau menerima saya apa adanya.” Berarti dia menyatakan diri bahwa dia adalah orang yang &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;EGOIS&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kenapa gw bisa bilang kayak gini? Yang pasti gw berani ngomong gitu tidak tanpa alasan yang kuat. Gw udah kenyang berada di posisi ‘orang yang mau menerima orang lain apa adanya’ dan percayalah, NGGAK ADA orang yang bener-bener kuat untuk terus menerus berada di posisi itu tanpa mendapatkan perlakuan balik yang setimpal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sepintas memang kedengerannya mudah. Tidak perlu memiliki latar belakang keluarga yang kaya, nggak perlu ganteng atau cantik, nggak perlu seksi atau six pack, nggak perlu tinggi dan putih untuk bisa mendapatkan seorang pasangan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Masalahnya adalah, orang yang ingin diterima apa adanya&lt;b style=""&gt; selalu&lt;/b&gt; adalah orang-orang yang egois. Gw nggak mau bilang sorry buat mereka yang tersinggung, karena emang itulah yang terjadi pada kenyataanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sadar nggak sih, kalo dengan menginginkan untuk diterima apa adanya, maka itu berarti menunjukkan kebutuhan mutlak untuk dimanja, untuk dipuja, tidak dikritik &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sini sejelek apapun kelakuan, atau tidak ditegur sebesar apapun kesalahan yang dilakukan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sesempurna-sempurna nya seorang manusia, dia pasti punya sifat yang bikin pasangannya nggak tahan. Dan menurut gw, bukan sesuatu yang adil apabila kita harus menerima hal itu karena terkekang oleh kalimat sakti ‘terima gw apa adanya’. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Konyol aja, misalnya kita punya asma, dan pasangan suka ngerokok. Kalo disuruh matiin rokoknya, dia bakal berkilah “Katanya kamu bakal nerima aku apa adanya…” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Suer, payah banget. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Oke, kali ini curhatan pribadi, gw punya seorang temen cowok yang gw sayang banget. Sampe sekarang dia masih jomblo. Bukan suatu hal yang mengherankan kalo tahu sifat-sifatnya kayak apa, padahal dia punya tampang yang bagus. Hwell, gw tahu pasti kalo dia tipe-tipe orang yang pengen diterima apa adanya (yeah, siapa sih yang nggak?!)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;So… sebagai teman (yang baik, I hope) gw sebisa mungkin menerima dia apa adanya. Dan cara termudah mempraktekkan kalimat sakti ini adalah dengan cara tidak protes pada apapun kelakuan dia, berusaha untuk ada setiap dia butuh, dan tidak melakukan hal-hal yang dia tidak suka. Sounds simple, huh? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kenyataannya, gw malah menemui fakta yang aneh. One day, dia bilang ke gw kalo dia merasa nggak enak karena gw ‘terlalu’ nerima dia apa adanya. Dia bilang dia ngerasa kalo selama ini dia jadi nggak enak setiap kali mau ngasih tahu kalo ada kelakuan gw yang dia rasa nggak berkenan (chieh). Karena apa? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dia ngerasa nggak enak karena gw nggak pernah mengeluh mengenai kelakuan dia. Kalimat ini bikin gw mikir selama berbulan-bulan. Gw bener-bener nggak habis pikir. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Tadinya gw percaya kalo setiap hal yang berhubungan dengan kuasa manusia ada batasnya, kecuali kebodohan dan kemiskinan. Tapi ternyata egois itu nggak kenal batasan juga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dia sampe segitunya ngerasa perlu untuk ‘ngebilangin’ gw. Sementara gw sampe segitunya ngerasa perlu untuk membuat dia merasa nyaman karena diterima apa adanya.. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Intinya, dia ngerasa nggak enak karena gw nggak pernah protes sama kelakuan dia. Itu mengarah pada dua kesimpulan yang ambigu, yaitu :1. Dia orang yang tahu diri, mengerti dengan baik prinsip take and give, dan masih mau memikirkan perasaan orang lain. Sedangkan kesimpulan 2. Dia bener-bener dobel egois, pertama dia minta diterima apa adanya, dan berikutnya dia protes karena permintaannya dikabulkan. Lantas gw mesti bersikap kayak apa? Cerewet salah, diem kayak patung lebih salah lagi. Maunya apa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Well, yeah. Kita nggak terlalu dekat lagi sekarang karena dia pada akhirnya TIDAK bersedia melakukan hal ‘menerima apa adanya’ terhadap gw. Ya sudah, berarti value gw di mata dia cuma segitu. Moga-moga aja dia nemu orang lain (selain keluarga dan teman laki-laki) yang mau ‘nerima dia apa adanya’ dengan intensitas yang lebih tinggi, selama lebih dari 12 bulan berturut-turut tanpa dia harus MENGUBAH kepribadian yang sudah terbentuk dari awal. And I doubt it will happen to him.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Syarat utama dari seseorang agar bisa diterima apa adanya oleh pasangannya sebenernya cuma satu. Orang itu HARUS MAU melakukan hal yang SAMA pada pasangannya. Dan pada akhirnya nggak ada manusia yang bener-bener sanggup buat commit melakukan hal ini terus menerus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yang namanya manusia itu harus beradaptasi, menyesuaikan diri. Nggak bisa terus-terusan mengharapkan orang lain yang menyesuaikan diri dengan kita. Egois emang sifat dasar manusia, tapi kalo kelewatan jelas bahaya. Yang namanya pasangan itu harus saling melengkapi, dan manusia itu nggak ada yang sama, jadi menilai orang sebaiknya tidak dengan citra diri sendiri. sayangnya, hal mudah ini sering sekali dilupakan banyak orang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kembali ke masalah para penghuni kontak jodoh di paragraf atas. Gw nggak akan heran kalo mereka bakalan failed terus. Selama mereka masih mencari orang yang mau nerima apa adanya, maka selama itu juga mereka bakal jadi jomblo abadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Oke… oke… kita masuk ke dalam tahap kesimpulan… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Setiap manusia yang pernah hidup di dunia, tentunya sangat menginginkan agar dapat diterima apa adanya. Tapiiiiii…… Berapa persen sih ada manusia yang bersedia untuk menerima apa adanya? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Untuk diterima apa adanya, tentunya benar-benar menggiurkan, sampe-sampe banyak orang yang rela untuk lama menjomblo demi menemukan seseorang yang mau menerima dia apa adanya. Semua orang mau. Dan banyak orang rela membuang banyak waktu demi menemukan seseorang yang mau ‘dibudakin’ (istilah gw) untuk menerima mereka apa adanya. Heck… what a waste of time… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dilain pihak, orang yang bersedia untuk ‘menerima apa adanya’ secara murni itu hampir nggak ada. Persentasenya dari seluruh penduduk dunia mungkin mencapai nanopersen. Nggak ada orang yang mau menerima orang lain apa adanya, kecuali dia mendapat perlakuan baik yang setimpal. Nah, ini jadi lingkaran setan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Pada setiap awal hubungan, mungkin banyak orang yang mau commit mengatakan bahwa dia akan menerima si pasangan apa adanya dia. Tapi berapa persen sih yang sanggup untuk melakukan hal yang sama terus menerus? Apalagi kalo nggak mendapatkan perlakuan yang sama dari pasangan mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan yang namanya manusia pasti mengharapkan pasangan yang sesuai dengan maunya dia. Karena itu setelah jalan beberapa lama, saat sifat asli mulai terlihat, saat jaim mulai luntur, baru ketahuan kalo ada beberapa ketidakcocokan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Buat manusia awam yang nggak ngerti Skill With People, hal pertama yang akan dia lakukan adalah meminta si pasangan untuk MENGUBAH sifat yang tidak disukai oleh pasangannya. Hal ini aja udah cukup untuk menghancurkan statement ‘Terima Apa Adanya’ bagi si manusia awam yang MEMINTA pasangannya untuk merubah sifatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Menurut gw, hal ini sangat haram dilakukan, apalagi buat orang yang pengen diterima apa adanya mending jangan coba-coba nyuruh orang lain buat ngerubah sifat mereka, kecuali mau melakukan hal yang sama. Enak aja. Egois tanpa batas itu namanya. Minta diterima apa adanya, tapi masih minta orang lain untuk berubah demi enaknya dia. Dan biasanya ini dilakukan oleh gender yang sering ngerasa lebih berkuasa atas gender satunya lagi (ini kalimat tak langsung namanya). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Jujur aja, hal diatas pernah terjadi sama gw sendiri. Gw diminta untuk merubah sifat dasar gw, yaitu sifat ngomong blak-blakan dan langsung mendebat apabila ada yang nggak sesuai dengan statement gw (dan biasanya gw selalu menang). Si teman baik yang gw sebut diatas, ngerasa kalo dia terganggu banget sama sifat gw yang satu ini. Dan dia ngejauhin gw tanpa sebab salah satunya gara-gara ini. Funny enough for me. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Soalnya yang menganggap sifat gw ini mengganggu, cuma dia sendiri. Orang lain menganggap sifat ini justru sebagai salah satu keunikan gw dan ini yang bikin gw enak diajak ngobrol atau diskusi hal yang perlu sedikit mempekerjakan otak. Then why should I change myself? Sementara gw nggak pernah meminta dia mengubah sifat-sifat dia sekalipun gw berkali-kali nangis karena kelakuan dia yang jelek banget nyakitin gw abis-abisan. Semua gw lakuin karena sejak awal dia minta untuk diterima apa adanya, dan gw coba sekuatnya untuk itu. But still… teman baik gw itu nggak bisa nerima gw apa adanya. Hwell… makes sense… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Anyway… Emang kodratnya manusia buat jadi makhluk egois, gw juga pengen buat bisa egois, but I know I shouldn’t. Memalukan kalo ada orang yang belajar Skill With People masih menerapkan prinsip ego dalam kehidupan sehari-hari. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Tapi seenggaknya manusia punya kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi. Tidak hanya dalam lingkungan alam, tapi juga dalam hubungan sesama manusia. Andaikata statement ‘Terima Gue Apa Adanya’ bisa dihilangkan dari muka bumi, gw yakin yang namanya perceraian atau putusnya persahabatan nggak usah terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Udahan ah…. Kayaknya udah cukup bisa dimengerti &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-116288955376202765?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/116288955376202765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=116288955376202765' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/116288955376202765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/116288955376202765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2006/11/terima-gue-apa-adanya.html' title='Terima Gue Apa Adanya…'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-115915324708403242</id><published>2006-09-24T19:53:00.000-07:00</published><updated>2006-09-24T20:00:47.123-07:00</updated><title type='text'>Don’t sweat the small stuff!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Oke, kali ini gw milih judul ‘Don’t sweat the small stuff’. Lho? Itu &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; judul buku, kenapa gw comot? . &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Hwell, gw Cuma pengen ngebahas beberapa fenomena yang terjadi di sekitar gw, dan mungkin di sekitar kalian yang lagi baca tulisan ini sekarang ini disini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Beberapa jam yang lalu gw dan beberapa orang teman-teman pergi mengunjungi sebuah tempat di bilangan Cikutra (atau deket-deket situlaaahhh). 2 orang di antara mereka adalah pasangan. Yang satu cewek, dan yang satu lagi cowok &lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;---&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; duileh, kalimat gak meaning, ya iyalaaaahhhh…. pokoknya mereka sahabat-sahabat gw. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Nah, si cowok turun dari mobil dengan keadaan kemejanya berantakan karena terlipat-lipat pas dia duduk. Lumayan berantakan, pinggangnya sampe kelihatan dari belakang dan bajunya sangat kusut. Nggak enak dilihat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw yang pertama kali nyadar kalo baju dia nggak rapi. Dan kita pada saat itu sedang dalam rangka hendak mensurvei lokasi dan membuat beberapa kesepakatan dengan sang manajer tempat wisata budaya tersebut. Tentunya kesan yang bakal didapat nggak bagus &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;, kalo si cowok bajunya nggak rapih? Gw nunjuk ke arah baju belakang si cowok, dan si cewek yang menyadari kalo baju cowoknya berantakan, langsung berinisiatif membetulkan baju si cowok. Dia tarik sedikit supaya lebih rapi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan berikutnya, seperti seekor kucing yang ditarik buntutnya, si cowok pun bereaksi. Apa yang didapat oleh si cewek? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;“Udah nggak usah! Ngapain sih?!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Emm... okay… that’s out of his usual behavior. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Waw… gw yang nggak dibentak aja langsung bisa ngerasain betapa sakit hati si cewek saat itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Si cewek nggak berniat buruk, tapi kenapa dia harus nerima bentakan kayak gitu? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan mood si cewek langsung hancur lebur saat itu juga. Dia memisahkan diri dari rombongan, gw sebisa mungkin selalu ada di samping dia. Karena gw tahu gimana rasanya diperlakukan kasar sama orang yang disayang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw kagum sendiri sama temen cewek gw itu. Soalnya dia bisa bertahan nggak nangis atau over-reacted. Kalo gw mungkin udah melakukan salah satu dari kedua hal ini: 1. Bersikap defensif dengan membalas bentakannya, meski beresiko memicu perang, 2. Diam, tapi kemudian nangis di suatu tempat dimana si cowok nggak ngelihat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan jujur aja, kemungkinan besar gw bakal memilih option kedua. Gw lebih mungkin diam nggak membalas, dan di tempat yang tersembunyi gw bakal nangis. Sering bo.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Anyway, back to topic. Yang pengen gw bahas disini adalah…. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Pantas nggak sih temen cewek gw itu dapet perlakuan kayak gitu? Dan sebenernya apa sih yang membuat si cowok bereaksi seperti itu? Gw disini nggak ngomong dengan keberpihakan pada si cewek, tapi karena gw ada disitu, gw ngelihat sendiri, dan gw tahu apa rasanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;I’ve been on the same condition once. Dan percayalah, diperlakukan kasar sama orang yang disayangi itu rasanya gila-gilaan sakitnya. Bisa kerasa sampe berhari-hari, dan pada kasus-kasus manusia terlalu sensitif (kayak gw) bisa sampe berminggu-minggu, bahkan sekarang ini gw masih bisa ngerasain sakitnya waktu diperlakukan kayak gitu. Baik sama siapa aja. Bahkan sensasi sewaktu gw dimaki sama bokap nyokap sewaktu gw umur 7 tahun masih bisa gw rasain sekarang ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan si temen cewek gw memilih untuk diam saja. Bukan karena dia mengakui kesalahannya. Si temen cewek gw memilih diam karena dia nggak pengen memperpanjang masalah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dia tahu pasti sifat orang yang dia sayang itu. Yeah, sifat dasar semua laki-laki. Egoisme mutlak. Lebih jelasnya silakan baca post-post gw sebelum ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Si cewek curhat ke gw, dia nggak terima dia diperlakuin kayak gitu. Nggak adil, soalnya kalo dia yang bersikap kayak gitu, si cowok langsung bakal marah. Tapi giliran si cowok yang bersikap kayak gitu, tetep si cewek yang jadi kena marah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Okay, gw nggak bisa berbuat apa-apa, nggak bisa berbuat banyak, karena itu toh masalah internal mereka. Tapi akibatnya nggak bagus juga. Mereka berdua moodnya jadi jelek. Dan pada perjalanan pulang, saat mood si cewek sudah membaik, giliran si cowok yang jadi ‘penghancur suasana’. Omongannya sarkastis &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sini, saat kita lagi ketawa-ketawa dia menyela dengan omongan tajam yang bikin suasana jadi krispi kriuk kriuk krutuk. :-D&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Semua orang yang ada di mobil kena semprot, dan saat si cewek membicarakan guyonan tentang impian dia, si cowok pun mengeluarkan kalimat yang bikin semua orang di mobil jadi diem. Suasana jadi (suer) nggak enak. Gw nyoba nengahin, tapi kemudian gw keabisan bahan omongan (dasar bego) setelah itu suasana kembali diam (dan berikutnya gw diketawain abis-abisan sama sisa temen-2 gw setelah pasangan itu turun dari mobil). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Jadi dari tadi point-nya apa Nit? Iya… iya… &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point-nya adalah… sebenarnya apa sih yang melatar belakangi si cowok sampe bisa bersikap kayak gitu? Gw tahu pasti dia orangnya baik and care (percayalah, gw nggak dibayar buat promosi dia). Tapi gw juga tahu kalo dia moodnya lagi jelek, mending jangan deket-deket. Soalnya dulu gw juga pernah kena semprot Cuma gara-gara ngomentarin kenapa dia pake baju dobel ^^!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, mungkin si cowok merasa risih diperlakukan seperti itu, mungkin dia merasa diperlakukan seperti anak kecil? Atau mungkin karena si cewek membetulkan baju si cowok di depan umum maka hal seperti itu dianggap mempermalukan si cowok? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Apapun alasannya, kehancuran mood itu nggak perlu mesti terjadi menurut gw. Apabila si cowok mau bersikap lebih wajar, gw yakin endingnya bakalan beda, pastinya jauh lebih baik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Mengucapkan kalimat “Ah iya, biar gue sendiri aja yang beresin.” Atau sekedar “Oh, makasih ya.” Nggak susah menurut gw. Tapi hasil yang akan muncul tentunya akan sangat berbeda. Tentunya kemampuan untuk bisa mengucapkan hal ini berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada tingkat EQ-nya (tahu EQ nggak? Emotional Quotient) dan semakin baik tingkat EQ seseorang maka akan semakin kecil peluang dia bersikap kasar pada siapapun meski dia sedang dalam keadaan lelah, lapar, pusing, lesu, nggak punya duit (dan silakan bayangkan penyakit perusak mood lainnya). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Nah, masalahnya; ada berapa persen sih orang yang punya EQ bagus? Ditambah dengan kesulitan hidup yang makin gila-gilaan berkat presiden goblok yang sekarang ini berkuasa, orang-orang jadi makin mudah marah dan tersinggung. Mudah meledak hanya karena hal-hal kecil. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Contoh lagi, salah satu dari teman gw tadi (kali ini beda orang) cerita sama gw sewaktu kita berdua lagi jalan kaki secara berhati-hati di jalan Pelajar Pejuang sembari menjaga jarak dari seorang (bertampang) gembel yang jalan di depan kita. Gw sih nggak masalah, gw nggak takut sama dia. Tapi berikutnya temen gw cerita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Pada suatu hari, dia hendak ke kampus menyeberang dari Borromeus ke jalan Ganesha. Di pinggir trotoar ada seorang gembel yang juga berjalan. Nah, si temen gw ini menjaga jarak. Dia cewek, jadi gw rasa hal itu wajar aja. Dia menjaga jarak dengan cara berjalan sejauh mungkin dari si gembel. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Berikutnya si gembel nggak ada ujan nggak ada petir langsung nendang pantat temen gw. Sambil memaki-maki “Sombong amat sih lo!”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw ampe bengong ngedengernya. Heheh, temen gw berjalan menjauh &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; justru menghindari kejadian yang kayak gitu. Dasar gembel gila. Dan seperti apa yang dilakukan oleh para cewek kebanyakan, si temen gw memilih nggak balas marah. Bukan kenapa-kenapa, soalnya dia di pinggir jalan raya, dia takut si gembel bakal ngedorong dia ke tengah jalan &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; berabe. Tahu sendiri sifat dasar cowok yang udah kalap itu kayak apa, bertindak bodoh dulu baru kabur kemudian. Mikir jelas kagak. Berikutnya si temen gw langsung kabur cepet-cepet ke seberang jalan sambil bersiap teriak kalo si gembel itu berbuat bodoh lebih lanjut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point dari cerita di atas sama dengan cerita sebelumnya; Perlu nggak sih hal tersebut dialami oleh temen gw? Ditendang gembel Cuma gara-gara berjalan sedikit menjauh? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Please deh ah…. Don’t sweat the small stuff!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Cerita terakhir adalah dari pengalaman gw sendiri. Kejadiannya tanggal 7 Maret 2006 (apal mati). Waktu itu gw main ke kost-an mantan pacar sepupu gw. Ditemenin sama seorang cowok yang gw sayang banget tapi bukan pacar. Waktu itu gw lagi dalam mood yang agak jelek,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jadi gw mencoba memperbaiki mood gw dengan cara berbuat agak jahil. Gw ngumpetin flah disk si temen cowok gw di seluruh penjuru kamar kost-an. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan waktu itu temen gw lagi butuh flash disk buat ngambil data dari komputer si mantan pacar sepupu gw (referringnya susah) entah buat ngambil lagu, game atau bokep. Dan dia nggak mencari si flash disk, tapi langsung bertanya keras sama gw, dimana gw umpetin flash disknya. Karena gw tahu dia lagi marah berat, akhirnya gw angsurin flash disknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Berikutnya dia ngelirik sadis sambil ngerampas flash disknya dari tangan gw dengan kasar. Waaaaaaawwwwwww!!!! Andaikan pandangan mata bisa membunuh, diriku sudah terbantai saat itu (puitis tapi bullshit). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw bilang “Ngambilnya biasa aja dong.” Dan dibalas dengan kata-kata “Ngumpetinnya juga biasa aja dong.” &lt;- kalimat yang patut diketawain karena emangnya cara ngumpetin barang terbagi atas biasa dan tidak biasa? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Tapi saat itu gw ngerasa sakit banget. Mati-matian gw nahan tangis supaya nggak pecah. Biarpun beberapa menit berikutnya dia langsung minta maaf sambil meluk gw, tetep aja rasanya nggak enak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw kena insomnia berat selama seminggu karena terus-terusan kepikiran. Bahkan kalo gw nutup mata sambil nge-recall kejadian waktu itu, gw masih bisa ngerasain rasa sakit yang sama sampe sekarang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Nggak ada yang lebih bikin gw sedih daripada kemarahan seseorang yang sangat gw sayang. Dan gw tahu itu juga terjadi sama temen cewek yang gw sebut di awal cerita. Gw yakin kita berdua punya perasaan yang hampir sama saat perlakuan kasar itu terjadi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;And we both are women. Mengalah memang jalan tercepat. We can bear our sorrow, selama orang yang disayangi bisa merasa lebih baik dengan kemenangan yang mereka peroleh. Damn women instinct. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan gw yakin hal yang sama bisa saja terjadi pada ribuan manusia di muka bumi ini, pada saat yang sama, dan mungkin dengan masalah yang mirip-mirip. Entah terjadi pada pasangan, saudara, orang tua, teman, sahabat, atau apalah. Dan satu kesamaan mutlak dari semuanya adalah, pasti ada yang merasa sakit, dan sedih. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sebenernya perlu nggak sih perselisihan terjadi hanya gara-gara hal sepele kayak gini? Kenapa nggak diusahakan supaya bisa dicegah? It won’t hurt anyway. Tapi yeah, sekali lagi, tingkat keberhasilan mencegah perselisihan dengan tingkat EQ berbanding lurus. Dan tentunya bukan hal yang mudah untuk men-training EQ manusia di seluruh dunia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Mana yang lebih mudah dilakukan? Tidak mempermasalahkan hal-hal kecil atau marah-marah nggak karuan saat ada hal sepele yang tidak sesuai dengan keinginan? Gw tahu pasti jawabannya adalah lebih gampang buat marah-marah. Orang yang bilang jawaban pertama lebih gampang dilakukan berarti dia orang yang sok idealis. Atau memiliki EQ yang cukup tinggi (tolong buktikan apabila anda memilih jawaban pertama)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kita bisa memperjelas arti dari ‘cinta dan persahabatan’ disini. Jika kita benar-benar menyayangi orang yang berbuat hal kecil sepele-tapi salah dimata kita, coba pikir-pikir dulu sebelum milih untuk ngebentak dia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Apa rasanya kalo kita ada di posisi dia? Dan masa iya sih kita tega marahin orang yang kita sayang? Kecuali kesalahan yang dia lakukan benar-benar berat, tentunya. Dan coba pikir, kalo seandainya kita diperlakukan kasar, tentunya kita juga nggak akan merasa nyaman di hati &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;? Kalo kita nggak mau merasakan hal seperti itu, maka jangan membuat orang lain merasakannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Hal ini berlaku untuk semua orang. Coba, gw yakin nggak ada orang yang nggak pernah melakukan hal seperti ini. Dan biasanya berlangsung tanpa disadari oleh si pelaku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Hwell, andaikan si temen cowok di cerita pertama bisa menanggapi perhatian si cewek dengan positif, mereka nggak akan terjebak dalam ketegangan (yang setahu gw saat tulisan ini diketik mereka masih belum baikan).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Andaikan si gembel bisa berpikir positif apabila si temen gw berjalan agak menjauh. Dia kalo nggak mau tersinggung kayak gitu, ya jangan jadi gembel. Soalnya menurut gw, mau jadi gembel apa jadi orang kaya itu masalah pilihan aja. Pake nendang segala, kalo gw digituin sih barangkali dalam detik berikutnya si gembel udah mati bersimbah darah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dan terakhir ini curhatan gw sendiri, pada kasus gw diatas, emang kesalahan ada di pihak gw. Karena gw usil. Jail. Sementara itu, apakah perlakuan kasar itu emang diperlukan? Gw tipe makhluk yang nggak perlu dikasih tahu kalo mulai bertingkah nyebelin karena gw terbiasa menganalisis manusia lewat segala gesturnya. Jadi kalo udah ada gelagat gw bakal dibenci karena kelakuan gw, I’ll stop the show. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Still, haruskah gw nerima tatapan kebencian sekejam itu (sumpah, beneran!) hanya karena sedikit kenakalan gw? Padahal gw berani taruhan kalo ditimbang, kenakalan gw nggak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh teman cowok gw itu, terhadap gw. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Because I don’t sweat the things unpleasant of him. Karena apa? Karena gw tahu &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;semua orang ingin diterima apa adanya.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Buat yang ngerasa agak gampang marah, gw punya beberapa solusi yang mungkin bisa dicoba. Tapi hasilnya bervariasi antara setiap orang. Tergantung tingkat EQ-nya ^^. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Baca buku Skill With People-nya Les Giblin. Ini senjata rahasia seluruh manusia dengan kepribadian unggul di seluruh dunia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Baca buku Personality Plus-nya Florence Littauer. Supaya sadar kalo manusia itu nggak bisa dinilai berdasarkan citra diri sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Hitung sampai 10 tiap kali mau marah sama orang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tarik napas, tahan, buang. Cari tempat sepi, terus teriak, keluarin makian yang mau kamu lempar ke orang yang berbuat salah (tapi ringan). Setelah tenang, bersikaplah netral. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Minum air secepatnya. Makan coklat. Cari makanan manis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebelum ngebentak coba pikirkan akibat yang bakal terjadi apabila kamu jadi mengeluarkan amarahmu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Coba latihan ini : ambil sekotak korek api yang penuh, tebarkan isinya ke lantai, lalu punguti sebatang demi sebatang sampai habis, lalu sebar lagi. Punguti satu-satu lagi. Tebar lagi, begitu seterusnya sampe merasa frustasi. Kalo sanggup melakukannya lebih dari 12 kali, berarti kamu punya EQ yang sangat baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Okeh, bahasan kali ini sampe disini aja. Buat mereka yang merasa kisahnya tertulis di atas, please jangan langsung tersinggung. Anggap aja ini masukan buat kalian. Gw Cuma mencoba memperhalus cara penyampaiannya aja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Buat yang lain, thanks atas perhatiannya, I welcome support, of course. And flames will be fed to my cats, so don’t bother to flame ^^.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-115915324708403242?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/115915324708403242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=115915324708403242' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/115915324708403242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/115915324708403242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2006/09/dont-sweat-small-stuff.html' title='Don’t sweat the small stuff!'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-115241715824414161</id><published>2006-07-08T20:41:00.000-07:00</published><updated>2006-07-08T20:52:38.263-07:00</updated><title type='text'>Cewek Harus Selalu Kalah?</title><content type='html'>Hmm, kenapa gw milih buat nulis tentang ini?&lt;br /&gt;Beberapa menit yang lalu gw nonton trailer sinetron baru di salah satu stasiun tv swasta. Judulnya ’Perempuan Teraniaya’. Dan sesuai judulnya, cerita yang diangkat itu adalah mengenai perempuan-perempuan yang teraniaya. Trailernya menampilkan beberapa wanita yang sedang dalam keadaan teraniaya, rambut awut-awutan, meringkuk di pojokan, derai tangis dan air mata. Bahkan teksnya menampilkan sinopsis cerita para wanita teraniaya yang bakal dijadikan cerita dalam beberapa episode awal, antara lain wanita yang dijual oleh suaminya, pembantu rumah tangga yang diperkosa, dan silakan berkreatif ria pikirkan kekejaman terhadap wanita yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan salah satu teks yang ditampilkan pada trailer itu adalah : ”Benarkah perempuan harus selalu kalah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang pengen gw bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw sendiri ngerasa excited banget, gw pengen tahu apa yang akan diceritakan di sinetron tersebut. Soalnya gw udah muak banget sama sinetron-sinetron yang selalu menampilkan kiai sakti atau orang miskin tawakal yang pada akhirnya dapat rejeki dan berikutnya happy ending. So pasti sinetron bertema baru kayak gini lumayan menarik perhatian gw. Apalagi temanya sensitif banget, menguak kekerasan dalam rumah tangga yang di Indonesia adalah merupakan fenomena gunung es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nonton trailer sinetron, berikutnya nyokap gw mindahin channel tv, dan terhenti di acara Derita di Atas Derita (dari judulnya aja udah jelas isinya apaan) yang episode kali ini menampilkan kasus ’Seorang Suami Bunuh Istri Karena Sakit-Sakitan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh, segitu beratnya ya merawat istri yang sakit? Apalagi alasannya karena sang istri terus menerus meminta uang untuk berobat. Akhirnya dianggap menyusahkan, lalu si istri dibunuh. Biar nggak nyusahin lagi, gitu?&lt;br /&gt;Apakah harga nyawa seorang istri sudah sebegitu kecilnya? Istri dianggap merepotkan oleh si suami karena sakit-sakitan dan terus menerus minta uang untuk membeli obat, karenanya dia dibunuh. Padahal coba kalo si suami yang sakit, gw berani bertaruh kalo si istri akan mati-matian bekerja banting tulang dan merawat si suami habis-habisan di samping keharusan merawat anak tanpa mengeluh. Sekarang coba keadaannya dibalik. Gw juga pernah baca kasus yang merupakan kebalikannya di Kompas entah edisi kapan pokoknya bulan Juni 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasusnya adalah ; suami bunuh istri karena dianggap tidak menghormati dan menyinggung harga diri si suami. Sang istri dibunuh, karena dianggap kebanyakan mengomel minta uang untuk belanja, dan sering mengatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata gw boleh nentuin hukuman yang pantas buat si pelaku, gw bakal nyuruh dia ganti kelamin dan tempatkan diri dalam posisi sebagai wanita selama minimal 30 tahun. Dengan keadaan psikologis sebagai laki-laki, tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw yakin dalam 2-3 bulan dia bakalan bunuh diri karena nggak tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa gw make contoh kasus seperti diatas? Yang pengen gw tekankan adalah, kenapa bisa jadi kayak begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hwell, kekurangan mendasar dari laki-laki adalah selalu membiarkan otak berpikir belakangan. Hal ini yang menyebabkan 90% penghuni penjara adalah laki-laki. Dan berikutnya, otak laki-laki secara alamiah lebih mengedepankan fungsi penyaluran energi tubuh pada otot, bukan pada perasaan, karenanya setiap gw nonton berita tentang ’warga menghancurkan kantor camat’ato órmas anu menghancurkan kantor majalah anu’atau setiap berita anarkis lainnya; semua punya satu kesamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang merupakan pelaku anarkis adalah laki-laki. Coba, pernah nggak; ada tayangan perempuan lagi ngancurin kaca ato ngelempar batu pas kerusuhan, ato ngegebukin orang pake pentungan segede-gede bagong?&lt;br /&gt;Sempet kepikiran juga sama gw; jangan-jangan para laki-laki di negeri ini kurang sarana olahraga. Fitness centre keanggotaannya mahal, dan mereka nggak cukup kreatif buat bikin sarana olahraga sendiri, paling banter bikin barbel dari semen. Hee, gw juga bisa kalo ngangkat barbel semen doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heeeeehhh… jadinya malah ngalor ngidul kemana-mana… back to topic, oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang bikin laki-laki selalu ngerasa menang dari wanita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw yakin, kalo seorang cowok dan seorang cewek diadu, tanpa membawa nilai atau norma masyarakat, tanpa membawa nilai-nilai agama dsb....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw yakin cewek pasti bisa menang seimbang dengan cowok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sori buat para cowok yang nggak mau kalah dan ngerasa panas begitu ngebaca tulisan ini, tapi mendingan terusin dulu bacanya sampe bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, apa sih yang bikin laki-laki selalu ngerasa menang dari wanita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otot? Hwell, pada kenyataannya di seluruh dunia, bahkan di Indonesia, kaum wanita mengerjakan pekerjaan yang sama beratnya dengan laki-laki. Nggak usah jauh-jauh, coba kalian turunkan ego sedikit, bangun pagi-pagi, datengin pasar-pasar tradisional. Dengan mudah bisa ditemui nenek-nenek yang masih sanggup mengangkut karung yang beratnya puluhan kilo di punggung mereka. Atau coba lihat di desa-desa di Bali, para wanitanya biasa mengangkat sesaji berupa buah atau sayur mayur setinggi 1,5 meter di atas kepala mereka. Dan pastinya BERAT. Tambahan lagi, endurance. Para wanita mungkin tidak sanggup membawa beban berat sebanyak para laki-laki, tetapi wanita lebih bisa bertahan dalam jangka waktu lebih lama. Tentunya bukan lebih lama sejam atau dua jam, tapi bisa berpuluh-puluh tahun. Lebih banyak ditemukan lansia wanita masih bekerja berat produktif dibandingkan lansia laki-laki di usia sama. Dan tetap saja angka harapan hidup wanita lebih tinggi daripada laki-laki.&lt;br /&gt;Otak? Kelebihan otak laki-laki dibanding otak wanita ada pada kemampuan laki-laki mengolah informasi mengenai ruang, dimensi, dan angka. Makanya wanita dibilang nggak bisa baca peta. Tapi terbukti bahwa laki-laki lebih sering nyasar daripada wanita. Karena apa? Karena wanita tidak malu bertanya. Laki-laki lebih menganggap bahwa nyasar adalah lebih terhormat dibandingkan nanya jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak laki-laki juga disebut lebih unggul daripada wanita dalam memecahkan soal matemátika. Hal ini toh hanya karena hormon wanita yang tidak mendukung. Pada saat menstruasi, kemampuan wanita untuk berpikir dan menganalisis angka, akan sangat jauh berkurang (Barbara + Allan Pease, Why Men Don’t Listen and Woman Cry). Makanya apabila ulangan matemátika diadakan saat seorang siswa wanita sedang mengalami menstruasi, nilai yang dia dapatkan akan lebih rendah dibandingkan tidak sedang menstruasi. Hal ini menurut gw nggak fair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mungkin saja ini salah satu penyebab dari tidak lulusnya beberapa siswi berprestasi saat UN kemarin. Andaikata ujian dilaksanakan saat murid-murid wanita berada dalam keadaan puncak, maka hasilnya tentu akan sangat berbeda. Sayangnya hormon dalam tubuh tidak bisa diatur begitu saja mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis gw ini jelas bertentangan dengan apa yang diucapkan Wapres Jusuf Kalla, yang dengan seenak jidat asal njeplak bilang kalo anak-anak yang nggak lulus UN itu adalah anak-anak yang malas dan bodoh. Dan juga mengeluarkan pernyataan ”nggak apa-apa kalo orang-orang Arab dateng ke sini nyari janda, biar dikasih rumah dan nanti anak-anaknya kalo gede bisa jadi pemain sinetron”. Dan gw tanya, apa jenis kelamin dari wapres kita, saudara-saudara? Laki-laki. Mental kapitalis pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otot udah, otak udah, apalagi? Naluri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naluri alamiah laki-laki sejak jaman purba adalah melindungi rumah / keluarga, berburu, merakit, menguasai medan. Sedangkan naluri alamiah wanita adalah merawat rumah / keluarga, meramu, mencari buah / food gathering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini bisa dijadikan suatu kemenangan untuk para laki-laki, juga bisa dijadikan weak point. Surely, berburu berarti memberi makan keluarga, bila tidak berhasil mendapatkan binatang buruan, maka sekeluarga kelaparan. Ini menunjukkan posisi laki-laki yang sangat vital dalam keluarga purba. Dalam keluarga masa kini, kata ’berburu’diganti dengan kata ’bekerja’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang akan dilakukan oleh wanita apabila kehilangan laki-laki yang seharusnya membawa pulang binatang buruan setiap hari? Misalnya si pemburu balik diburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita akan menggantikan pekerjaan sebagai pemburu. Mungkin tidak sebaik pemburu yang dibimbing oleh naluri aslinya, tapi mereka bisa mengerjakannya. Hal yang sama terjadi pula dalam keluarga modern. Bahkan pada teman-teman di sekitar gw. Beberapa diantara mereka hidup selama bertahun-tahun hanya dengan kasih sayang ibu, tanpa ayah. Salah seorang teman akrab nyokap gw mampu hidup mandiri membangun usaha dan membesarkan anak semata wayangnya sendirian setelah bercerai dari suaminya; tepat dua hari setelah melahirkan. Gw sendiri kagum ngeliat semangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang akan dikerjakan oleh para laki-laki apabila berada dalam keadaan seperti itu? Tentunya hal pertama yang akan dikerjakan adalah mencari pengganti alias kawin lagi. Gampang dan cepat, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, penjelasan gw diatas adalah TIDAK memasukkan nilai-nilai atau norma yang berkembang di masyarakat ataupun agama. Karena mayoritas hal-hal tersebut akan secara otomatis menempatkan wanita di bagian lemah. Karena apa? Karena yang bikin aturan di masyarakatnya laki-laki. Simply that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu? Gimana kalo kita masukin nilai-nilai di atas? Oooh, boleh.... boleh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw pernah terlibat dalam perdebatan dengan teman baik gw di sebuah kafe di bilangan Dipati Ukur, Bandung, beberapa bulan yang lalu. Mengenai masalah gender. Teman gw cowok, dan gw cewek. Jelas masing-masing bakal ngejagoin gendernya sendiri. Topik yang kami bicarakan adalah mengenai perbandingan jumlah antara cowok dengan cewek di muka bumi. Lucu, memang. Kita pegangan tangan kayak orang pacaran, padahal lagi perang mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman baik gw bilang, di masa depan jumlah cowok bakal makin sedikit. Pada akhirnya para cewek bakal bersaing mati-matian memperebutkan cowok, dan karena itu maka poligami akan marak dan dianggap biasa. Berkurangnya jumlah laki-laki antara lain karena laki-laki lebih banyak dikirim ke medan perang, laki-laki lebih sering melakukan pekerjaan beresiko, dan laki-laki selalu mengambil posisi di sisi terluar apabila sedang berjalan di trotoar bersama perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh well, gw bisa aja ngasih berbagai macam penjelasan buat melawan pernyataan dia, tapi gw waktu itu memilih untuk tidak banyak bicara, soalnya gw tahu pasti sifat dasar dari cowok itu adalah egois. Gw tadinya sempat berpikir kalo temen baik gw ini adalah orang yang mampu berpikir dari sudut pandang cewek maupun cowok, tapi toh di kemudian hari gw mendapati kenyataan kalo dia melihat dari sudut pandang cowok. Alasan dia sih simpel, dia cukup bilang “Gua kan cowok.” And that’s all folks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loh, jadi curhat? Err… gini, bantahan yang mau gw kasih ke teman baik gw itu adalah; laki-laki lebih banyak dikirim ke medan perang, karena apa? Karena pemimpin dari kedua negara yang bertikai itu pastinya adalah laki-laki. Atau salah satunya laki-laki. Ingat paragraf yang mengatakan bahwa otak laki-laki seringkali berpikir belakangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalo kedua negara bertikai dipimpin oleh wanita. Tentunya perang adalah hal terakhir. Karena apa? Karena wanita mampu berpikir dari sudut pandang orang lain. Sebagai sesama wanita, tentunya sang pemimpin negara akan memikirkan nasib para istri tentara yang ditinggal ke medan perang, anak-anak yang akan menjadi yatim, dan biaya yang akan terbuang sia-sia apabila meneruskan rencana peperangan yang toh tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali perasaan menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kuncinya adalah pada kata ’Perasaan Menang’. Entah kenapa laki-laki selalu baru bisa puas setelah menang. Kalo nggak, dia bakal penasaran dan selanjutnya uring-uringan. Karena itu makanya para wanita lebih memilih diam dan mengalah. Tujuannya supaya laki-laki bisa berpuas diri dan tidak menyebabkan langkah selanjutnya terhambat.&lt;br /&gt;Gw juga sering berbuat seperti ini untuk menghindari kekonyolan yang disebabkan oleh ego laki-laki yang bakal menyulitkan di urusan selanjutnya. Silence is gold, right?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kultur masyarakat kita sejak jaman baheulah telah memposisikan wanita di pihak yang lemah. Sejak kecil anak laki-laki tidak boleh kalah oleh anak perempuan. Kalo ada anak laki-laki yang kalah oleh anak perempuan dalam hal tenaga, dia akan dibilang banci. Kalo ada anak laki-laki yang menangis, dia akan diteriaki ”Kamu ini kan anak laki-laki, masa nangis kayak anak perempuan?!” yeah, kesannya anak perempuan bisanya nangis mulu. Apabila ada seorang anak laki-laki yang lembut, maka seluruh dunia akan mengejeknya sebagai orang lemah dan payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki diberi mainan pistol-pistolan, mobil-mobilan, robot-robotan yang bisa dirakit, bola, dan jagoan superhero. Well, nggak heran kalo pas gede ternyata para kriminal dan tukang ngebut adalah laki-laki. Tentunya para polisi dan jagoan super hero juga laki-laki. Toh itu dunia laki-laki. Para super heroinne adalah pemanis belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan diberi mainan masak-masakan, boneka barbie, rumah-rumahan... well, dipersiapkan untuk menjadi ‘penjaga rumah’nantinya. Gw sendiri jarang main boneka barbie atau rumah-rumahan sekalipun punya mainan kayak gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya sih sederhana, gw lebih suka menggambar atau baca buku dari kecil. Dan bokap nyokap gw lebih suka beliin gw buku cerita daripada boneka barbie, kali ini alasannya beda; bonyok gw nggak punya duit buat beliin barbie. Pada akhirnya menanamkan kebiasaan membaca memang memberi hasil yang jauh lebih baik daripada memberi barbie pada anak-anak. Dan gw selamat dari praktik pembentukan gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ngelantur lagi, hwell, gw rasa itu termaafkan, toh ini blog gw.&lt;br /&gt;Gw dari awal sudah tahu apa yang bakal gw jadiin kesimpulan. Yaitu jawaban dari pernyataan Äpakah perempuan harus selalu kalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya adalah ; perempuan terlalu sering mengalah, karena itu para laki-laki terlena dengan perasaan menang terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat nyari buktinya nggak usah jauh-jauh, apabila setelah baca tulisan ini anda merasa gatel hati pengen ‘meluruskan’pola pikir gw, maka anda adalah salah satu produk dari pernyataan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya laki-laki dan perempuan diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, karena itu mereka dapat saling mengisi satu sama lain. Gw yakin manusia modern sekarang ini akan menyatakan setuju mutlak dengan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya pada prakteknya tidak demikian. Wanita selalu diposisikan sebagai pihak yang lemah. Emansipasi wanita bukan hak yang bisa dimiliki setiap wanita begitu saja. Sekarang ini memang posisi wanita sejajar dengan pria, tetapi itu terbatas hanya bagi para wanita yang beruntung memiliki lingkungan dan keluarga yang mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I thank my God because I’m one of the ‘lucky girls’. Gw dibesarkan dalam keluarga yang netral dan memberi gw kebebasan sebesar apapun yang gw mau selama gw sanggup bertanggung jawab. Gw dipersilahkan mempelajari martial arts, nggak diwajibkan bisa masak, diperbolehkan belajar ilmu apapun, bahkan bokap gw ngajarin langsung caranya ganti ban mobil sendiri. Tapi ada berapa juta wanita yang nggak seberuntung gw?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw sendiri menganggap laki-laki dan perempuan punya porsinya masing-masing dalam hidup. Kalo teman baik gw bilang laki-laki lebih sering mengerjakan pekerjaan beresiko, hal yang sama juga terjadi pada jutaan wanita di muka bumi. Banyak juga yang melakukan pekerjaan beresiko tinggi, bahkan bisa jadi dua kali lipat apabila mereka sedang mengandung. Hanya saja yang diekspos kebanyakan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw juga nggak akan memaksakan diri ngeganti ban mobil sendiri kalo ada temen cowok gw yang nawarin buat ngebantu. Dan sekalipun wanita bisa melakukan pekerjaan laki-laki, orang akan lebih suka menyuruh laki-laki kurus membetulkan genteng atau nebang pohon daripada menyuruh wanita kekar gemuk untuk melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, laki-laki dan perempuan diciptakan tidak untuk saling menindas satu sama lain. Jadi laki-laki bukan berarti boleh menggunakan tenaga sewenang-wenang dan jadi perempuan bukan berarti harus kalah terus menerus. Prinsip dasar paling primitif mengenai hubungan antara keduanya adalah laki-laki melindungi perempuan, dan perempuan merawat laki-laki. Keduanya saling menjaga kelangsungan hidup masing-masing sebagai pasangan. Isn’t it sweet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amat disayangkan kalo prinsip sederhana ini rusak oleh berbagai macam penindasan terhadap wanita, kekerasan dalam rumah tangga, dan budaya patrilineal yang menyatakan kedudukan istri terhadap suami adalah ‘surga manut neraka katut’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masih ada berita mengenai kekerasan atau ketidakadilan terhadap perempuan, selama itu juga gw bakal menyatakan perang terhadap diskriminasi gender. Ayolah, ajaran agama manapun tidak ada yang membolehkan kekerasan terhadap wanita, kan? Yang menyebabkan seperti itu adalah kultur, budaya dan aturan-aturan, yang dibuat oleh para ancestor, entah berdasarkan pertimbangan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan manusia berpasangan toh bertujuan baik. Untuk meneruskan kehidupan ras manusia sebagai salah satu makhluk penghuni bumi. Adam dan Hawa adalah contoh kerukunan suami-istri yang patut ditiru. Langgeng, tanpa selingkuh, tanpa meributkan uang belanja, dan menjalani hidup sebagaimana seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I welcome support, of course. I’ve been surveying people, making contact with them, and share everything necessary about this sensitive topic. Di luar dugaan, tulisan gw disini cukup diperhatikan dan agak kontroversial. Thanks for my friends, yang udah menyempatkan diri menulis tanggapan, opini, maupun bantahan ke gw lewat forum, friendster, or anything… sekalipun nggak ngasih komen langsung ke sini^^. I welcome counterpost, although flames may be fed to my dog. Better ends here. C you!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-115241715824414161?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/115241715824414161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=115241715824414161' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/115241715824414161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/115241715824414161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2006/07/cewek-harus-selalu-kalah.html' title='Cewek Harus Selalu Kalah?'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-114975039854578289</id><published>2006-06-07T23:56:00.000-07:00</published><updated>2006-06-08T00:06:38.606-07:00</updated><title type='text'>Manifestasi keegoisan laki-laki yang mereka pikir adalah penghormatan bagi wanita.</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Manifestasi keegoisan laki-laki yang mereka pikir adalah penghormatan bagi wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Beberapa waktu yang lalu, di buletin board friendster gw menemukan sebuah topik berjudul ‘30 things girls should know about boys’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw mendadak gemes sendiri pas baca isinya. Hwell, bagi sebagian orang mungkin itu hanya sekedar buletin. Cuma buat lucu-lucuan. Biar bisa eksis di FS. Atau bacaan ringan. Atau cukup dicuekin isinya nggak usah dilihat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;At least, buat gw, isi dari 30 point yang disebutkan di artikel itu memancing gw untuk ngebahas, dan menuliskan apa yang ada di pikiran gw sebagai cewek. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Gw tahu yang nulis itu pasti cowok, dan dilihat Cuma dari sudut pandang cowok. Bahkan yang ngepost buletinnya di FS gw adalah cowok. Yeah, gw nggak nyalahin dia karena ngepost buletin, dia toh Cuma ngopy-paste. Malah bagus, jadi ada bahan menarik untuk dibahas dari sudut pandang cewek. Biarpun ini subjektif karena dari sudut pandang gw doang, tapi gw akan berusaha seobjektf mungkin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Awright, here’s the contents of ‘what guys are telling girls’ ; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 1 ; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;We’re not as pervert as you think we are.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Oh, really? Well, bagi beberapa laki-laki yang memang ‘terdidik’ dengan benar, kami para wanita masih bisa percaya. Tapi ada berapa persen sih cowok di dunia ini yang kayak gitu? Apalagi di Indonesia. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; cowoknya kelewat pervert, sampe-sampe wanitalah yang harus dibatasi penampilannya lewat RUU APP (RUU goblok!). Hey… hey… dua pertiga bagian otak cowok isinya adalah S-E-X. Point pertama adalah non sense buat gw.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 2;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;No matter what YOU say, your ex-boyfriend IS a LOSER&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Because you now have us at your side? Heh, maaf ya, jangan jadikan kami para cewek sebagai alat penentu kemenangan. Apalagi sebagai hadiah persaingan. Be realistic, man! Atau jangan-jangan itu hanya alasan untuk menutupi kerendahan diri karena kalah kaya, kalah pinter, kalah ganteng dari mantan pacar cewekmu?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 3;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;We like you to give us hugs and kisses sometimes too&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Surely, buat cewek normal kayak gw, tentunya dengan senang hati kami para cewek mau ngasih kalian pelukan dan ciuman. ASAL JANGAN KETERUSAN. Cowok secara naluriah pada umumnya akan minta lebih dan terus menerus jadi keenakan. Dan jangan katakan ini kalo kalian para cowok pacaran sama cewek berjilbab. Itu berarti kamu memaksa dia mengkhianati kesucian penutup auratnya. Well, you all know what I mean.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 4;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Don’t argue with us when we call you beautiful&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Ahem… pernah dengar ungkapan istilah ‘rendah hati’? Yeah, wanita pada dasarnya emang senang dipuji., tentunya dengan pujian yang berdasarkan kejujuran dan ketulusan hati. Kalo pujian Cuma buat sopan santun atau justru karena ada maunya sih… bye!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 5;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Don’t treat us like crap, what goes around comes around&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Hmm… para lelaki tidak mau diperlakukan seperti itu sementara jutaan orang kaum mereka memperlakukan istri-istrinya seperti itu… Okay… gw nggak perlu ngejelasin lebih lanjut mengenai egoisme laki-laki yang seperti ini. We all know by facts.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 6; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;We know you’re pretty, that’s one of the reasons we’re going out with you&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, read my other article ‘For All Men’ untuk kejelasan lebih lanjut soal ini. Singkatnya bisa dianalogikan seperti ini. Laki-laki = Makhluk Visual = Mementingkan apa yang terlihat oleh mata saja = Penampilan adalah penting. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; cewek menyadari bahwa cowok cuma ngelihat luarnya aja makanya mereka semua berlomba-lomba mempercantik diri meski untuk itu mereka rela menderita. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Buat para cowok, pernah nggak kalian mikir bahwa kecantikan penampilan cewek yang kalian gandeng buat dipamerin ke temen-2 itu harganya mahal? Cewekmu harus berdandan, menjaga tubuh tetap langsing, melakukan perawatan rambut, kulit, kuku, dan sebagainya. Sedangkan kalian para cowok disuruh mandi aja susah!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 7;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Don’t go into detail about your period. It scares us&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, menakutkan bukan kalo sewaktu-waktu kami berkata pada kalian “Sayang, kayaknya aku telat deh.” Dan reaksi cowok pada umumnya adalah “Nggak mungkin!” atau “Ayo kita ke dukun aborsi” atau “Wah! Pasti bukan gw! Kamu selingkuh! Putus!” Lalu si cowokpun kabur. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, kami tahu cowok takut dengan komitmen. Nggak berani tanggung jawab udah biasa banget. Atau ada pendapat lain tentang poin 7 ini? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 8;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;If you have cramps and we ask you what’s wrong, just tell us it’s time of the month and nothing more&lt;/b&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Bilang aja males dengerin curhat kami para cewek. Yeah, lagian cowok selalu berpikiran bodoh dengan menganggap kalo cewek yang curhat sama dia itu berarti minta tolong nge-solve masalahnya. Nggak selalu gitu. Kami para cewek Cuma perlu didenger, bukan buat diceramahin lebih lanjut. Dan… bilang kalo lagi PMS sebanyak 7 kali sebulan adalah tolol. Dan tentunya Cuma cowok tolol juga yang percaya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 9;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;If you really liked us for us, you would let us think that our mustache, beard, or sideburns looked cool&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Poin ini terutama yang mendorong gw buat nulis artikel panjang ini. Laki-laki minta diterima apa adanya, sedangkan banyak sekali wanita yang diceraikan karena tidak berdandan atau berat badannya naik 6-10 kilo. Gila. Sekarang gw nanya balik, apakah kalian para laki-laki akan menerima kami apa adanya kalo kami minta kalian anggap keren bulu ketek atau bulu kaki kami yang nggak dicukur? Kita nggak mau pacaran sama monyet, tahu!!! Buat beberapa cewek mungkin memang menyukai cowok berbulu, tapi kebanyakan justru menyukai cowok yang bercukur. &lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;;"&gt;º&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 10;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;We never shape our legs, so get over it&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Yeah, gw tahu percuma nyuruh laki-laki nyukur bulu kaki. Sementara para cewek lebih disukai yang kakinya mulus nggak berbulu. Dan untuk itu para cewek harus menjalani berbagai treatment, dari metode shaving biasa sampe pencabutan bulu dengan lilin yang sakitnya nggak akan kebayang sama cowok. Dan harus dilakukan secara PERIODIK. Yang gw lihat dari poin ini adalah murni keegoisan laki-laki.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 11;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;NEVER ask us if you can put makeup on us. It’s just wrong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Cuma orang awam bertingkat pendidikan dan ekonomi menengah ke bawah yang masih menganut hal ini. Cowok berduit sekarang lebih tahu cara merawat diri, dan tentunya dengan cara itu mereka bisa menggaet cewek jauh lebih mudah dan lebih banyak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 12;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Don’t make bets about us, because one of your friends will tell us, if you don’t’&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Beh, para cowok toh lebih sering melakukan hal yang sama. Nyadar nggak kalo ‘temen’ yang ngebocorin rahasia apapun itu namanya bukan teman, tapi musuh dalam selimut. Dia mungkin aja sengaja ngadu domba. Jangan asal percaya Mas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 13&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;When we tell you that you’re not fat, believe us&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Apa? Mending percaya sama angka timbangan!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Point 14&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;We absolutely do not care about the Backstreet Boys, *NSYNC, Westlife, or what any other guy looks like for that matter&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan kami para cewek juga nggak peduli mati sama Karenina, Nirina, Luna Maya, Revalina, Rianti Rhiannon, Paris Hilton, Pamela Anderson atau apapun makhluk berwujud LUAR cantik lainnya. Karenina itu Cuma lulusan SMU, kami nggak ngerasa dia pantas dibandingin sama kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;We may not be able to pee accurately all of the time, but at least we can stand up and go pee&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dan mengotori pinggiran kloset, juga selalu lupa menurunkan dudukan kloset. Dan BANGGA dengan hal itu?!! Siapapun yang bikin statement buat poin ini, dia salah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;Point 16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Just cause you think you're always right, doesn't mean that you don't have to apologize when you do something "wrong&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Awright, but please do the same, boys! Tidak semua cewek keras kepala. Dan bahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banyak yang lebih berjiwa ksatria daripada lelaki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;. &lt;b style=""&gt;You expect us to say and do sweet things for you, but it would be nice if you did the same every once in a while. We like to know that you love us&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hmm… apa inti dari statement di atas, sih? Kami para cewek secara otomatis selalu memanjakan kalian para cowok. Kalo masih juga minta dibaik-baikin berarti yang bebal adalah cowoknya karena nggak peka sama perhatian kami. Atau cowoknya nggak tahu diri sampe-sampe perhatian segitu banyaknya masih dirasa kurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 18&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;We can't always be spontaneous, so try to help us make the plans sometimes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Yeah, kebanyakan perencanaan biasanya malah bikin rencana batal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Don't ask us to beat up another guy for you, cause you might get what you wish &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lihat-lihat sasarannya laaaaahhh…. Ini &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; buat naikin prestise cowok juga!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Never kick us in the nuts "just to see what we would say". That's just mean&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sadar nggak sih kalo itu adalah tes untuk mengukur berapa besar rasa cinta cowok terhadap cewek? Memancing reaksi spontan adalah jalan terbaik untuk mendapatkan jawaban paling jujur dari setiap laki-laki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Never pretend like you are going to break up with us and laugh when we believe you.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tidak semua wanita seperti ini. Siapapun pembuat statement diatas, dia salah sasaran secara total. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 22&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Pamela Anderson's breasts aren't fake anymore, but we like yours better anyway&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tentu sajaaaaaaa….. Pamela Anderson &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; jauuuuhhhhh, lagian dia punya suami, punya anak, dan tentunya udah tante-tante! Karuan lebih suka sama yang deket, yang bisa dirasain appearance-nya, yang pasti-pasti aja deh. Gitu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;?!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 23&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Size doesn't matter, except to idiots who don't want a relationship&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Bagus sekali!!! Nah, gw punya temen cewek berbobot 103 kilo, apakah ada cowok yang mau pacaran sama dia? Apa? Nggak mau? Terus, apa maksud kalimat di atas? Ini kalimat yang ditujukan bagi para cewek &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;? Bukan kalimat yang bermaksud menutupi ukuran kalian yang Cuma segede kelingking? Atau justru gw betul dengan pertanyaan terakhir?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;PMS is not an excuse&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kurang ajar. Kalian nggak pernah ngerasain sakitnya lapisan rahim luruh, pendarahan sampe anemia, perubahan kondisi tubuh, dan berlangsung SETIAP BULAN selama kami masih belum mencapai menopause. Cowok yang berani bilang begini di depan gw selamanya bakalan gw anggap sampah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;If you want us to put the seat down when we're done, you should put it up when you're done&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sekali lagi mengenai dudukan toilet. Untungnya disini toiletnya bertipe jongkok karena wc duduk itu bukan budaya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Jadi gw nggak perlu ngebahas lebih lanjut, tapi buat yang penasaran, silakan baca buku “Why Men Lie and Women Cry” karangannya Allan dan Barbara Pease. Itu buku yang sangat bagus menurut gw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 26&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Don't tell us how cute your ex-boyfriend was. That doesn't turn us on&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Understand. Dan sebagai gantinya jangan ngomongin soal betapa cantiknya mantan pacarmu. Fair enough, right?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 27&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;And always remember: The way to a guy’s heart is through his stomach..... and maybe.... oh nevermind…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Udah tahu sekalipun nggak dibilang, Through sex. Yeah, ini budaya barat yang sudah merasuki anak muda &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. We all know about this jadi gw nggak perlu ngebahas lebih lanjut karena ada bahasan sendiri mengenai ini nantinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 28&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;NEVER ask us to kiss other guys. You might be that comfy with your friends, but to us it's just wrong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Iya… iya… makanya gw membanggakan hal ini sebagai kemenangan bagi para cewek. Kami bisa mencium teman-teman wanita kami sesukanya, bisa bergandeng tangan sesama cewek… dan masih banyak lagi hak-hak eksklusif cewek. Bahkan merupakan hal biasa bagi para cewek untuk memiliki koleksi celana lebih banyak daripada rok. Dimana cowok nggak mungkin melakukan hal sebaliknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 29&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;We always notice how funny it is after your rip out our heart, stick it down our throat and still want to be friends&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tidak semua cewek kayak gitu. Seenggaknya, gw nggak gitu. Dan sadar nggak hai para cowok, kalo kalian kerap melakukan hal yang sama pada kami para cewek? Well, gw mau bilang, alasan untuk ‘mempertahankan pertemanan’ adalah untuk tetap menjaga tali silaturahmi. Alasan yang sangat luhur, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Point 30 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;And last but not least: We know you're not always right, but we'll pretend like you are anyway.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Oke, poin terakhir yang harus dibahas… Oke, yang ini diterima deh. Tapi tetep, kalo emang kami salah, ya bilang aja salah. Kalo nggak suka, bilang keberatan sambil dicari jalan keluarnya. Jangan sampe nanti terakumulasi lantas jadi alasan buat memutuskan hubungan. Itu konyol namanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Yup… bahasannya sampe disini aja dulu. Dan gw bakal tetep nulis artikel-artikel kayak gini selama gw masih menemukan berbagai macam statement mengenai keegoisan laki-laki yang dipikir wajar selama ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Gw emang feminis, dan gw bangga jadi seorang feminis. Hidup emansipasi wanita yang bertanggung jawab!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-114975039854578289?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/114975039854578289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=114975039854578289' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/114975039854578289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/114975039854578289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2006/06/manifestasi-keegoisan-laki-laki-yang.html' title='Manifestasi keegoisan laki-laki yang mereka pikir adalah penghormatan bagi wanita.'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-113445344373155844</id><published>2005-12-12T21:54:00.000-08:00</published><updated>2005-12-12T21:57:23.740-08:00</updated><title type='text'>Solitaire Insanity</title><content type='html'>If it’s loneliness you seek&lt;br /&gt;If it’s lie you want to know&lt;br /&gt;It is reality you have to face&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kill yourself, the right way&lt;br /&gt;Kill someone else, to be your friend&lt;br /&gt;Cut thee tongue, don’t let them speak&lt;br /&gt;Cut your earlobe, you don’t want to hear&lt;br /&gt;The truth that cruel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leave this world, leave your sorrow&lt;br /&gt;Never see your behind, never see your below&lt;br /&gt;In front of the Hell Gate, force yourself to bow&lt;br /&gt;Knock the door, run quickly&lt;br /&gt;You’re just playing with the angel of death&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to earth, back to life&lt;br /&gt;This is not the world I demand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;27 November 2005&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;In between my boringness of the 'family events'.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-113445344373155844?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/113445344373155844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=113445344373155844' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113445344373155844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113445344373155844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2005/12/solitaire-insanity.html' title='Solitaire Insanity'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-113414895721342203</id><published>2005-12-09T09:20:00.000-08:00</published><updated>2005-12-09T09:22:37.233-08:00</updated><title type='text'>Untuk para laki-laki...</title><content type='html'>&lt;strong&gt;For All Men&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Girls… woman… lady… female… gadis….wanita… perempuan… cewek…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun nama dan sebutannya, berapapun usianya, di belahan bumi manapun, pada zaman apapun….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang pasti dialami oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus bersedia menderita demi laki-laki!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak penderitaan yang harus dialami oleh makhluk berjenis kelamin wanita. Sejak dia masih seorang gadis kecil hingga beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama dalam masyarakat kita yang menganut budaya patrilineal… entah atas dasar apa… mungkin karena kelamaan dijajah dan disuruh kerja paksa terus, para ancestor menganggap laki-laki lebih berguna karena tenaganya bisa dipakai… mental kuli terjajah… biasa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para wanitanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actually, sebenarnya mereka juga turut bekerja paksa… bahkan jumlah yang tewas lebih banyak daripada laki-laki. Tapi mau bagaimana lagi. Sejarah mencatat hanya bagian heroik dari perjuangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama Jendral, komandan perang, letnan, kolonel, pahlawan perjuangan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua nama laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kita juga mengenal beberapa nama-nama besar lainnya seperti Cut Nyak Din, Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu, R.A. Kartini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jumlahnya berapa persen sih, dari seluruh pahlawan yang kita kenal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya para wanita malas berjuang? Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak memiliki kesempatan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kuatnya tekanan budaya pada masa itu. Hanya sedikit sekali orang-orang yang mau menganggap wanita sejajar dengan pria. Jarang sekali ada orang-orang yang mau membuka pikirannya untuk sesuatu yang disebut kesetaraan gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana para wanita saat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah. Dipingit. Tidak boleh keluar. Tidak boleh bergaul. Hanya diam di rumah. Menerima didikan dari wanita generasi sebelumnya untuk meneruskan tradisi. Apa yang mereka dapatkan dirumah pingitan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengurus anak. Cara mengurus suami. Cara memasak. Cara menjahit. Cara merawat diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah. Yang mau dikedepankan dari bahasan panjang di atas adalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa para wanita harus bersedia menjalani seribu penderitaan demi laki-laki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sejak jaman dahulu para wanita harus terus-menerus melakukan hal yang sama? Tak peduli di belahan bumi mana dan bagaimanapun ritualnya, para wanita harus menjalani hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang dimaksud penderitaan di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu keharusan untuk menjadi sesuatu yang pantas dilihat oleh laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah… jumlah laki-laki dan wanita perbandingannya semakin jauh sekarang ini. Tak jarang ada fenomena ‘wanita harus bersaing untuk mendapatkan laki-laki’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu wanita harus bisa membuat dirinya layak untuk ditunjuk dan dijadikan pendamping oleh seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu banyak sekali ritual yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak jaman Cina kuno, siapa yang tak tahu anggapan bahwa kaki wanita yang mungil dianggap cantik? Karenanya begitu seorang bayi wanita lahir, maka orangtuanya akan langsung membebat kakinya agar tidak bertumbuh besar. Dan semakin dia tumbuh, dia akan dipaksa memakai sepatu besi agar kakinya tidak berkembang dari ukuran bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa menyakitkan. Dan hasilnya semua orang sudah tahu. Karena dianggap cantik, maka mereka akan dinikahi oleh para bangsawan, pejabat tinggi, atau mungkin anggota kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wanita bangsawan Cina  tidak ada yang sanggup berjalan kaki jauh. Mereka sendiri toh hanya berfungsi sebagai penerima tamu jika suaminya mengadakan pesta. Yang harus mereka lakukan hanya berdiri sebentar menyalami tamu, kemudian duduk kembali. Tak membutuhkan kaki yang kuat, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah demi itu maka penderitaan mereka bertahun-tahun bisa terbayar?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada lagi… di Vietnam… ada suku yang mengharuskan para wanitanya mengenakan gelang-gelang di leher untuk memperpanjang lehernya. Karena apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena leher yang panjang dianggap cantik disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil mereka harus mengenakan gelang berat yang terbuat dari metal. Setiap tahun gelang tersebut ditambah jumlahnya. Hingga akhirnya leher mereka menjadi panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang. Mereka dilihat sebagai orang yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi efek sampingnya apakah sebanding dengan predikat cantik yang didapatkan? Apabila gelang leher mereka dilepas, maka mereka tidak bisa berdiri tegak, harus tidur sepanjang hari. Karena apa? Karena tulang leher mereka tidak sanggup menahan beban kepala mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat tidak sebanding… apalah predikat cantik sementara jika dibandingkan derita yang harus ditanggung seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri bagaimana? Hohoho… disini lebih dahsyat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari rangkaian perawatan diri, luluran, spa, penggunaan korset, perawatan anu ini itu, perempuan harus bisa begini begitu, sampai dengan perempuan harus nurut kalau suami bilang begini begitu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya sudah tahu bagaimana penderitaan wanita Indonesia jaman kolosal dulu, jadi tidak usah dibahas disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan jaman sekarang? Jaman dimana emansipasi wanita sudah bergaung begitu keras. Jaman dimana bangsa ini bahkan pernah mengalami masa kepemimpinan wanita? Yang ternyata masih jauh lebih baik daripada kepemimpinan sang ‘Presiden berwibawa’ yang sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan dilihat dari luar memang jauh berbeda. Tapi dari dalam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para gadis dan wanita masih dikejar-kejar keharusan mempercantik diri dengan segala cara. Produk-produk kosmetik, pemutih kulit, shampoo pelurus rambut, alat-alat pelangsing tubuh, wah… segalanya bermunculan dengan kedok menawarkan bantuan untuk mengejar kecantikan, tetapi pada akhirnya membuat para wanita menjadi semakin terjebak dalam pengejaran kecantikan tiada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diri sendiri, memang. Tapi apa yang diinginkan pada ujung-ujungnya? Menarik perhatian laki-laki…&lt;br /&gt;Unsur psikologis dalam strategi penjualan dan periklanan memang berkembang sangat hebatnya. Pola pikir dan cara pandang bisa diubah dengan mudah. Sekarang ini hampir semua iklan kosmetik dan produk apalah menggunakan wanita-wanita ‘cantik’ dalam promosi mereka, karena apa? Karena itu jaminan bahwa produk mereka akan terjual. Nah, apa sih definisi cantik bagi orang Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi langsing, kulitnya putih, rambutnya lurus panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuck off.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba, SEMUA iklan produk kecantikan pasti memasang model yang seperti itu. Karena apa? Karena tingkat pendidikan orang Indonesia memang masih mudah diarahkan. Dengan memakai produk lotion pemutih tertentu, maka langsung ada laki-laki yang jadi secret admirer, ngirim puisi, bunga, dan memuji ‘putihnya sempurna’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dengan memakai shampoo tertentu bisa meluruskan rambut selurus-lurusnya lurus. Dan yang dipakai pun model ‘cantik’ berambut panjang lurus sepantat. Asal tahu aja, semua iklan shampoo, rambut sang model dibuat lurus sempurna dengan sentuhan komputer. Pengerjaannya di Bangkok. Gw bisa ngomong gini karena gw cukup beruntung berada di antara orang-orang bidang periklanan yang sering ngasih bocoran tentang kerasnya persaingan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit putih mulus bebas jerawat… rambut panjang lurus berkilau…  maaf ya, itu semua hasil tipuan komputer. Bukan nggak mungkin kalo wajah aslinya sang model justru penuh jerawat atau rambutnya justru megar kayak kuntilanak! Sayangnya, mata memang indra yang paling mudah untuk ditipu, dan yang paling dipakai oleh manusia untuk meyakini sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah bagi mereka yang memang keturunan kulit putih dan berambut lurus, lah, gimana sama mereka yang memang sudah berkulit gelap dan berambut keriting ‘dari sononya’? Apakah itu berarti mereka tidak cantik? Siapa yang berani bilang seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada memang, karena bisa terkena kasus rasialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan terus menerusnya pemakaian model ‘cantik’ di setiap media, maka opini masyarakat sudah terbentuk. Para wanita telah terkurung dalam doktrinasi bahwa ‘cantik’ itu adalah yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan mode semakin menggila. Ketika rambut panjang lurus digemari, teknologi rebonding dan hair extension laku keras disana-sini. Semua ramai-ramai menghabiskan uang dan waktu mereka di salon. Mengejar kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya… wanita bertubuh langsing dan semampai juga menempati urutan teratas kriteria cantik yang diinginkan. Setiap laki-laki mutlak menginginkan yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu terapi pelangsingan tubuh juga jadi laku keras.&lt;br /&gt;Tempat-tempat latihan body language selalu penuh. Terapi-terapi pelangsing seperti mandi sauna, Marie France, produk pelangsing tv media juga banyak diserbu. Bahkan sampai terapi menyakitkan seperti sedot lemak juga dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mengejar kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak yang harus dilakukan wanita demi mengejar kecantikan. Apakah sebanding dengan apa yang mereka dapatkan? Sekalipun semuanya sadar kalau kecantikan non-alami hanya akan bertahan sementara, toh mereka tetap dengan rela mau menjalani semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, apakah para laki-laki bersedia melakukan hal yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t ask me, of course I’m on the female side with my all. But I’ll try to be neutral here.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Laki-laki sekarang sudah banyak berubah. Mereka kini bersedia untuk melakukan hal yang sedikit banyak sama dengan apa yang dilakukan para wanita. Masalahnya, ada berapa persen dari total keseluruhan laki-laki yang bersedia melakukan hal itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para laki-laki sendiri masih banyak yang menganggap remeh sesamanya yang penganut metroseksual. Merawat diri masih dianggap sebagai hal yang diperuntukkan bagi para wanita, atau banci. Sehingga mereka kebanyakan masih gengsi untuk mau melakukan hal yang sama dengan alasan tidak ingin terlihat sebagai banci, tidak terlihat macho, atau alasan-alasan tidak logis lainnya. Meskipun ujung-ujungnya alasan yang sebenarnya hanya satu, yaitu kemalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kami para wanita akan sangat senang berada di dekat laki-laki yang berpenampilan rapi, wangi, dan enak dilihat. Meskipun banyak juga wanita yang bersedia menerima laki-laki macam apapun dengan ‘apa adanya’, meskipun kenyataannya mereka sendiri tidak dapat tampil ‘apa adanya’ karena tuntutan ‘kecantikan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay, I think I’ve been talking too much. How about yourself, hey author?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah…I am the victim of ‘th doctrine of beauty’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun tidak secara berlebihan dan mati-matian mengikuti standar ‘cantik’, setidaknya… yeah… I did some of the treatment, like …I wore something called ‘corset’ since I’m on senior high school, until now, and I guess it’ll lasts for more years…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m lucky enough to have fair skin, but sometimes it get burned if I stay outside too long. And I have to wear long-sleeves shirt or jacket for months after that and bathing in milk scrub every two days in order to bring back the original color. Tidak menyenangkan untuk dijalani, memang. Tapi harus. Karena apa? Silahkan baca paragraf mengenai syarat kecantikan di indonesia di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, I know that I’m not in the list of pretty women here. But I guess, there’s another point of beauty that only few people understand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brain. Otak. Isi kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan dunia barat, para wanita berambut pirang identik dengan kecantikan tak berotak. Di sana memang sangat ekstrim. Wanita hanya memiliki dua pilihan, brain or beauty. Dan ironisnya, sekalipun disana orang-orangnya memiliki pikiran yang lebih beres dibandingkan di Indonesia sini, kenyataannya mereka toh masih banyak yang memilih beauty dibanding brain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin itu karena para laki-laki di manapun akan selalu lebih memilih beauty daripada brain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At least, I’ve choosed brain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja para model-model terkenal di Indonesia sini. Mereka rata-rata mementingkan karir daripada otak. Dan tak hanya berlaku bagi para model wanita, termasuk juga para laki-laki. Lihat Samuel Rizal, aktor idola remaja nan terkenal. Karena silau dengan tampang dan bentuk fisiknya, orang-orang seakan tidak mau tahu kenyataan bahwa dia ‘Cuma’ lulusan SMU. Kasus yang sama juga ada pada pesinetron Anjasmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang lebih menyedihkan lagi, mengenai ego laki-laki yang sulit menerima jika kalah dari wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, budaya paternialistik kita mengharamkan laki-laki untuk kalah dari wanita. Laki-laki dilarang menangis, dilarang bersikap lembut, dan jika diungguli oleh wanita, maka ucapan “Masa kamu kalah sama perempuan!” akan diterima dari sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya para laki-laki akan dengan senang hati mencari wanita yang cantik, tidak perlu pintar, karena kalau pintar nanti malu sama orang bisa diejek. Lagipula kalau dapatnya yang pintar nanti bisa-bisa segala kendali dipegang oleh wanitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay, I know exactly, not ALL men are like that. Laki-laki dengan tingkat pendidikan tinggi jaman sekarang ini rata-rata lebih mementingkan wanita yang berpendidikan pula, dan dengan kepribadian yang baik dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayangnya, yang memiliki pandangan seperti itu hanya beberapa persen populasinya dari seluruh laki-laki di negeri ini, bahkan di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya satu. Selamanya para wanita akan terjebak dalam keadaan mengejar kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well.. just my thought… better ends here or this is going to be a novel…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-113414895721342203?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/113414895721342203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=113414895721342203' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113414895721342203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113414895721342203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2005/12/untuk-para-laki-laki.html' title='Untuk para laki-laki...'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-113117184601526436</id><published>2005-11-04T22:19:00.000-08:00</published><updated>2005-11-04T22:24:06.026-08:00</updated><title type='text'>Reading Minds, is it good? Or not?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Apa yang akan kamu lakukan apabila memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain? Apa kamu akan bersyukur pada Tuhan, lalu memanfaatkannya sebaik mungkin? Cara memanfaatkan seperti apa yang akan kamu pilih? Jalan yang aman seperti :&lt;br /&gt;-         Menjadi seorang psikolog perkawinan?&lt;br /&gt;-         Menjadi seorang interogator?&lt;br /&gt;-         Menjadi seorang investigator?&lt;br /&gt;-         Menjadi teman curhat setiap orang dan mendamaikan mereka apabila ada yang berselisih karena kamu bisa melihat dari sudut pandang setiap orang?&lt;br /&gt;-         Menyerap ilmu dari setiap guru besar di seluruh dunia dengan membaca pikiran mereka dan mengingatnya di otakmu sehingga kamu jadi pintar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kamu akan menjadi seorang :&lt;br /&gt;-         Paparazzi infotaintment brengsek yang mengetahui rahasia terdalam setiap selebriti dan memanfaatkannya untuk mendulang keuntungan?&lt;br /&gt;-         Mengetahui rahasia negara dan menjualnya ke negara lain demi uang?&lt;br /&gt;-         Menjadi dewa judi di las vegas karena kamu sudah bisa membaca langkah lawanmu pada setiap permainan?&lt;br /&gt;-         Menjuarai turnamen The King of Fighter dengan mudah karena kamu bisa mengetahui jurus yang akan dikeluarkan oleh lawanmu berikutnya?&lt;br /&gt;-         Mencuri ide brilian seseorang dalam rapat dan langsung menyatakannya seolah itu idemu dan apabila berhasil maka kamulah yang dipuji?&lt;br /&gt;-         Mencari tahu siapa orang-orang yang naksir kamu dan memanfaatkan hal itu untuk mencari popularitas sebagai playboy atau playgirl?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, ada sangat banyak pemanfaatan dari kemampuan ini yang bisa kamu manfaatkan sesukamu. Tidak peduli apapun jalan yang kamu pilih, toh ini hidupmu, kamulah yang diberi kemampuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, pernahkah kamu menempatkan diri pada sudut pandang orang-orang yang memiliki kemampuan seperti itu? Pernahkah kamu berpikir mengenai apa yang mereka rasakan dengan memiliki kemampuan itu? Mungkin terdengar seru, bisa membaca pikiran orang lain bukankah berarti tidak ada orang yang bisa berbohong padamu? Asyik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacarmu tak bisa berkelit saat kau sengaja memergoki dia sedang main game di mall saat dia harus mengantarmu pulang. Rekan bisnismu tak akan bisa menipumu karena kau sudah tahu niat busuknya sejak kalian berjabat tangan untuk pertama kalinya. Temanmu tak bisa berbohong kalau dia hendak selingkuh dengan pacarmu. Kamu bisa menghindar lewat gang samping sekolah karena dari jauh kamu sudah tahu bahwa anak-anak yang nongkrong di situ berniat untuk menghajar siapapun yang lewat di gang itu. Enak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang harus direnungkan, apa tanggapan orang-orang di sekitarmu apabila mereka tahu kalau kamu memiliki kemampuan membaca pikiran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada orang yang mau pikirannya dibaca oleh orang lain. Karenanya hal termudah yang akan mereka lakukan adalah menjauhimu. Tidak ingin berteman denganmu. Tidak ingin berada di dekatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang akan bersikap hati-hati saat berada di dekatmu. Mereka akan berbisik satu sama lain saat kamu lewat dan kamu tahu pasti kalau mereka membicarakanmu. Mereka akan memandangmu penuh curiga, dan apabila kamu salah berkata sedikit saja maka mereka akan panik dan membentakmu, menyalahkan kemampuanmu itu padahal kamu tidak atau tidak ingin memakainya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya hal pertama yang akan dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan ini adalah merahasiakannya dari orang lain. Biasanya mereka akan lebih memilih menderita sendirian, berpura-pura memakai topeng, berpura-pura tidak tahu apa-apa mengenai kebusukan orang lain, bersikap tidak mengerti mengenai plot yang direncanakan orang lain. Bahkan terkadang mereka harus mengorbankan diri untuk terbawa dalam segala hal yang sebenarnya bisa dihindari dengan kemampuannya, atas dasar karena mereka tidak ingin dijauhi, tidak ingin dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik menderita dalam kebohongan daripada menderita dalam kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa para pembaca pikiran cenderung memilih seperti itu? Karena ada yang bisa mereka dapatkan dari menderita di tengah kebohongan. Manusia akan menyukai orang-orang yang bisa dibohongi. Mereka menyukai orang-orang yang bisa diatur dalam permainan mereka. Para manusia dengan kemampuan membaca pikiran akan dengan suka rela membiarkan dirinya dibohongi, asalkan mereka tidak ditinggal di dalam kesendirian. Mereka bisa menerima kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal manusia, dunia, kehidupan, semuanya tidak ada yang lepas dari kebohongan. Kecuali mungkin dalam hal-hal yang bersifat surgawi, akan tetapi sekarang ini sudah tidak bisa diketahui lagi yang mana yang betul dan yang mana yang salah. Semua serba abstrak. Semua penuh kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya memiliki kemampuan membaca pikiran dalam dunia yang penuh kebohongan ini adalah suatu anugerah. Tetapi sayangnya, tidak begitu jika dilihat dari sudut pandang mereka yang diberi anugerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu bahwa mengetahui kenyataan kalau seseorang berbohong langsung di depan kita itu sangat menyakitkan? Coba andaikan dirimu bisa membaca pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui kenyataan yang disembunyikan, bukanlah hal yang selamanya menyenangkan. Tidak enak rasanya kalau kita tidak bisa menikmati serunya kejutan ulang tahun yang diadakan oleh keluarga dan teman-temanmu karena kamu sudah mengetahui rencana mereka seminggu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak enak juga rasanya mengetahui kalau kenyataan yang disembunyikan adalah kenyataan yang sangat fatal dan krusial. Terlebih apabila si pembohong tidak ingin kebohongannya diketahui olehmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu sebagai seorang pembaca pikiran, dihadapkan oleh dilema. Di satu sisi kamu ingin berontak dan membongkar kebohongan mereka, terlebih apabila mereka merencanakan suatu hal yang menurutmu tidak baik. Dan di lain pihak, kamu tahu kalau kamu akan kehilangan seorang teman apabila kamu melakukannya, dan jika dengan diam kamu tidak merusak apapun, maka mungkin kamu akan mengambil langkah yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacarmu berbohong padamu kalau ia pergi kuliah, padahal ia hanya tidur dan bermain game di rumah. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa karena kamu tidak punya bukti. Apabila kamu mengatakan bahwa kamu tahu kebohongannya, maka dia akan meninggalkanmu karena setiap manusia tidak akan suka berada di dekat orang yang tahu kebohongan yang mereka buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika kamu diam saja, apa yang akan terjadi? Pacarmu DO. Dan pada saat itu kamu tidak bisa berbuat apapun. Kamu akan dihantui oleh penyesalan, dan tidak bisa berbuat apa-apa karena pacarmu itu masih tetap berbohong padamu saat kamu bertanya kemana saja dia selama ini. Perasaan saat menghadapi hal-hal seperti itu tidak akan bisa dimengerti oleh orang-2 yang tidak bisa membaca pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu seharusnya bisa melakukan sesuatu. Tetapi tidak bisa, karena ada seseorang yang tidak ingin kamu mengetahui sesuatu. Batasan yang ada begitu sempitnya, padahal begitu banyak yang kamu bisa perbuat untuk melakukan hal yang lebih baik andai saja kamu bisa menembus batasan yang ada dengan mengambil resiko besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pasti setuju, bahwa dibohongi itu adalah hal yang menyakitkan. Dan semua orang tidak menyukai pembohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu memang, karena pada kenyataannya setiap manusia di muka bumi ini pasti pernah tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Bukankan mereka seharusnya membenci diri sendiri jika mereka mengatakan tidak suka pada pembohong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kamu lakukan jika kamu menemukan korban pembunuhan, tanganmu berlumuran darah, orang-2 di sekitarmu memandangmu dengan mulut terkunci, tetapi dalam hati mereka menuduhmu sebagai sang pembunuh? Suara-suara mereka akan bergema di dalam kepalamu, membuatmu berteriak bahwa bukan kamulah pembunuhnya. Tetapi berikutnya kamu tahu kalau itu tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang yang bisa membaca pikiran, hidup selalu merupakan pilihan yang berat. Tidak banyak yang mampu bertahan dalam keadaan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan nasib mereka? Apakah mereka dengan sendirinya juga dibekali kemampuan membebalkan diri terhadap kebohongan? Akankah mereka disebut hebat karena mereka sanggup menghadapi kenyataan bahwa mereka dibohongi berkali-kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak. Lalu apakah kenyataan bahwa mereka seharusnya lebih kesakitan daripada orang biasa akan membantu mereka untuk diterima di masyarakat setelah semua orang tahu mengenai kemampuan dirinya? Sepertinya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu adakah tempat bagi orang-orang seperti mereka di masyarakat? Haruskah mereka tetap dalam kehidupan mereka yang sekarang ini? Ataukah sebaiknya semua manusia memiliki kemampuan membaca pikiran? Jadi dunia akan begitu bersih karena tidak ada orang jahat? Setiap orang yang memiliki pikiran jahat akan dihukum mati sehingga tak ada orang yang berani berpikir jahat karena toh semua orang pasti akan tahu niat busuknya. Apakah ini bisa menjadi jalan keluar menghadapi bobroknya keadaan dunia sekarang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No one knows, actually… Being a mind reader means every story is fiasco.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-113117184601526436?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/113117184601526436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=113117184601526436' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113117184601526436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113117184601526436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2005/11/reading-minds-is-it-good-or-not.html' title='Reading Minds, is it good? Or not?'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18612702.post-113103988516762121</id><published>2005-11-03T09:40:00.000-08:00</published><updated>2005-11-03T09:44:45.173-08:00</updated><title type='text'>First Post...</title><content type='html'>Nah...nah... baru bikin nih... 4 November 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post pertama jelas nyampah dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini blog kedua gw, yang pertama di friendster, alamatnya &lt;a href="http://hacques.blogs.friendster.com/keseharianku/"&gt;http://hacques.blogs.friendster.com/keseharianku/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disitu khusus buat diary kehidupan sehari-hari gw, dan yang ini mau gw pake buat naro artikel-artikel tulisan gw. Apapun isinya. Gw mau bikin blog bertemakan love melulu, cuma, linknya agak norak yah namanya? Biarin deh, biar gw gampang ingetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk ah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18612702-113103988516762121?l=nitacool.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nitacool.blogspot.com/feeds/113103988516762121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18612702&amp;postID=113103988516762121' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113103988516762121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18612702/posts/default/113103988516762121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nitacool.blogspot.com/2005/11/first-post.html' title='First Post...'/><author><name>Hacques</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00283334770519597745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
